MENAWAN DIRI DI ASTON BOGOR

Terbaru599 Dilihat

Oleh Much. Khoiri

MENGAPA Soekarno dulu suka singgah di Istana Bogor tatkala kejenuhan dan kepenatan melanda dan mencengkeramnya? Mengapa pusat pemerintahan AS berada di Washington D.C., bukan di New York atau Chicago? Mengapa pula para pertapa suka menyatu dengan alam, termasuk hutan, air terjun, desau angin, dan kicau burung? Salah satu kemungkinannya, mereka berburu kenyamanan.

Ya, Istana Bogor, White House, dan daerah pertapaan memancarkan aura kenyamanan yang utuh.  Setiap jengkal space memberikan kebahagiaan, ketenteraman, dan kedamaian. Lingkungan yang nyaman membuat penghuninya betah tinggal di dalamnya, dan mengendurkan syarafnya, serta menguatkan pikiran dan menghaluskan jiwa.

Tentu saja saya tidak berhasrat untuk tinggal di Istana Bogor atau White House, karena saya memang tidak ingin menjadi presiden. Saya juga tidak berambisi bertapa di gua-gua pegunungan yang hijau dan agung, karena saya memang belum menjadi manusia sumeleh untuk menjadi begawan atau pertapa bijak. Saya hanya wong cilik yang hanya mampu berhitung kecil tentang hal-hal yang kecil belaka—paling banter, ya membayangkan berada di sana.

Namun, satu hal yang sama persis. Sama dengan orang-orang gedean itu, saya juga suka suatu tempat yang memancarkan aura kenyamanan.  Suatu tempat yang setiap jengkal space-nya memberikan kebahagiaan, ketenteraman, dan kedamaian.  Suatu tempat nyaman yang mampu membuat saya betah tinggal di dalamnya, tempat mengendurkan syaraf, serta menguatkan pikiran dan menghaluskan jiwa saya.

Inilah tempat yang saya maksudkan: Aston Bogor. Dari terminal bis Damri kita perlu merogoh kocek Rp 30 ribuan untuk mencapai kawasan itu. Sebuah hotel dan resort yang terletak di kawasan Bogor Nirwana Residence, yang di dalamnya ada jungle-nya untuk pelesir keluarga. Melintasi jalan-jalannya mengingatkan saya akan kawasan Taman Dayu, Pasuruan. Hanya, BNR ini tampak lebih hijau dan khas lereng gunung. Di musim libur sekolah, jungle itu selalu dipadati wisatawan.

Kalau hotelnya sendiri tidaklah istimewa. Yang berbeda adalah penataan lingkungan hotel. Hotelnya terdiri atas tiga tower—sebutan untuk mengacu blok bangunan menjulang. Tower pertama di barat sungai, sedangkan tower kedua dan ketiga di timur sungai. Ada satu jembatan yang menghubungkan tower barat dan tower timur ini pada lantai tiga, dan satu jembatan lagi penghubung di sayap utara pada lantai dua.

Sumber gambar: www.facebook.com/astonbogorhotel/photos

Konsepnya laksana kawasan surga, di mana Sungai Ciliwung mengalir dengan suara gemericik dan kecipak bersahut-sahutan. Berdiri di atas jembatan, atau duduk sejenak di bale-bale yang sengaja dibangun di bibir sungai ini, memberikan sensasi penghayatan tersendiri. Sebuah sensasi yang tak mungkin dirasakan tatkala menginap atau berkegiatan di hotel-hotel Jakarta atau Surabaya. Hotel-hotel di Batu pun rasanya tak sebanding dengan Aston ini.

Dari hotel-hotel yang pernah saya singgahi sepanjang tugas IDB 7in1, baik di Jakarta, Surabaya, Pontianak, Banjarmasin, Manado, Gorontalo, maupun Yogyakarta, hotel Aston inilah paling menjenakkan dan menenteramkan. Lingkungannya itu loh yang memikat hati. Taman-taman yang luas, tertata begitu rapi dan indah, menjadi paru-paru alam yang sehat dan menyehatkan. Bahkan di sana-sini terdengar kemerucuk air yang mengalir di sungai, kanal-kanal kecil, atau kolam-kolam buatan—termasuk “akuarium raksasa” di depan lobi, dengan ikan-ikan yang riang sepanjang waktu.

Demikianlah, sebagaimana hari-hari kemarin, bersama anggota tim, saya di sini bukan untuk berpelesir dan menikmati keindahan alam belaka. Selama tiga hari Kami harus memeluk tugas yang kerap memenjara pikiran. Singkatnya, tugasnya tidak enteng. Namun, demikianlah, lingkungan Aston ini telah menyebabkan tugas terasa “cukup” enteng. Bagaimanapun, alam telah membantu menyejukkan pikiran atau mental yang panas akibat kerja keras sekitar 10 jam per hari.

Keseimbangan hidup, ya, itulah yang manusia idamkan dengan berburu kenyamanan. ‘Sunnatullah’ perlu ditegakkan. Panas harus diimbangi dengan sejuk atau dingin. Kerja keras harus diimbangi istirahat. Keramaian dan kepadatan harus diimbangi dengan kesunyian dan kelengangan. Pemenuhan atas perimbangan dua kutub ekstrim ini membuat bandul jam hidup kita stabil. Jika sebaliknya, siapapun akan kolaps alias ambruk.

Soekarno dulu mendinginkan diri di Istana Bogor setelah “panasnya” kejenuhan melanda dan kepenatan mencengkeram. Orang-orang gedean juga menyewa vila di kawasan Puncak, atau penginapan di kawasan lereng gunung, itu ditempuh untuk (ibarat mobil) mendinginkan mesin. Mereka juga perlu berburu tempat nyaman untuk meraih keseimbangan—sebuah usaha yang disengaja untuk memenuhi tuntutan dua kutub ekstrim itu.

Saya tidak sedang asbun alias asal bunyi. Kali ini entah berapa instansi yang menggelar kegiatan di hotel yang menyabet “Certificate of Excellence 2014” dari TripAdvisor ini sebagai “the top-performing 10% of all business worldwide.”  Di lantai tower satu saja saya dapati ada tiga instansi yang menggelar acaranya. Kalau sedang berbuka-puasa atau sahur, banyak orang bertemu di restoran ‘Batu Tulis’ yang luas itu.

Andai kata anak-anak saya masih kecil, amat boleh jadi saya mengajak mereka dalam berbagai program yang memacu kreativitas: chef cilik, aerobik anak, treasure hunt, fishing battle, musical chair, flag race, dan masih banyak lagi. Sekarang pun saya hanya mampu membayangkan anak-anak saya, yang sudah hampir selesai kuliah, seakan sedang mengikuti program-program itu. Ah, alangkah indahnya hidup ini. “Maka, nikmat mana lagi yang hendak engkau didustakan?”

Sepagi ini saya akan meluncur ke Bandara Soekarno Hatta. Namun, berat rasanya hati ini untuk meninggalkan Aston. Rasanya hati ini telah tertambat pada alamnya. Bahkan, rasanya saya telah menawan diri di sini. Setidaknya, kini, raga saya akan segera dibawa taksi atau bis Damri pergi memenuhi kisah lakon berikutnya, namun rasanya jiwaku masih duduk di bale-bale menikmati kemerucuk air sungai di bawah sana.* [Bogor, 18/07/2014].

Tinggalkan Balasan