KETIKA BUMI MENANGIS: SATU KENYATAAN, BUKAN METAFORA

Terbaru1 Dilihat

Ketika menatap cuaca, membaca berita, dan melihat kenyataan alam di sekitar, kenanganku melayang ke masa silam. Dahulu para petani berpaut pada tanda-tanda alam untuk menyambut musim tanam.

Hujan datang seturut musim. Alam berjalan dalam keteraturan. Namun kini panas dan hujan seakan kehilangan aturan. Bencana datang menerjang di berbagai tempat, udara terasa makin gerah. Sungai dan lingkungan berselimutkam sampah menebar aroma pengap di dada.

Hutan terus menyusut. Banjir membawa kayu-kayu gelondongan, sementara jerit tangis manusia mengguncang nurani dan iman. Alam seolah bergolak, memberontak terhadap zaman. Aku pun merenung, mengapa semua ini terjadi?

Semua itu menunjukkan bahwa bumi sedang memberi tanda bahaya. Sesungguhnya bukan bumi yang merusak dirinya sendiri, melainkan manusia lewat keserakahan dan kerakusannya. Hutan, laut, dan pemukiman berubah rupa, tak lagi menjadi sahabat bagi mereka yang hidup bergantung padanya.

Semakin dalam kurenungkan, semakin kusadari: ketika bumi terluka, manusialah yang sesungguhnya sedang menggali penderitaannya sendiri.

Tangisan bumi belum terlambat untuk didengar. Selama manusia masih mau berubah, masih ada kesempatan menjadikan bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah yang layak diwariskan kepada anak cucu di masa depan.
(Abraham Raubun B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan