Makna Kata “Osh / Oss / Osu (押忍)” dalam Budaya Bela Diri Jepang

Terbaru13 Dilihat

Di banyak dojo karate, judo, aikido, hingga kendo, maupun jiu-jitsu, ada satu kata pendek yang hampir selalu terdengar: “Osh!” (sering juga ditulis Osu atau Oss). Kata ini mungkin terdengar sederhana, bahkan seperti sekadar jawaban cepat kepada pelatih. Namun sebenarnya, kata tersebut mengandung filosofi yang sangat dalam dalam tradisi bela diri Jepang.

Secara etimologis, Osu (押忍) tersusun dari dua kanji: “Oshi” (押し) yang berarti menekan, mendorong, atau berusaha menembus kesulitan, dan “Shinobu” (忍ぶ) yang berarti menahan diri, bersabar, bertahan dalam penderitaan, dan tetap teguh. Jika digabungkan, maknanya kurang lebih adalah:
“Mendorong diri melewati batas sambil menahan kesulitan dengan kesabaran.”

Karena itu, ketika seorang Budōka (武道家) /praktisi bela diri, mengucapkan Osh, ia tidak sekadar berkata “ya” atau “siap”. Ia sedang menyatakan sikap mental: saya menerima, saya hormat, dan saya siap menjalani latihan—seberat apa pun.

Di dalam dojo, kata Osh memiliki beberapa makna sekaligus:

  1. Tanda hormat (respect)
    Diucapkan kepada sensei (pelatih), senior, maupun sesama praktisi. Ini bukan hanya sopan santun, tetapi pengakuan bahwa ilmu bela diri dipelajari dengan kerendahan hati.

  2. Tanda kesiapan (readiness)
    Saat diberi instruksi, seorang murid menjawab Osh! artinya: saya siap melaksanakan tanpa mengeluh.

  3. Latihan pengendalian ego
    Bela diri Jepang tidak hanya melatih teknik, tetapi karakter. Mengucapkan Osh berarti menekan ego pribadi. Kita tidak membantah, tidak mencari alasan, dan tidak mengedepankan kenyamanan diri.

  4. Ketahanan mental (endurance)
    Saat latihan terasa berat—kuda-kuda pegal, napas habis, tubuh lelah—Osh adalah pengingat bahwa kekuatan utama seorang praktisi bukan pada ototnya, melainkan pada keteguhan hatinya.

Menariknya, di luar dojo, kata ini juga menjadi simbol etos hidup. Filosofi Oshi Shinobu mengajarkan bahwa kehidupan sering tidak mudah. Ada tekanan pekerjaan, kegagalan, kelelahan, bahkan kekecewaan. Namun seorang praktisi bela diri belajar untuk tidak langsung mengeluh. Ia menekan dorongan untuk menyerah (oshi) dan bersabar menanggung proses (shinobu).

Dengan demikian, Osh bukan sekadar teriakan khas para Budoka. Ia adalah komitmen karakter: hormat kepada orang lain, disiplin kepada diri sendiri, dan keteguhan menghadapi kesulitan.

Bela diri Jepang memang tidak bertujuan menjadikan seseorang pandai bertarung, tetapi pandai mengalahkan dirinya sendiri. Dan setiap kali kata Osh diucapkan, sesungguhnya seorang praktisi sedang berkata dalam hatinya:

“Saya akan tetap berdiri, tetap belajar, dan tetap berjalan—meski sulit.

Budō (jalan bela diri) tidak hanya mengajarkan teknik bertahan, tetapi cara menjalani hidup.

Hidup sering seperti latihan dojo:

  • ada tekanan
  • ada kelelahan

  • ada kegagalan

  • ada rasa ingin menyerah

Filosofi Oshi Shinobu mengajarkan bahwa kekuatan bukanlah tidak merasakan sakit, tetapi tetap berjalan walau terasa berat.

Seorang praktisi bela diri Jepang diajarkan:
bukan siapa yang paling keras pukulannya yang kuat,
melainkan siapa yang paling kuat menahan dirinya.


Penutup

Kata Osh mungkin hanya satu suku kata. Namun di dalamnya ada nilai disiplin, kesabaran, hormat, dan keteguhan.

Itulah sebabnya dalam banyak dojo, murid tidak banyak berkata:

  • tidak berdebat panjang,
  • tidak mengeluh,
  • tidak mencari alasan.

Ia cukup membungkuk, lalu berkata:

“Osh.”

Artinya:

Saya siap belajar. Saya siap ditempa. Dan saya siap menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin.

OSH…

Tinggalkan Balasan