
Membatasi Diri
Aku meninggalkan Pras. Ah…aku merasa beruntung, aku datang ke cafe ini sendirian. Aku segera menuju motorku terparkir.
“Mbak, maafkan saya ya. Saya kebangetan bercandanya…” Pras sudah berada di parkiran juga. Aku tersenyum. Tak ada kata yang keluar dari mulutku.
Aku menunggu petugas parkir untuk membantu mengeluarkan motorku. Kuserahkan uang untuk parkir.
“Nggak ada kembalian, mbak…”
“Ambil saja, pak. Oh iya. Masnya itu sekalian bayar parkirnya pakai uang itu…”
Petugas parkir itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Sesaat aku melihat ke arah Pras.
“Saya permisi…”
***
“Ayah, mulai besok kalau ke lapangan cukup aku sendiri. Tak perlu ditemani siapapun…”
“Ada apa, Ajeng? Tiba-tiba kamu minta seperti itu…”
Aku merayu ayah. Aku tak mau menjadi duri bagi hubungan siapapun. Aku sudah tahu rasanya disakiti, tak mungkin aku tega menyakiti perempuan lain.
“Ada yang terganggu, yah. Kekasih mas Pras…”
“Oh… begitu…”
Kami diam. Sibuk dengan pikiran kami.
“Sebenarnya bisa saja, Jeng. Tapi satu- satunya cara ya Pras tak jadi pegawai biasa lagi…”
Aku bahagia mendengar penuturan ayah.
“Bahkan kalau mas Pras menjadi jajaran pimpinan pun tak apa, yah…”
“Ya nggak bisa secepat itu, Jeng…”
“Jadi…?”
“Ayah pikir dulu ya, nak…”








Jgn lama lama mikirnya ya , yah….
Sdh pingin tau lnjutan cerita ajeng