
Inspirasi menulis datang dari mana saja. Hari ini Selasa 7 Januari 2021 awak tergerak membahas perihal ngatur atau ngawur. Semua berawal dari pantun seperti dibawah ini yang awak share di media social
- Tentara negeri tinggal di tangsi
- Tangsi bersih aman lestari
- Awan hitam menggantung tinggi
- Semoga hujan tak turun disini
Seorang sobat memberi komentar pada pantutn tersebut terutama terkait bait terakhir
” semoga hujan tak turun disini” .
Koment tersebut kira kira begini
“ngatur Tuhan atau doa, padahal hujan adalah rahmat”.
Tentu saja awak membalas komentar itu dengan klarifikasi atau penjelasan. Kalau ada kata SEMOGA berarti itu adalah doa. Mana berani makhluk sejenis manusia apalagi beragama Islam mengatur ngatus Allah SWT.
Disinilah letak Rukun Iman dimana terpatri yaqin haqqul yakin akan takdir. Oleh karena itu setiap peristiwa yang sudah terjadi adalah takdir atau ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa. Wajib diterima dengan sabar, syukur dan tawakkal.
Manusia dalam jati diri sebagai hamba Allah SWT wajib menyakini segala sesuatu yang terjadi adalah ketentuan final Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya pada peristiwa yang belum terjadi maka disanalah berperan upaya, usaha dan tentunya doa. Berdoa semoga mendapat anugrah keselamatan dunia akherat .
Nah sekarang mari kita bicara soa ngawur. Hanya beda tipis dengan ngatur yaitu beda huruf T dan W saja namun memiliki makna sangat berbeda. Ngatur boleh saja dilakukan manusia sesuai dengan wewenang keduniaan dalam lingkup jabatan dan pekerjaan. Ketika seseorang sok ngatur-ngatur bukan urusan nya maka dia bisa dikatakan ngawur.
Ngawur juga dimaknai sebagai satu kebodohan. Artinya seseorang walaupun punya kewenangan dalam jabatan namun ketika membuat keputusan tidak sesuai dengan peraturan perundangan berlaku maka dia bisa dikatakan pejabat ngawur.
Ilustrasi dokumen foto di artikel ini bisa jadi relevan dengan kosa kata ngatur dan ngawur. Alat berat hanyalah sebuah benda mati, dia di atur atau dioperasikan oleh operator yang terlatih dan ahli. Ketika alat berat tersebut di pegang oleh orang tidak ahli maka fungsi dari alat tidak maksimal malahan akan membahayakan orang lain.
Demikian pula ketika alat di opreasikan oleh petugas yang ahli namun si petugas sedang tidak dalam kondisi sehat jiwa raga . Bisa jadi dia kecapekan (letih sangat) atau malah mabok maka akan muncul istilah ngawur. Hakekat dari permisalan ini ketika terjadi di penguasa maka bisa diperkirakan betapa besar musibah akan terjadi.
Oleh karena itu awak tak hendak membahas lebih jauh yang jelas ketika ngatur dan ngawur bersekutu maka terjadilah bencan. Musibah dan segala macam peristiwa menrugikan pihak lain bahkan alam pun akan murka.
Salam Literasi
BHP 070121
YPTD.








