Menulis di USia Senja Pasri Bahagia

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

guru, Terbaru3 Dilihat

Menulis dan Menerbitkan Buku di Usia Senja: Jangan Biarkan Api Itu Padam

Ada sebuah curahan hati yang sangat menyentuh.

Seorang bapak menulis pesan sederhana, tetapi sarat makna. Dahulu ketika masih aktif mengajar, beliau rajin menulis buku ajar dan modul pembelajaran. Aktivitas menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari pengabdian sebagai guru. Namun setelah memasuki masa purna tugas, semangat itu perlahan memudar. Kesibukan baru, perubahan ritme hidup, dan mungkin rasa lelah membuat pena tak lagi sering menari di atas kertas.

Lalu pada tanggal 27 Juni 2023, saat bertemu sahabat lama di Asrama Haji Yogyakarta, muncul kembali percikan semangat menulis. Hati kembali tergerak. Ada keinginan untuk berkarya lagi. Sayangnya, kesibukan di kampus membuat niat itu kembali kandas di tengah jalan.

Kisah ini sebenarnya bukan hanya milik satu orang. Banyak guru, dosen, dan pensiunan pendidik mengalami hal yang sama. Ketika masih aktif mengajar, mereka penuh ide, penuh energi, dan terbiasa menghasilkan karya. Namun setelah usia bertambah dan rutinitas berubah, semangat berkarya perlahan meredup.

Padahal sesungguhnya, usia senja bukan akhir dari kreativitas. Justru di usia itulah seseorang memiliki kekayaan pengalaman yang luar biasa.

Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, sering mengatakan bahwa menulis tidak mengenal usia. Menulis adalah tentang hati yang terus hidup. Selama seseorang masih memiliki pengalaman, selama masih ada kenangan, gagasan, dan pelajaran hidup, maka sesungguhnya bahan tulisan tidak akan pernah habis.

Banyak orang muda punya tenaga, tetapi belum tentu punya pengalaman. Sebaliknya, para senior memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya. Pengalaman itu mahal. Pengalaman itu berharga. Dan pengalaman itu akan hilang begitu saja bila tidak dituliskan.

Bayangkan berapa banyak ilmu yang pernah diajarkan selama puluhan tahun mengajar. Berapa banyak kisah siswa yang menginspirasi. Berapa banyak metode pembelajaran yang pernah dicoba. Semua itu sebenarnya dapat menjadi buku yang sangat berharga bagi generasi berikutnya.

Sayangnya, banyak orang merasa minder ketika memasuki usia senja. Mereka berkata:

“Saya sudah tua.” “Saya sudah tidak produktif.” “Siapa yang mau membaca tulisan saya?”

Padahal sejarah membuktikan banyak karya besar lahir di usia matang. Ada penulis yang baru menerbitkan buku pertamanya di usia 60 tahun. Ada pula guru pensiunan yang justru menjadi produktif setelah tidak lagi sibuk mengajar setiap hari.

Mengapa?

Karena mereka akhirnya memiliki waktu untuk merenung dan menulis.

Masalah terbesar sebenarnya bukan usia. Masalah terbesar adalah kehilangan motivasi.

Motivasi itu seperti api. Jika tidak dijaga, ia akan padam perlahan. Karena itu, api semangat menulis harus terus disiram dengan inspirasi, komunitas, dan tujuan hidup yang jelas.

Ada beberapa kiat sederhana agar semangat menulis tumbuh kembali di usia senja.

Pertama, jangan berpikir harus langsung menulis buku tebal.

Mulailah dari tulisan pendek. Tulis pengalaman mengajar satu halaman saja. Tulis kisah lucu bersama siswa. Tulis kenangan saat pertama kali menjadi guru. Dari tulisan kecil itu, lama-lama akan terkumpul menjadi buku yang indah.

Kedua, jangan menunggu sempurna.

Banyak orang gagal menulis karena ingin tulisannya langsung hebat. Padahal penulis besar pun memulai dari tulisan sederhana. Yang penting adalah mulai dulu. Menulis itu seperti mengayuh sepeda. Semakin sering dilakukan, semakin lancar jalannya.

Ketiga, bergabunglah dengan komunitas menulis.

Semangat seseorang sering naik turun bila berjalan sendirian. Tetapi ketika berkumpul dengan orang-orang yang memiliki semangat sama, energi positif akan tumbuh kembali. Itulah sebabnya banyak guru kembali produktif setelah bergabung dengan komunitas menulis seperti KBMN atau komunitas literasi lainnya.

Keempat, tanamkan niat bahwa tulisan adalah amal jariyah.

Seorang guru mungkin akan pensiun dari sekolah, tetapi ilmu tidak pernah pensiun. Buku yang ditulis hari ini bisa terus dibaca bertahun-tahun kemudian. Bahkan ketika penulisnya sudah tiada, ilmunya tetap hidup.

Bukankah itu luar biasa?

Bayangkan seorang siswa di masa depan membaca buku karya seorang guru senior, lalu mendapatkan inspirasi hidup darinya. Betapa besar pahala yang terus mengalir.

Kelima, jangan takut teknologi.

Banyak senior merasa minder dengan perkembangan digital. Padahal teknologi justru mempermudah proses menulis dan menerbitkan buku. Sekarang ada blog, platform digital, hingga penerbit indie yang siap membantu. Bahkan tulisan sederhana di media sosial pun bisa menjadi cikal bakal sebuah buku.

Yang terpenting bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan kemauan untuk terus belajar.

Usia senja seharusnya bukan menjadi alasan berhenti berkarya. Justru di usia itulah seseorang sedang memanen hikmah kehidupan. Dan hikmah yang tidak dituliskan akan mudah hilang ditelan waktu.

Menulis adalah cara manusia meninggalkan jejak.

Tubuh boleh menua. Rambut boleh memutih. Langkah boleh melambat. Tetapi pikiran dan hati tetap bisa terus berkarya.

Karena itu, jangan biarkan semangat menulis padam hanya karena usia atau kesibukan. Nyalakan kembali api itu, walau kecil. Mulailah dari satu paragraf. Satu cerita. Satu pengalaman hidup.

Kelak tulisan-tulisan itu akan menjadi warisan berharga bagi anak, cucu, murid, dan generasi penerus bangsa.

Dan siapa tahu, buku terbaik dalam hidup seseorang justru lahir di usia senja.

Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan