Ending Novel Novelis (6)

Peristiwa yang Mempertemukan dengan Pras 

Novel novelis
Ilustrasi: dokpri

Aku meninggalkan ruanganku. Segera aku menuju ruangan ayah. Ayah sudah menungguku.

“Ada apa, ayah?”

“Kamu ke lapangan ya, Jeng.”

Aku terbelalak. Arti perintah Ayah, aku harus berpanas ria di luar sana.

“Ayah, kenapa aku? Bawahan ayah kan banyak yang bisa…”

“Iya. Tapi kamu belajar, Ajeng.”

Tok…tok…tok. pintu ruangan ayah diketuk dari luar.

“Pasti Pras. Dia akan mengajarimu di lapangan.”

“Ya, masuk…”

Ayah mempersilakan. Masuklah lelaki tinggi besar yang wajahnya… oops. Wajahnya mirip mantanku. Atau memang dia? Kulihat dengan seksama. Iya, dia mirip. Oh, my God. Kenapa ada orang yang sama muncul di depanku.

“Ayah, apa tak ada yang lain?”

“Haah.. Yang lain?”

Kuanggukkan kepala.

“Ada. Tapi sudah terlanjur kuminta ke tempat lain…”

Aku kecewa. Aku benar- benar shock. Aku ingin keluar ruangan, tapi ditahan ayah.

“Pras, ini anak saya. Ajeng namanya…”

Lelaki itu mengulurkan tangannya. Dengan ragu- ragu kusambut uluran tangannya. Dalam hati aku bersyukur, lelaki itu bukan mantanku!

Ayah segera memberi penjelasan pada Pras.

“Bagaimana, Ajeng. Kamu paham kan?”

Aku tak paham. Kugelengkan kepalaku. Ayah dan Pras tertawa kecil.

“Tak apa. Kamu berguru sama Pras. Dia cepat menguasai tugasnya. Pasti dia bisa mengajarimu…”

Kalau dia bisa menguasai tugasnya, kenapa bukan dia saja yang melanjutkan perusahaan?, protesku dalam hati. Kuharap dia tak menguasai hatiku meski memang dia termasuk pegawai ayah yang cerdas. Pikiranku kembali aneh! Ah sudahlah!

Kami segera keluar ruangan. Menuju tempat parkir. Aku mau menuju ke mobilku terparkir tapi ditahan Pras.

“Mbak, bukan pakai mobil. Tapi motor…”

Aku terkaget.

“Tempatnya bisa dicapai dengan motor…”

Aku tercengang. Tempat apa yang dimaksud ayah. OMG! Panas seperti ini kenapa tak bermobil?

“Kalau bermobil nanti kita jalan, 5 kilometer…”

Mataku terbelalak. Pras tersenyum. Dia melihat penampilanku.

“Lain kali kenakan pakaian yang nyaman buat ke lapangan, mbak…” bisik Pras.

Aku keki sendiri. Kukira Pras mau bilang kalau penampilanku oke. Ternyata. Huh!

Kubuang mukaku. Dia tuh siapa sih? Beraninya ngatur- ngatur aku! Awas saja, pasti dia akan terpesona dan mencintaiku, dan dia akan gigit jari karena pasti aku tak suka orang seperti dia! Orang yang mirip mantanku!

Tinggalkan Balasan