Ending Novel Novelis (22)

Cover by Ajinatha

Prosesi Ijab Kabul Pernikahan Rindu 

Ijab kabul Rindu dan lelaki pilihan orangtuanya telah terlaksana. Perasaan haru biru di hati Rindu. 

Dia tak kuasa membendung air matanya. Rasanya belum lama dia merasakan kasih sayang orangtua, digendong, dibelai. Belum lagi dia berpikir bahwa dia telah membahagiakan kedua orangtuanya ataukah belum. 

Diingatnya saat orang tua memberi nasehat, marah ketika Rindu melakukan sebuah kesalahan. Ayah ibu Rindu berprinsip bahwa anaknya tak boleh kesusahan.  

Kini akan dilaksanakan prosesi resepsi pernikahannya. Semula Rindu menolak resepsi atau ewuh gedhen. 

“Ngapa to, ndhuk. Wis ora papa. Resepsi nganggo adat Jawa ki akeh maknane…”

Orangtua Rindu ingin lebih mengenalkan makna tiap prosesi resepsi. Itu sangat bermanfaat bagi Rindu dan menantunya untuk mengarungi bahtera hidup rumah tangga.

Semalam sudah dilalui acara malam midodreni setelah acara siraman. Siraman yang dilakukan oleh tujuh orang yang akan menyiramkan air kepada Rindu. Maknanya adalah “pitu” yaitu pitulungan (pertolongan) kepada calon pengantin. Rindu memahami sedikit demi sedikit rangkaian prosesi tadi.

Aku pun belajar tentang filosofi pernikahan ala adat Jawa itu. Ternyata sungguh luar biasa makna filosofinya. 

Perihal hidup berumahtangga diajarkan secara halus agar mudah sampai ke hati si pengantin dan pasangan suami istri yang menyaksikannya pun selalu diingatkan agar menjaga rumah tangganya.

Selanjutnya malam midodareni yang telah dilalui bermakna  sebagai malam yang baik yang dimaknai dan simbol turunnya para bidadari. 

Tinggalkan Balasan