Proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Laut Arafura, Maluku, telah menanti nyaris 30 tahun sejak penandatanganan kontrak tahun 1998 dan penemuan cadangan gas raksasa pada tahun 2000. Selama waktu itu, potensi Masela yang menyimpan cadangan gas mencapai 6,97–18,54 triliun kaki kubik dan bernilai investasi lebih dari Rp350 triliun hanya berdiam di bawah laut, terhambat oleh perdebatan panjang yang tak kunjung usai.
Penyebab utama mandeknya proyek ini adalah perdebatan kusir mengenai lokasi kilang pengolahan: apakah dibangun secara terapung di laut (offshore/FLNG) atau di daratan Pulau Tanimbar (onshore). Konsorsium awal mengusulkan kilang terapung demi kecepatan dan efisiensi biaya, sementara pemerintah Indonesia bersikeras menginginkan kilang di darat agar manfaat ekonomi, infrastruktur, dan pemerataan pembangunan benar-benar terasa oleh masyarakat Maluku dan Indonesia Timur. Perselisihan ini berulang kali menunda keputusan, memicu kepergian Shell dari konsorsium, membengkakkan biaya, dan membuat proyek tertahan melewati enam periode pemerintahan.
Berubahnya arah sejarah terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Beliau hadir memutuskan kebuntuan yang tercipta selama tiga dekade dengan sikap tegas, jernih, dan berpihak pada kepentingan nasional jangka panjang. Tanpa berlarut dalam debat yang berputar di tempat, Presiden Prabowo secara resmi menetapkan pengembangan Masela dengan konsep kilang pengolahan utama di darat (onshore) di Pulau Yamdena, Tanimbar—dengan tetap memanfaatkan teknologi canggih untuk pengeboran dan penyaluran dari laut.
Keputusan ini bukan sekadar menentukan lokasi bangunan, melainkan bukti nyata kepemimpinan yang mampu menyatukan kepentingan teknis, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Kilang darat menjamin bahwa nilai tambah terbesar, lapangan kerja lokal, serta pembangunan jalan, pelabuhan, dan fasilitas umum akan menetap di tanah Indonesia, bukan hanya lewat begitu saja di laut. Bersamaan dengan itu, arahan ini juga memastikan proyek tetap mengadopsi teknologi penangkapan karbon (CCS) agar selain menguntungkan, juga ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Atas ketegasan itu, seluruh kepingan teka-teki akhirnya tersusun rapi: komposisi konsorsium menjadi kokoh dengan kehadiran Pertamina dan Petronas, rencana pengembangan disetujui final, dan hari ini—16 Juli 2026—proyek Masela resmi dimulai pembangunannya.
Tiga puluh tahun penantian akhirnya berbuah nyata. Masela kini bukan lagi sekadar potensi, melainkan tonggak kemajuan yang akan mengangkat posisi Indonesia sebagai kekuatan energi dunia, memperkuat kemandirian bangsa, dan membawa keadilan pembangunan hingga ke ujung timur nusantara.
Ciputat,
16 Juli 2026
MASELA – TITIK BALIK TIGA DEKADE BERKAT KEPEMIMPINAN YANG TEGAS








