Ilham Dwi Saputra, pelajar di Bantul, tewas usai dikeroyok. Polisi menahan dua pelaku, sementara lima lainnya masih buron. Di Surabaya, kasus perjokian UTBK-SNBT juga terungkap di tiga perguruan tinggi.
Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar makin merajalela. Pelajar tak hanya jadi pengguna, tapi juga pengedar. Lingkungan pendidikan sudah jadi target pasar empuk.
Fenomena ini menunjukkan degradasi serius di dunia pendidikan. Ibarat benang kusut yang sulit diurai. Kekerasan, pelecehan seksual, dan kriminalitas merajalela. Institusi pendidikan gagal jadi ruang aman pembentuk generasi beradab.
Kapitalisme: Biang Kerok Sistemik
Problem ini tak lepas dari lemahnya pengawasan keluarga dan masyarakat. Tapi akar utamanya adalah sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini.
Dalam kapitalisme, materi dan keuntungan jadi orientasi utama. Pendidikan direduksi menjadi pabrik tenaga kerja. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan adab tergilas oleh budaya curang, persaingan tidak sehat, dan orientasi hasil instan.
Hardiknas seharusnya jadi momen refleksi. Tapi pendidikan dalam sistem ini hanya mampu mentransfer ilmu, bukan membentuk karakter. Kurikulum berganti, jargon berganti, tapi outputnya sama: generasi cerdas secara teknis, rapuh secara moral.
Bila pendidikan tetap mengacu pada sistem sekuler kapitalisme, ia kehilangan tujuan hakiki. Ukuran keberhasilan hanya nilai, gelar, dan peluang kerja. Bukan kualitas moral dan kepribadian.
Hasilnya, lahir generasi sekuler dalam berpikir, liberal dalam bersikap, pragmatis dalam bertindak. Jalan pintas dianggap wajar: menyontek, memakai jasa joki, menghalalkan segala cara demi prestasi.
Kerusakan diperparah lemahnya penegakan hukum. Sanksi sering mandek dengan alasan “masih di bawah umur”. Kriminalitas pun dianggap kenakalan biasa.
Jelaslah, problem pendidikan hari ini adalah problem ideologis. Sistem sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya jadi pelajaran 2 jam seminggu, sisanya nilai liberal dan hedonis masuk lewat kurikulum dan konten.
Konsep Pendidikan dalam Islam
Islam menawarkan solusi sistemik. Islam memandang pendidikan sebagai proses strategis membangun peradaban. Ilmu diajarkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memakmurkan bumi, bukan sekadar mencari pekerjaan.
Rasulullah ﷺ bersabda, _“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”_
Pendidikan Islam memiliki tiga dimensi: ruhiyyah, fikriyyah, dan amaliyyah. Semua terikat pada akidah. Tujuannya membentuk _syakhsiyah Islamiyah_—keselarasan pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan Islam.
Dalam sistem Islam, negara adalah penanggung jawab utama pendidikan. Rasulullah ﷺ bersabda, _“Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”_
Negara wajib menyediakan pendidikan gratis, berkualitas, dan berlandaskan akidah Islam. Kurikulum disusun dengan akidah sebagai asas. Fiqh, sirah, bahasa Arab, sains, matematika, diajarkan dalam bingkai tauhid. Guru dimuliakan, bukan dibebani administrasi. Peraturan yang sifatnya teknis boleh dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
Sejarah Membuktikan
Sistem pendidikan Islam pernah melahirkan peradaban gemilang. Abu Rayhan al-Biruni di abad ke-10 menguasai astronomi, matematika, geografi, fisika, hingga sejarah. Ia menghitung keliling bumi dengan akurasi tinggi tanpa teknologi modern.
Abu Kamil Syuja menjadi rujukan besar dalam perkembangan aljabar dan geometri di Eropa. Ini bukti: ketika pendidikan dibangun di atas akidah Islam, ia melahirkan ilmuwan bertakwa sekaligus peradaban yang memimpin dunia.
Refleksi dan Solusi
Hardiknas harus jadi momen muhasabah. Wajah suram pendidikan adalah peringatan bahwa ia kehilangan arah. Perubahan mendasar tidak bisa ditunda lagi.
Allah Swt. berfirman:
_“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”_
Perubahan itu berarti mengganti sistem kapitalisme sekuler dengan sistem Islam. Pendidikan harus dikembalikan pada fitrahnya: membangun manusia seutuhnya, bukan sekadar pencari kerja.
Sudah saatnya pendidikan diarahkan menjadi modal awal kebangkitan generasi. Generasi cerdas, beriman, dan berakhlak mulia. Generasi yang mampu membawa negeri ini menuju peradaban terbaik.
Ceremonial boleh usai. Tapi benang kusut pendidikan hanya bisa diurai bila sistemnya dibenahi. So, perubahan di dunia pendidikan hanya akan efektif bila dilakukan secara azasi—mengganti akar masalahnya, bukan sekadar menambal gejalanya.






