Kau dilahirkan oleh ibumu dalam keadaan menangis dan orang-orang disekitarmu tertawa atas kelahiranmu, maka jadikan mereka menangis saat datang kematianmu dan engkau dalam keadaan tersenyum. Sudah menjadi fitrah manusia bahwa seorang bayi yang dilahirkan ke dunia ini selalu diiringi dengan kegembiraan orang-orang sekitar dan tangisan merdu suara mungil si bayi.
Selama sejarah kehidupan manusia yang tercatat dalam sejarah islam, hanya nabi Isa saja yang ketika dilahirkan tidak menangis. Beliau mendapatkan penjagaan istimewa dari Allah Swt sebagaimana penjagaan yang diberikan kepada ibunya yang bernama siti Maryam. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an di surat Ali Imran, Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya keterangan tentang kenapa setiap bayi yang lahir ke dunia ini selalu menangis, tentu hal ini ditinjau dari penilaian agama.
Disebutkan bahwa hal ini masih berhubungan erat dengan kisah nabi Adam dan siti hawa yang bermusuhan dengan iblis ketika di surga. Nabi Adam menjadi penyebab diturunkannya iblis dari surga dan mendapatkan laknat Allah selama-lamanya, begitu juga Iblis, iblis menjadi penyebab utama diturunkannya Nabi Adam ke bumi gara-gara memakan buah larangan yang bernama buah khuldi.
Permusuhan bebuyutan inilah yang membuat nantinya seluruh anak cucu nabi Adam yang dilahirkan ke dunia selalu digoda oleh iblis la’natullah alaihi. Ketika seorang ibu menghadapi detik-detik kelahiran, seorang iblis sudah stand by menunggu kemunculan si bayi ke dunia. Ketika seorang bayi benar-benar lahir, dia menusuk perut si bayi dengan jarinya tepat di perut sehingga dia merasakan sakit yang membuat dirinya menangis.
Sehingga agama Islam menganjurkan untuk memperdengarkan adzan saat pertama kali seorang bayi lahir. Jika menangis saat kelahiran menjadi sebuah fitrah, maka tersenyum saat meninggal dunia adalah sebuah pilihan. Setiap orang suka ataupun tidak suka, dirinya saat lahir pasti menangis, tetapi jika nantinya dia mati, amal perbuatan saat dirinya hiduplah yang menjadikan dirinya apakah mati dalam keadaan tersenyum atau tetap menangis sebagaimana dulu dia juga menangis saat lahir.
Tentu panduan hidup dalam nilai-nilai agama menjadi sangat penting untuk bisa menjadikan diri kita tersenyum saat meninggal nanti. Saya masih ingat saat kakek dulu meninggal. Mendekati 40 hari menjelang kematiannya beliau lebih sering menyendiri untuk melakukan ibadah. Walaupun waktu itu beliau tidak kuat lagi untuk shalat berdiri, beliau masih setia shalat sambil duduk terkadang sambil tidur.
Hari terakhir menjelang kematiannya, saat itu habis maghrib, beliau membaca tahlil dengan lirih dan setelah isya menjelang tengah malam, beliau menghdapi sakaratul maut. Ayah dan beberapa saudara membimbing beliau untuk terus mengucap La ilaha illah Muhammad Rasulullah.
Dengan senyuman dan ucapan tahlil beliau meninggalkan dunia dan kami menangis. Sepatutnya seperti itulah nantinya kita meninggalkan dunia ini. Para ulama dulu banyak sekali yang meninggalkan dunia ini dengan seuntai senyuman yang mengembang dan orang-orang yang ditinggalkan menangis.








