Di ruang publik—baik forum akademik maupun media sosial—banyak orang berbicara dengan nada pasti. Namun tidak semua yang terdengar tegas benar-benar bersifat pasti. Dalam filsafat, ada yang dinamakan “apodictic”,
Istilah Apodictic ini berasal dari bahasa Yunani “apo” berarti “dari” dan “deiknynai” berarti “memperlihatkan”. Aristoteles menggunakan kata ini untuk memperlihatkan sesuatu secara pasti, bukan hanya tentang kemungkinan- kemunginan saja. Pengetahuan yang diajukan bersifat pasti dan bersifat niscaya. Pernyataan apodiktik adalah benar secara mutlak, sepenuhnya. Berlaku untuk hal-hal yang telah dibuktikan tanpa diragukan sedikit pun.
Karenanya penting kita belajar membedakan: mana prinsip yang memang mendasar dan tidak dapat ditawar, dan mana pendapat yang masih terbuka untuk dialog. Cara berpikir menuntut kejernihan dan kerendahan hati intelektual.
Cara berbicara dihadapan publik menuntut ketegasan yang berbasis data, bukan sekadar opini. Cara bersikap menuntut karakter yang dewasa di tengah perbedaan.
Di era digital ini, kualitas seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang ia katakan, tetapi dari bagaimana ia mengatakannya. Ketegasan tanpa etika menjadi kekakuan; keyakinan tanpa refleksi berubah menjadi keangkuhan.
Nalar yang kritis, tutur yang santun, dan sikap yang berintegritas—agar ketika berbicara di ruang publik, kita tidak hanya terdengar meyakinkan, tetapi juga dapat dipercaya. Kesemua hal itu perlu dibangun. Kata bijak mengingatkan: “Kata-kata hanyalah angin, buktikan dengan perbuatan nyata”. “Jika ingin berbicara, pikirkanlah. Jika yakin tidak membahayakan, bicaralah. Namun jika ragu, diam lebih selamat”.(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


