
Sepucuk Cerita Bu Lik Sri
Tung Widut
“Mbak, Bu Lik Sri meninggal,” kata Triana.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” ucap Bu Wida lirih.
Bu Lik Sri, seorang kerabat yang sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan desanya untuk ikut bersama kedua anaknya di Surabaya. Bu Lek Sri dan Wida memang sangat akrab, meskipun bukan kerabat dekat. Rumah mereka agak berjauhan, namun tali persahabatan terjalin sangat erat. Setiap kali Bu Lik Sri pulang ke desa, ia selalu membawa oleh-oleh untuk Wida. Putrinya, Mahita dulu waktu masih di desa sering menginap di rumah Wida. Hanya untuk sekadar berbincang hingga larut malam, membuat kue, atau belajar bersama.
Kabar duka itu datang bersama tiga tetangga yang mendatangi rumah Wida.
Nasib Bu Lek Sri memang tak seberuntung yang orang kira. Padahal dulu ayahnya termasuk orang terkaya di desa itu. Bu Lek Sri berpendidikan tinggi, bahkan sempat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Setelah lulus, ia menikah dengan seorang pemuda bernama Parno, yang juga berasal dari keluarga berada. Orang bilang, pernikahan dua keluarga kaya, sungguh serasi.
Namun kekayaan itu ternyata tak selamanya menjamin kebahagiaan. Pak Parno tidak memiliki pekerjaan tetap. Kadang ia bekerja membantu oleh adiknya yang seorang pemborong, tapi pekerjaannya pun tidak menentu. Seringkali ia pergi keluar kota berbulan-bulan lamanya dan baru pulang setelah itu. Tahun berganti tahun, perekonomian keluarga itu perlahan-lahan menurun.
Padahal Bu Lik Sri perempuan cantik jelita, tinggi bagai peragawati, berkulit putih dan halus. Namun suaminya tak mampu lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Hingga suatu hari, Bu Lek Sri datang ke rumah Wida dengan wajah yang agak malu.
“Wid, aku pinjam dua puluh ribu saja,” katanya pelan.
“Bu Lek, untuk apa?” tanya Wida lembut.
“Untuk Mahita, besok beli bensin untuk berangkat ke sekolah, Wit…” katanya memelas. Wajahnya sangat murung, matanya berkaca-kaca, terlihat sekali ia sedang sangat bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
Bahkan suatu kali ia datang dengan menangis tersedu-sedu, seakan tak tahu lagi kepada siapa ia harus mengadu. Ia bercerita dengan suara yang tercekat, betapa beratnya hari-hari yang ia jalani.
Suatu sore, Pak Parno pulang dari perjalanan jauh. Saat itu hanya ada sepiring nasi di meja, dan itupun untuk makan malam Mahita. Namun suaminya memakannya. Malam itu Mahita menangis tak henti-henti, karena tak ada lagi beras, tak ada makanan lain di rumah itu. Jatah makannya habis dimakan ayahnya, dan di rumah itu sungguh tak ada apa-apa lagi yang bisa dimakan.
Mendengar cerita itu, hati Wida terasa teriris. Sungguh miris membayangkannya, seorang ibu terpaksa menahan lapar agar anaknya bisa makan, dan anaknya pun harus kehilangan sepiring nasi itu demi suaminya. Betapa besarnya hati Bu Desri, ia tak pernah mengeluh dengan kasar, ia hanya diam dan berusaha mencari jalan sekuat tenaganya.
Wida terdiam. Sulit baginya untuk mempercayai hal ini terjadi pada Bu Desri. Namun ia tak sampai hati untuk menolak. Sebenarnya, para tetangga sudah berpesan, bilang Bu Lek Sri sering berutang dan sulit dikembalikan. Tapi Wida tetap menyerahkan uang itu dengan ikhlas. Dalam hatinya, ia berjanji: andai pun uang ini tak kembali, aku sudah ikhlas memberikannya.
Ternyata cerita para tetangga belum tentu benar. Beberapa hari kemudian, Bu Lek Sri datang lagi — kali ini dengan senyum lega di wajahnya. Uang itu dikembalikannya tepat waktu.
Bahkan hingga ketiga kalinya ia meminjam, tak pernah lebih dari dua atau tiga hari, uang itu selalu kembali ke tangan Wida. Bu Lek Sri memang bukan orang yang berniat menelantarkan janji. Ia hanya sedang berada di masa-masa yang sangat sulit, namun harga dirinya dan kejujurannya tak pernah luntur sedikit pun.
Namun ada hal yang kadang membuat Wida tersenyum sendiri, begitu uang itu ada di tangannya, suasana hatinya berubah seketika. Wajahnya yang tadi murung dan sedih, kini seketika berseri-seri.
“Wit, tahu nggak? Adikmu Mahita terpilih jadi Putri Kartini di sekolahnya! Dia juara satu, lho! Maklumlah, anak kita memang cantik sejak kecil,” ucapnya dengan mata berbinar penuh kebanggaan. “Untuk tampilan itu aku belikan baju dan perlengkapannya, habisnya hampir lima ratus ribu. Tak apa, untuk anak apa pun akan kuberikan.”
Wida hanya tersenyum mendengarnya. Sebelum uang itu di tangannya, ia terlihat begitu memelas dan tak berdaya. Namun begitu kebutuhannya terpenuhi, semangatnya kembali, cerianya muncul kembali, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
Itulah Bu Lik Sri. Kesulitan memang ada, tapi untuk penampilan anak-anaknya rela berkorban berapapun.
Kini kedua anaknya telah tumbuh dewasa dan meraih kesuksesan di Kota Surabaya. Mereka pun sudah berkeluarga, memiliki kehidupan masing-masing. Sementara itu, Bu Lik Sri tetap tinggal sendirian di rumah lamanya di desa. Namun karena kesehatannya semakin lama semakin menurun, akhirnya sekitar sepuluh tahun yang lalu, ia memutuskan untuk ikut dan tinggal bersama anak-anaknya di Surabaya.
Pergi tanpa banyak suara, membawa kenangan dan senyumnya yang tulus, meninggalkan desa yang membesarkannya menuju tempat baru, tempat di mana ia berharap bisa menua dengan tenang di sisi anak-anak tercintanya.



