Moderasi Beragama Versus Visi Pesantren

Terbaru71 Dilihat

Di negeri ini terdapat banyak pondok pesantren, terutama di pulau Jawa. Awalnya, pesantren berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yakni di Dirjen Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpdpontren).

Namun kini pesantren meliliki  dirjen khusus yaitu Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren.
Lahirnya ditjen ini dianggap sebagai kado spesial Perayaan Hari Santri 2025
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i di Antara Heritage Centre (AHC), Jakarta pada Kamis (Antara News, 25-9-2025).

Mantan Menag Lukman Hakim Saifuddin menegaskan relevansi pembentukan Ditjen Pesantren sebagai kebutuhan negara dalam menjaga dan memperkuat moderasi beragama sekaligus mendukung kemandirian pesantren. Menurutnya, negara berkepentingan memastikan pemahaman keagamaan mayoritas. warganya tetap moderat.  (kemenag.go.id, 25-9-2025).

Membawa kepada kebaikan atau justru menyeret pada ke mudharatankah bila diberikan pandangan moderasi beragama pada dunia pesantren? Tulisan ini berusaha memberikan jawaban.

Proyek Barat

Pemikiran moderasi bukan ajaran Islam  karena ia lahir dari rahim sekularisme. Gagasan moderasi beragama idak berkaitan dengan fungsi strategis pesantren sebagai poros dakwah perjuangan Islam oleh ulama dan santrinya

Moderasi  merupakan proyek global Barat untuk mencegah kebangkitan Islam. Melalui moderasi, Barat berupaya mengerdilkan ajaran Islam sebagai ideologi. Tujuannya agar Islam hanya sebagai agama ritual semata yang tidak mumuat keharusan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Barat menvinginkan lahirnya individu muslim moderat yang menerima pemikiran Asing seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme yang menjauhkan peran agama dari kehidupan.

Barat memberikan dukungan yang luas untuk proyek moderasi  dengan dana dan memberi panggung bagi tokoh yang menjadi corongnya. Barat  mendukung apapun kelompok moderat ini dalam  menampilkan wajah Islam sekuler.Tujuannya untuk  memunculkan keragu-raguan umat tentang ajaran Islam dan mengikis kebanggaan terhadap Islam dan

Oleh karenanya, ironis jika negeri muslim ini ikut latah  mengadopsi  moderasi dan membesarkan opini tentangnya. Apalagi dengan menjadikan moderasi sebagai program yang dilekatkan dengan dunia pesantren. Namun mirisnya, tidak sedikit ulama yang ikut menyuarakan moderasi, perkara yang mestinya ditolak karena memang bukan ajaran Islam.

Penggeseran Orientasi Pesantren

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang berakar pada tradisi ulama dan santri. Orientasi pesantren  sangat , visioner dan strategis. Lembaga pesanten bertujuan mencetak ulama warasatul anbiya’ yang berkepribadian Islam, menguasai ilmu agama, tangguh dalam dakwah. Juga aktif melakukan koreksi terhadap  penguasa agar pemimpin terus berada dalam jalur rakwa  dan benar dalam mengurusi urusan rakyat.

Dari pesantren lahirlah tokoh ulama besar yang perhatian terhadap  masa depan generasi  Kiai Hasyim Asy’ari  contohnya, yang mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang pada 1899. Beliau kemudian membentuk Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. Beliau adalah penyeru   Resolusi Jihad untuk melawan kafir penjajah.

Tokoh ulama seperguruan Kiai Hasyim Asy’ari di Makkah, yaitu Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau dikenal sebagai pendiri pusat pendidikan Islam yang hingga kini terus berkembang.

Dalam perjalanan sejarah negeri yang penuh dinamika, kehadiran pesantren dirasakan begitu nyata. Kiprah pesantren jauh dari orientasi  materi. Langkah perjuangannya  semata demi meninggikan agama Allah, mencerdaskan umat dengan Islam, menyeru pada ketaatan syariat-Nya. Pesantren juga memiliki misi membangun kepedulian umat terhadap persoalan negerinya.

Namun, seiring menguatnya dominansi penjajahan kapitalisme sekuler di nusantara,  pesantren pun tidak luput dari serangan pemikiran sekuler. Berbagai program berbau sekuler terus dirancang untuk menyudutkan ajaran Islam.
Langkah mengebiri kesempurnaan Islam, melemahkan peran strategis ulama dan santri, serta menggeser arah perjuangan. Dan kini, moderasi beragamapun masuk dalam kurikulumnya. Menjadi topeng bagi masifnya sekularisasi lewat pesantren.

Sudah waktunya umat sadar bahwa ide dan pemikiran asing telah masuk dalam tubuh umat. Tidak hanya lewat kurilulum sekolah formal namun juga melalui lembaga pesanten.

Tinggalkan Balasan