Handponku berbunyi, ada satu pesan masuk dari Indonesia berisi ; “Kuwait airways KU 541 nyampk tgl 9 April jam 13.45”. Itu adalah sms dari sahabatku yang akan berangkat ke Mesir untuk melanjutkan study S2 di Ma’had Dual Arabi, universitas yang berada di bawah naungan liga Arab. Aku sedang sibuk-sibuknya mengurus kontainer karena akhir bulan ini semua barang harus sudah mencapai target 350 karton dan harus dikirim ke Indonesia.
Hari-hariku hanya kuisi dengan kuliah, kursus dan kerja. Terkadang pagi aku ke kampus sekedar melihat-lihat kondisi muhadarah di sana atau hunting mencari kitab-kitab yang mampu mendukung studyku di Mesir ini. Siang sekitar jam 1, aku harus sudah mempersiapkan diri untuk kursus bahasa arab. Aku heran dengan bahasa yang satu ini. Kalau aku pikir-pikir, sudah lama sekali aku mempelajari bahasa arab sejak dulu aku masih duduk di bangku pesantren.
Dulu aku pernah hafal nadzam nahwu sharaf yang berjumlah 1000 karangan Ibnu Malik dari Andalusia yang saat ini berada di bawah pemerintahan Spanyol, tetapi hingga saat ini juga aku tetap menemukan kesulitan untuk mempelajarinya, mungkin benar kata orang, ilmu itu air laut, semakin kau meminumnya, semakin haus kau rasakan. Aku semakin haus dengan selalu mempelajari bahasa arab.
Sms itu masuk ke hpku pada hari kamis dan tanggal 9 April, itu adalah hari jum’at dan alhamdulillah aku sedang libur, tetapi liburku hanya untuk pendidikan saja, sebaliknya kerja di kontainer malah semakin digenjot, mulai pagi sampai selesai, entah selesainya jam berapa juga tergantung. Alhamdulillah aku menikmati pekerjaan ini karena setiap hari bisa shilaturrahim ke rumah orang-orang Indonesia di Cairo dan lewat pekerjaan ini pula aku bisa mengenal para diplomat KBRI yang sering mengirimkan barang ke Indoenesia.
Tiba-tiba Hpku berbunyi, tertera dengan jelas itu nomor Indonesia dengan kode +6281…, kalau nomor Mesir pasti langsung ada nomor +20 atau 010 atau 011. Aku mengangkatnya dan ternyata sahabatku di Jakarta memastikan keberangkatannya ke Mesir pada hari ini sekitar jam 1, seperti yang tertera di sms tadi. Pada saat yang sama seorang kawan dari Cairo yang mengurusi proses S2 memberi kabar bahwa mereka tiba di Cairo jam 5 sore. Aku bingung dengan informasi yang bertolak belakang dan memastikan ke Indonesia, tetapi hasilnya sama; jam 13:45.
Selesai menunaikan shalat Jum’at aku bekerja kembali dan mencoba mengakidkan jam berapa sahabatku sampai di Cairo, pihak Jakarta akhirnya memberi kabar jam 5 sore. Okelah kalo begitu, aku ingin menyelesaikan kewajibanku dulu. Malu rasanya berteriak menuntut hak kalau kewajiban belum selesai secara sempurna. Tiba-tiba sekitar jam 3 sore, sahabatku menelponku dengan menggunakan nomor Mesir dan mengabarkan bahwa aku gak usah ke bandara. Mereka sekarang sudah di rumahnya. “lhooo…kok bisa mas?”, dia akhirnya menjelaskan tentang adanya misinformasi itu.
Tadi sewaktu ada kabar dari Indonesia tentang simpang siurnya kapan nyampek di Cairo, dia langsung membuka situs resmi pesawat Kuwait dan ternyata kabar yang benar adalah jam 13:45. Untuk yang jam 5 itu jadwal tiket yang dicancel. Setelah menunaikan shalat maghrib, aku bersama mahmudi, manajer kontainer berangkat menemui dua sahabatku. Tidak lama aku mengobrol dengannya karena kami langsung mengajak mereka untuk merasakan nikmatnya ayam panggang khas Mesir di restoran Syabrawi.
Aku memesan dua porsi ayam utuh dengan harga 30 pound perpotong. Sambil ngobrol santai cerita proses keberangkatan sahabatku, aku mempunyai ide untuk mengajak mereka jalan-jalan menaiki perahu di sungai Nil di kawasan Tahrir, tempat berdirinya hotel-hotel berbintang. Aku masih ingat cita-citanya dulu ketika nanti ke Mesir, dia ingin menjadi importir perusahaan sarden yang banyak berdiri di daerahnya di kota ikan Muncar, Banyuwangi.
Siapa tahu, setelah ku ajak jalan-jalan nanti bisa memberikan inspirasi baginya. Dari hayyu sabi’ kami naik tramco menuju Ramsis terlebih dahulu, Ramsis menjadi tempat tersibuk di Mesir dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang di sana dan tidak adanya rambu lalu lintas yang berfungsi. Sampai Ramsis, aku mengajak mereka naik kereta listrik bawah tanah yang hanya seharga 1 pound perorang menuju Tahrir.
Kami turun di mahattah Anwar Sadat dan tepat berada di bawah gedung megah Mujamma’ sebagai pusat gedung imigrasi. Aku tidak tahu perasaan apa yang mereka rasakan ketika ku ajak jalan-jalan ini. Ini adalah malam pertama mereka di Mesir setelah melewati penerbangan sekitar 13 jam mulai dari Jakarta lalu transit di Malaysia, lalu Qatar dan selanjutnya landing di bandara Internasional Cairo di terminal 1.
Kuajak mereka melihat pemandangan indahnya sungai nil di malam hari. Kebetulan saat ini adalah malam sabtu dan menjadi hari libur nasional rakyat Mesir, sehingga disepanjang aliran sungai banyak sekali wisatawan lokal yang juga sedang menikmati keindahannya. Di dekat jembatan penyeberangan Tahrir menuju Zamalek ada beberapa perahu yang disewakan.
Kami menuju ke sana dan langsung menaikinya. Sudah ada beberapa orang Mesir yang menunggu. Aku tidak peduli. Aku bersama sahabatku duduk berdekatan dengan seorang pemuda Mesir, tepat di depanku duduk seorang cewek Mesir dan sahabatku berbisik kepadaku “cewek Mesir benar-benar cantik”, aku hanya tersenyum dan menerangkan kepadanya bahwa ada konsekwensi ketika ingin menikahinya.
Aku panjang lebar menerangkan adat pernikahan di Mesir yang dulu kudapatkan keterangan itu dari sahabatku Umar, orang asli Mesir yang tinggal serumah denganku. Perjalanan menyusuri sungai nil tidak terasa berlalu, rasanya begitu cepat. Kami dimanjakan dengan pemandangan hotel Grand Hayat yang berdiri kokoh dan menjadi langganan tempat menginap para diplomat-diplomat negara termasuk Indonesia.
Aku tidak bisa membayangkan, sewaktu berwisata ke Luxor kemarin, hotel tempatku menginap satu harinya seharga 100 dollar, berapa biaya hotel berbintang yang ada disepanjang sungai nil ini. Hotel Four Season juga tampak indah di malam hari ini, aku pernah bertemu dengan dua cewek waiters dari Indonesia yang bekerja di hotel itu. Salah satunya dari Banyuwangi.
Dengar-dengar mereka sengaja ditugaskan dari pihak Fourseason yang ada di Jakarta. Semiramis Continental juga menjulang tinggi, hotel yang didepannya ada bendera Arab Saudi itu selalu tidak sepi dari tamu. Cairo tower di malam hari juga indah dengan lampu-lampunya. Hawa dingin malam hari semakin terasa. Aku dan sahabatku Erick, Isnan dan Shonhaji ingin pulang setelah menikmati malam pertama ini.
Kami mencari kendaraan di mahattah Abdul Mun’im Riyad yang berada tepat di depan hotel Ramses Hilton. Aku tidak tahu, bagaimana perasaan sahabatku setelah ku ajak jalan-jalan menikmati ikan bakar dan menyusuri sungai nil di hari pertamanya menginjakkan kaki di Cairo ini.
Aku hanya berharap semoga mereka sukses dengan cita-citanya, semoga mereka istiqomah dengan niat dan tujuannya mencari ilmu di bumi Kinanah ini. Aku sungguh mengharapkan itu. Mesir adalah tempat lahir dan berjuangnya Musa, tetapi Mesir juga tempat lahirnya Fir’aun, terserah mau pilih yang mana.







