Rasanya baru kemarin kita merayakan kembang api tahun baru, saling bertukar pesan “Semoga tahun ini lebih baik,” tapi tiba-tiba kita sudah berdiri di ambang bulan ketiga. Fenomena “waktu yang berlari” ini bukan hanya perasaanmu saja—ini adalah keluhan kolektif manusia modern.
Mengapa waktu terasa singkat dan bagaimana kita bisa tetap berdaya di tengah putarannya yang kencang.
Pencuri yang Tak Terlihat: Mengapa Pagi Tiba-Tiba Menjadi Malam?
Pernahkah Anda merasa baru saja menyesap kopi pagi, lalu sedetik kemudian sudah harus mematikan lampu kamar? Atau merasa baru saja memejamkan mata, namun alarm sudah berbunyi nyaring menyambut subuh?
Psikologi menyebutkan bahwa ketika hidup kita menjadi terlalu rutin, otak akan mulai “menghapus” memori yang dianggap serupa. Jika setiap harimu adalah repetisi dari rute yang sama, pekerjaan yang sama, dan pola yang sama, otak akan memprosesnya sebagai satu blok waktu yang singkat. Waktu terasa cepat karena tidak ada “kejutan” yang membuatnya layak diingat secara detail.
Jebakan “Bulan Ketiga”
Memasuki bulan Maret sering kali menjadi wake-up call yang pahit. Kita sadar bahwa 1/4 tahun hampir berlalu. Resolusi yang kita tulis dengan penuh semangat di Januari mungkin masih tersimpan rapi di catatan ponsel tanpa eksekusi. Namun, alih-alih meratapi waktu yang hilang, mari kita ubah perspektifnya.
Mengubah Kecepatan Menjadi Makna
Waktu memang tidak bisa diperlambat secara fisik, tetapi kita bisa memperlambatnya secara psikologis. Berikut adalah beberapa cara untuk “menjinakkan” sang waktu:
- Hadir Sepenuhnya (Mindfulness): Sering kali waktu terasa cepat karena fisik kita ada di sini, tapi pikiran kita sudah di masa depan atau tertinggal di masa lalu. Cobalah untuk benar-benar merasakan air saat mandi atau aroma kopi saat pagi.
- Ciptakan “Milestone” Kecil: Jangan biarkan satu minggu berlalu tanpa satu hal baru. Coba rute jalan yang berbeda, baca buku baru, atau ajak bicara rekan kerja yang jarang Anda sapa. Hal-hal baru ini akan menjadi “jangkar” memori yang membuat waktu terasa lebih luas.
- Berhenti Menunggu “Waktu yang Tepat”: Kita sering berkata, “Nanti kalau sudah santai,” padahal kenyataannya hidup tidak akan pernah benar-benar santai. Mulailah apa yang ingin Anda mulai sekarang, sebelum tiba-tiba kita sudah berada di penghujung tahun lagi.
Motivasi untuk Hari Ini
Waktu yang terasa singkat sebenarnya adalah “pesan cinta” dari Sang Pencipta agar kita segera kembali dan bersiap. Ia mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara.
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” — Hasan al-Basri
Kutipan indah ini menyadarkan kita bahwa setiap detik yang hilang bukan sekadar angka di kalender, melainkan bagian dari usia kita yang berkurang. Jika waktu terasa berlari, pastikan Anda juga sedang berlari menuju rida-Nya, bukan hanya diam terpaku melihat usia yang semakin senja.
Waktu tidak akan menunggu kita untuk siap. Jadi, mari kita buat setiap detik yang “singkat” ini menjadi sebuah cerita yang layak untuk dikenang.(RD)
Palembang, 28/02/26, sebuah catatan dari Workshop “15 Menit Menulisa Artikel Via HP”




