Makan
Setiap manusia memiliki kompetensi, kemampuan maupun kecakapan hidup. Demikian pula bagi penyandang kebutuhan khusus. Termasuk pula penyandang tunanetra.
Kebanyakan dari kita pasti akan memandang penyandang disabilitas dengan rasa kasihan atau iba. Sehingga kita lebih sering melayani apapun yang dibutuhkan si penyandang tunanetra. Entah ketika makan, minum, mandi dan sebagainya.
Padahal hal seperti itu sangat tidak mendidik, terutama untuk anak tunanetra usia sekolah. Sejak usia dini sebaiknya juga dikenalkan untuk kemandirian si anak. Mereka tidak butuh dikasihani, tetapi diberi pelajaran berharga untuk masa depannya.
Lalu, apa saja yang harus diberikan untuk anak tunanetra? Mari kita perhatikan dari kegiatan makan dan minum bagi anak tunanetra.
Sejak usia kecil, biasakan anak tunanetra untuk mau belajar makan sendiri. Meskipun mungkin akan belepotan ketika makan.
Ketika anak tunanetra sudah bisa diarahkan, maka ketika akan makan, orang tua atau pendamping awas harus mengarahkan letak-letak makanan di atas piringnya. Nasi, sayur, lauk pauk, dan sebagainya. Berikan informasi tentang hal tersebut agar anak lebih mudah untuk makan.
Ketika anak sudah mengenal jam, maka dapat menjelaskan letak-letak makanan sesuai angka pada jam dinding. Misalkan nasi diletakkan di tengah piring. Ikan di jarum jam 12. Sayur di jarum jam 2. Tempe atau tahu di jarum jam 10.
Begitu pula air minum. Beritahulah anak di mana letak gelas di atas meja makan. Berada di sebelah kanan atau kiri dari piringnya.
Bagi anak yang telah mengetahui letak jarum jam, dapat diinformasikan letaknya di arah jarum 3 sebelah piring.
Pada awalnya tentu akan sulit untuk dilakukan oleh anak tunanetra, tetapi anak akan terbiasa dengan hal tersebut. Dan lebih pentingnya, anak tidak akan terus-terusan dilayani oleh orang tua atau pendamping awasnya.







