Kehalusan Bahasa Kesenian Ketoprak Jawa

Tung Widut
Ketoprak merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang tidak hanya memukau melalui alur cerita dan gerak peran, tetapi juga melalui keindahan bahasa yang digunakan. Sebagai kesenian yang lahir dari kearifan lokal, ketoprak identik dengan penggunaan bahasa yang halus, sopan, dan penuh makna, yang sejalan dengan nilai-nilai budaya Jawa yang menjunjung tinggi tata krama dan kesopanan dalam berkomunikasi.
Asal-usul, ketoprak dari daerah Yogyakarta, :
1. Krama Inggil
Ini adalah tingkatan bahasa yang paling halus dan sopan. Digunakan oleh tokoh yang berkedudukan tinggi seperti raja, bangsawan, atau orang tua, maupun saat seseorang berbicara kepada orang yang dihormati, lebih tua, atau memiliki derajat lebih tinggi. Penggunaan bahasa ini mencerminkan rasa hormat dan kesopanan yang mendalam, yang menjadi cerminan budaya Jawa yang menghargai sesama.
2. Krama Madya
Tingkatan bahasa ini berada di tengah-tengah, memiliki kesan sopan namun tidak sehalus Krama Inggil. Krama Madya umumnya digunakan untuk percakapan antar sesama tokoh yang memiliki kedudukan setara, atau dalam situasi yang bersifat resmi namun tidak terlalu formal. Bahasa ini berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang tetap menjaga kesopanan, namun terasa lebih luwes dan tidak kaku.
3. Ngoko
Ini adalah tingkatan bahasa yang paling sederhana dan santai. Bahasa ini biasa digunakan oleh tokoh rakyat jelata, anak-anak, atau dalam percakapan antar teman akrab dan keluarga dekat. Dalam ketoprak, bahasa Ngoko juga sering digunakan oleh tokoh pelawak atau penghibur untuk menyampaikan dialog yang ringan, lucu, dan mudah dipahami oleh penonton dari berbagai kalangan. Bahkan, seringkali diselingi dengan basa dolan atau bahasa candaan yang membuat suasana pertunjukan menjadi lebih hidup dan menghibur.
Keindahan ketoprak terletak pada bagaimana ketiga tingkatan bahasa ini menyatu secara harmonis dalam satu pertunjukan. Pergantian tingkatan bahasa yang tepat mampu mempertegas karakter tokoh, memperjelas hubungan antar tokoh, dan membuat alur cerita semakin hidup. Dengan demikian, ketoprak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi penonton untuk memahami kehalusan bahasa dan tata krama yang menjadi warisan budaya Jawa yang tak ternilai harganya.
Tantangan Bahasa dalam Ketoprak: Hambatan bagi Generasi Muda
Ketoprak sebagai warisan budaya yang kaya tidak hanya menghadirkan keindahan cerita dan gerak peran, tetapi juga kekayaan bahasa yang beraneka ragam. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pertunjukan ketoprak menggunakan tingkatan bahasa Jawa yang disesuaikan dengan peran dan situasi, mulai dari Krama Inggil, Krama Madya, hingga Ngoko. Penggunaan bahasa yang beragam ini memang menjadi ciri khas sekaligus keistimewaan kesenian tersebut, karena mampu menggambarkan hierarki sosial, tata krama, dan kehalusan budaya Jawa dengan sangat mendalam.
Namun di balik keindahan tersebut, keragaman tingkatan bahasa ini justru menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi ketoprak di era sekarang. Bagi generasi muda masa kini, penggunaan bahasa dalam ketoprak sering kali dianggap sebagai hal yang sulit untuk dipahami maupun diucapkan. Kesulitan ini muncul karena lingkungan komunikasi anak muda saat ini sudah jauh berbeda dengan masa lalu.
Saat ini, penggunaan bahasa Krama Inggil dan Krama Madya sudah jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari. Generasi muda lebih terbiasa berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana, santai, dan langsung pada intinya. Bahkan ketika mereka menggunakan ragam bahasa Ngoko, pun sering kali tidak sama dengan ragam bahasa Ngoko yang digunakan dalam pertunjukan ketoprak. Bahasa dalam ketoprak cenderung lebih kental dengan nuansa sastra, menggunakan kosakata lama, dan memiliki irama serta ungkapan yang khas, berbeda dengan bahasa sehari-hari yang lugas dan praktis yang digunakan anak muda saat ini.
Akibatnya, bahasa-bahasa yang digunakan dalam ketoprak tersebut terasa asing dan sulit dipahami oleh generasi sekarang. Bagi mereka, mendengar dialog dalam ketoprak sering kali terasa seperti mendengar bahasa asing yang maknanya tidak mudah dicerna. Kesulitan dalam memahami dan menguasai bahasa ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat generasi muda enggan untuk mendalami kesenian ketoprak.
Lebih jauh lagi, keterbatasan kemampuan berbahasa tersebut membuat mereka tidak memilih ketoprak sebagai wadah untuk mengekspresikan diri. Bagi anak muda, seni ekspresi haruslah menggunakan media dan bahasa yang akrab dengan diri mereka, sehingga apa yang ingin disampaikan dapat tersalurkan dengan baik. Karena bahasa ketoprak terasa asing dan sulit, mereka merasa tidak mampu untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kreativitas mereka melalui media seni tersebut. Akhirnya, ketoprak pun terpinggirkan dan kehilangan regenerasi pemain serta penonton dari kalangan generasi muda.
Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi para pelestari budaya. Agar ketoprak tetap hidup dan dicintai, perlu ada upaya untuk menjembatani kesenjangan bahasa ini, misalnya dengan penyederhanaan kosakata tanpa menghilangkan makna aslinya, atau melakukan pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan anak muda saat ini.
Sumber:
– Kemendikbudristek. (1974). Tuntunan Seni Kethoprak. Jakarta: Proyek Pengembangan Kesenian Daerah. Dokumen ini membahas secara rinci tentang kaidah pertunjukan ketoprak, termasuk penggunaan tingkatan bahasa Jawa yang disesuaikan dengan peran tokoh dan situasi cerita. Tersedia di: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/13469/1/Tuntunan%20seni%20kethoprak.pdf
– Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Penerbit Gramedia. Buku ini menjelaskan tentang konsep unggah-ungguh atau tingkatan bahasa Jawa yang menjadi dasar komunikasi dalam kehidupan masyarakat Jawa dan juga diterapkan dalam kesenian tradisional seperti ketoprak.
– Lisbijanto, H. (2013). Sejarah dan Perkembangan Ketoprak di Jawa Tengah. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Membahas asal-usul ketoprak dari Surakarta dan Yogyakarta serta penyebarannya ke daerah lain termasuk Jawa Timur.






