
Aku pernah bertanya kepada mas Lamaj. Bukan pertanyaan yang begitu penting. Namun, kukira berdiskusi dengan seorang dosen bisa menambah ilmuku. Terutama dalam urusan persyarikatan. Meski aku harus mengernyitkan dahi saking tak paham dengan balasannya. Atau malah kadang chat malah jadi ngalor-ngidul. Hehehe.
“Aku pernah dikirimi tulisan mas Lamaj tentang Kajian Malam Sabtu. Tapi isinya ringkas banget. Kalau nggak salah yang ngisi kajian itu mas Muksal. Bukan mas Rizal. Hehehe.” Ceritaku kepada mas Lamaj.
“Iya, Ibu Hida. Mas Muksal pernah jadi pemateri tentang pendidikan. Maafkeunlah keringkasanku,” Balasnya.
“Berarti mas Lamaj sekretaris gitu ya?”
“Sekretaris dadakan kala itu, Ibu Hida.”
Memang ulasan dari Kajian Malam Sabtu beberapa kali dipublikasikan di Kompasiana.
“Atas perintah bang Rizal itu, Ibu Hida.” Begitu cerita mas Lamaj saat memposting isi Kajian Malam Sabtunya.
Iseng-iseng aku bertanya, apakah seniornya sudah mengisi kajian Malam Sabtu.
“Bang Rizal belum mau turun gunung, Ibu Hida. Uhuk.”
“Sudah kudugaaa,” komentarku singkat.
“Ibu Hida peramalkah?” Tanya mas Lamaj sambil mengirimkan emoticon tersenyum.
“Sudah dikit hafal sama beliau,” balasku. Kusambung lagi dengan chat, “Soalnya beliau yang ngerjain buku Emak-emak dulu,” jelasku.
“Aku justru enggak hapal Bang Rizal, Ibu Hida. Hahaha.”
Rupanya mas Lamaj mengira kalau aku benar-benar hafal dengan mas Rizal. Padahal nggak sama sekali. Kan aku cuma mengenalnya di dunia maya. Jadi aku cuma berasumsi dari beberapa kali berkomunikasi dengan mas Rizal.
“Hafal kalau sulit didebat, mas!” Balasku mengakhiri chat hari itu.
Branjang, 2 Agustus 2022














