“MINDFUL EATING”: SAAT MAKAN MENJADI TINDAKAN SADAR

Terbaru3 Dilihat

Makan tentu dipahami sebagai tindakan memasukan makanan kedalam mulut, dikunyah lalu
ditelan. Tujuannya memenuhi kebutuhan tubuh atau sekedar menyaskan selera dengan beragm panganan dari dunia kuliner. Menyantap makanan memang merupakan suatu hal yang menyenangkan, apalagi menyantap makanan favorit.

Ada anjuran untuk mengunyah makanan setidaknya 32 kali.
Mengapa 32 Kali? Angka 32 nampaknya disesuaikan dengan jumlah gigi orang dewasa, yang dianggap ideal untuk membuat makanan menjadi partikel kecil sebelum masuk ke lambung. Gunanya memudahkan kerja lambung dalam mencerna makanan, memaksimalkan penyerapan zat gizi, serta mencegah tersedak. Makanan lunak dianjurkan cukup 5-10 kali, sedangkan makanan padat butuh 20-30.

Di tengah ritme hidup kini semakin menuntut segala sesuatu dilakukan dengan cepat. Termasuk soal makan dan makanan cepat saji. Di sinilah sering kali makan kehilangan maknanya. Ia berubah menjadi aktivitas cepat dilakukan sambil bekerja, atau selingan sambil menatap layar, bahkan sekadar untuk mengusir bosan. Seseorang makan, tetapi tidak benar-benar hadir saat makan.

Ada cara makan yang disarankan:mmakanlah dengan kesadaran penuh,fokus pada rasa, tekstur, dan sinyal tubuh.
Disebut “mindful eating”. Mindful eating adalah tentang kesadaran—tentang bagaimana kita hadir sepenuhnya dalam setiap suapan. Relevansinya ia bukan tentang jenis makanan tertentu, bukan pula sekadar soal diet atau pembatasan kalori.

Mindful eating mengajak seseorang yang makan kembali kepada hal yang paling sederhana, namun sering terlupakan: mendengarkan tubuh. Tubuh memiliki bahasa yang jujur. Ia memberi sinyal ketika lapar dan memberi tanda ketika cukup. Kini dalam kebiasaan modern, suara itu sering kalah oleh dorongan lainyaitu emosi, stres, kebiasaan, bahkan sekadar keinginan sesaat.

Ada yang mulai makan bukan karena lapar, tetapi karena lelah. Bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin melarikan diri Dari persoalan. Tanpa disadari, makanan menjadi pelarian emosional, bukan lagi pemenuhan kebutuhan fisik.

Mindful eating, makan yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdampak jauh lebih dalam. Ketika seseorang makan dengan perlahan, memperhatikan rasa, aroma, dan tekstur makanan, ia sebenarnya sedang membangun kembali hubungan yang sehat dengan tubuhnya. Ia belajar untuk berhenti sebelum berlebihan, menikmati tanpa rasa bersalah, dan menghargai setiap proses yang membawa makanan itu ke hadapannya.

Mindful eating juga mengajarkan untuk hadir tidak hanya dengan makanan, tetapi juga dengan diri sendiri. Dalam keheningan saat makan tanpa distraksi, ada ruang untuk mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Apakah benar-benar lapar, atau hanya sedang mencari kenyamanan?

Dalam konteks keluarga, mindful eating menjadi semakin penting. Meja makan bukan hanya tempat mengisi perut, tetapi juga ruang membangun kebiasaan dan nilai. Ketika keluarga makan bersama tanpa gangguan gawai, ketika orang tua mengajarkan anak untuk mengenali rasa lapar dan kenyang, di situlah fondasi pola makan sehat dibentuk, bukan melalui aturan yang kaku, tetapi melalui keteladanan dalam menjalani hidup.

Tidak mudah memang nenerapkannya langsung dan dijalani defan sempurna. Perlu latihan, kesabaran, dan kesadaran yang terus dibangun. Di tengah kesibukan, makan dengan perlahan mungkin terasa tidak praktis. Namun justru di situlah tantangannya: bagaimana tetap menghadirkan kesadaran di tengah dunia yang serba tergesa.

Bisa jadi persoalannya bukan pada seberapa banyak yang dimakan makan, tetapi pada seberapa jauh kehilangan kesadaran saat makan. Banyak orang terlalu sering hadir di banyak hal, tetapi absen dari diri sendiri.

Mindful eating mengingatkan bahwa makan bukan sekadar aktivitas biologis. Ia adalah tindakan merawat diri. Satu momen kecil di mana tubuh dan pikiran seharusnya bertemu dalam kesadaran yang utuh.

Sejatinya perubahan besar dalam kesehatan tidak selalu dimulai dari apa yang kita makan, tetapi dari bagaimana kita memakannya. Kata bijak mengingatkan: Kamu adalah apa yang kamu makan—perhatikan apa yang kamu masukkan ke dalam tubuh.”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan