Terbitkanlah Buku Maka Anda Dikenang Dunia
Awalnya sederhana saja ketika memasuki Purna Juli 2010. Apa yang dilakukan untuk mengisi kegiatan selain sebagai Dosen. Masih banyak waktu luang . Itulah pertanyaan . Seorang teman mengajak saya bergabung di kompasiana.com portal literasi.
Mulailah saya mengisi waktu untuk belajar menulis. Posting naskah yang sangat sederhana. Beberapa teman kompasianer berbaik hati membimbing baik secara maya atau ketika kopi darat sesama penulis.
Saya merasa kenikmatan tak terhingga, Ternyata inilah lahan, saya pikir bagus juga untuk berbagi Pengalaman, Ilmu Pengetahuan melalui jalur literasi.
- Mengapa saya harus membaca buku?
- Mengapa pula harus menulis?
- Dan setelah menulis, mengapa pula kumpulan tulisan harus diterbitkan menjadi buku?
Pertanyaan itu ternyata membawa pada sebuah perjalanan panjang. Akhirnya saya menemukan qoute motivasi Literasi dari seorang pujangga
Membacalah maka anda mengenal dunia
Menulislah maka anda dikenal dunia
Terbitkan buku maka anda dikenang dunia
Membaca membuka jendela pengetahuan, menulis melatih pikiran untuk tertib, sedangkan menerbitkan buku membuat gagasan tidak berhenti menjadi milik pribadi.
Membaca adalah cara manusia belajar dari pengalaman orang lain. Kita tidak mungkin menjalani seluruh pengalaman kehidupan seorang demi seorang. Melalui buku, kita dapat mengenal pemikiran, perjuangan, kegagalan, keberhasilan bahkan kebijaksanaan orang lain. Buku membuat umur manusia seakan lebih panjang karena pengalaman yang dituliskan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
- Pergi ke pasar turi membeli sepatu
Singgah sebentar membeli mangga
Rajin membaca naka bertambah ilmu
Menulis maka anda akan dikenal dunia
Bagi saya , menulis bukan sekadar mengejar menjadi penulis terkenal. Menulis adalah cara sederhana untuk meninggalkan jejak kebaikan. Apa yang pernah kita lihat, dengar, rasakan dan alami, kalau tidak dituliskan, perlahan akan hilang bersama perjalanan waktu. Karena itu memilih menulis. Satu hari satu tulisan, semampunya, seikhlasnya.
Menulis juga mengajarkan kita untuk berpikir. Ketika sebuah pengalaman hendak dituangkan menjadi tulisan, kita dipaksa memilih kata, menyusun kalimat dan mencari makna. Dari sanalah lahir perenungan. Bisa jadi tulisan sederhana bagi kita, ternyata memiliki arti bagi orang lain. Itulah keindahan literasi: sebuah pengalaman pribadi dapat berubah menjadi pelajaran bersama.

Lalu mengapa harus menerbitkan buku? Karena tulisan yang sudah tersusun rapi layak mendapatkan tempat yang lebih panjang. Media sosial bergerak sangat cepat. Tulisan hari ini bisa tenggelam oleh ribuan tulisan esok hari. Buku berbeda. Ia dapat disimpan di perpustakaan, diletakkan di ruang keluarga, dibaca anak cucu dan menjadi dokumentasi perjalanan pemikiran seseorang.
- Pagi hari berjalan sama sahabat,
Singgah minum kopi kit bersama.
Mari kawab menulis sepanjang hayat,
Buku terbit bukti keberadaan anda
Bersebab itulah awak mengajak para sahabat untuk tidak berhenti pada menulis. Tulislah buku. Terbitkanlah buku. Jangan merasa tulisan kita tidak penting. Jangan menunggu menjadi profesor, pejabat, tokoh nasional atau penulis terkenal. Siapa pun boleh memiliki buku. Guru boleh memiliki buku. Ustaz boleh memiliki buku. Pensiunan boleh memiliki buku. Ibu rumah tangga, mahasiswa, pekerja, bahkan siapa saja yang memiliki pengalaman dan gagasan juga boleh menjadi penulis buku.
Di sinilah semangat Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan—YPTD— di letakkan. Bukan semata-mata menerbitkan buku, tetapi membuka jalan agar semakin banyak orang Indonesia berani menulis dan memiliki buku. Bagi YPTD sebuah buku tidak harus sempurna. Yang penting ada gagasan, ada manfaat, ada kejujuran dan ada niat baik untuk berbagi.
- Burung merpati terbang ke awan,
Hinggap sebentar di pohon rumbia
Terbitkan buku wahai kawan kawan,
Agar keberadaan anda di kenang dunia
Saya yakin dan percaya, bangsa yang gemar membaca akan memiliki pengetahuan. Bangsa yang gemar menulis akan memiliki gagasan. Dan bangsa yang gemar menerbitkan buku akan memiliki dokumentasi peradaban. Karena itu gerakan literasi jangan berhenti pada slogan. Mari kita buktikan dengan karya nyata: baca bukunya, tulis bukunya, terbitkan bukunya, kemudian ajak orang lain melakukan hal yang sama.
Tidak perlu takut memulai. Buku pertama mungkin belum sempurna. Tulisan pertama mungkin masih banyak kekurangan. Biarkan waktu dan pengalaman yang menyempurnakan. Bukankah semua penulis besar juga pernah menulis untuk pertama kali? Yang membedakan hanyalah keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus berkarya.
Saya teringat Pesan Almarhumah Ibunda Hj. Kamsiah Binti Sutan Mahmud (Penulis Surat Untuk 7 orang Putra Putri)
“Ananda Thamrin Dahlan, janganlah angkau menyuruh orang lain melakukan sesuatu pekerjaan sebelum dikau sendiri me=lakukan=nya”
Alhamdulillah Amanah Ibunda saya ingat dan buktikan. Telah terbit 54 Judul Buku Thamrin Dahlan. InshaAllah Program 83 bertambah 3 judul buku menjadi 57 buku .
- Peribahasa Melayu
- Beragam Komunitas TEDE
- Literasi Bundo Kanduang
Semangat bersama sahabat Penulis mewujudkan Program 83 dari 417 Judul Buku Tahun 2026 akan bertambah menjadi 500 Judul Buku di Ultah YPTD Agustus 2027.
Semoga terwujud atas Redha Allah SWT dan kekompakan sahabat Penulis . Terima kasih . Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
- Salam Literasi
- BHP, 29 Agustus 2026
Thamrin Dahlan YPTD
Penasehat – Pena Kawan – Pena Saran






1 komentar