
Buku, Reportase, dan Tiga Pena
Alhamdulillahirabbil ‘alamin.
Rasa syukur menyelimuti hati ketika melihat buku Prabowo Presidenku dipajang pada Galeri Presiden ke-8 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Medan Merdeka Selatan, Jakarta.
Buku diterbitkan Partai Gerindra tahun 2013 itu menjadi saksi bahwa tulisan yang lahir dari ketekunan dapat menempuh perjalanan panjang dan menemukan tempatnya dalam sejarah literasi bangsa.
Isi buku tersebut merupakan kumpulan tulisan yang saya buat ketika mengikuti berbagai kegiatan Bapak Prabowo Subianto. Sebagian besar naskah itu terlebih dahulu dipublikasikan di Kompasiana.com.
Saya menulis bukan untuk membangun opini yang menghakimi, melainkan merekam peristiwa, suasana, dan fakta yang saya saksikan secara langsung.
Karena itulah bentuk tulisan lebih banyak berupa reportase daripada komentar.
Dalam dunia literasi, saya berpegang teguh pada motto Tiga Pena: Penasehat, Penakawan, dan Penasaran. Ketiga nilai itu menjadi kompas dalam setiap tulisan.
Pena harus mampu memberi nasihat yang menyejukkan, menjadi kawan yang menghadirkan kebersamaan, serta tetap memiliki rasa ingin tahu agar terus mencari kebenaran.
Objektivitas adalah prinsip yang selalu saya jaga. Sebagai penulis, saya menyadari bahwa setiap orang boleh memiliki pandangan, tetapi tulisan akan lebih bernilai apabila berpijak pada fakta.
Saya berusaha memihak kepada kebenaran berdasarkan fakta, bukan kepada kepentingan sesaat. Dengan demikian, pembaca diberi ruang untuk menilai dan mengambil hikmah secara mandiri.
Pengalaman mengajarkan bahwa sebuah reportase yang ditulis dengan jujur akan memiliki nilai sejarah.
Ketika waktu berlalu, tulisan itu berubah menjadi dokumentasi yang dapat dibaca kembali oleh generasi berikutnya.
Itulah sebabnya saya selalu berusaha mencatat peristiwa secara cermat, karena apa yang hari ini menjadi berita, esok hari dapat menjadi sejarah.
Melihat buku Prabowo Presidenku berada di Galeri Presiden ke-8 Perpustakaan Nasional merupakan kebahagiaan tersendiri.
Bukan semata-mata karena nama penulisnya terpajang, melainkan karena karya literasi mendapat kesempatan menjadi bagian dari arsip perjalanan bangsa.
Semoga hal ini memotivasi para penulis untuk terus berkarya dengan kejujuran, tanggung jawab, dan semangat mengabdi melalui tulisan.
Akhirnya, saya meyakini bahwa pena yang digunakan dengan niat baik akan meninggalkan jejak yang bermanfaat.
Menulis adalah ibadah intelektual, membaca adalah jendela peradaban, dan berbagi ilmu adalah amal yang tak lekang oleh waktu.
Semoga semangat Tiga Pena terus menginspirasi lahirnya karya-karya yang objektif, humanis, dan berlandaskan fakta.
Salam Literasi.
BHP 28 Juli 2026
Thamrin Dahlan





