

KONTEMPLASI
OKI SIWI
KTA PGRI 09030602530
Jalan kehidupan sungguh tak terduga. Penuh kejutan dan cerita berseri. Menulis cerita diri dalam bingkai kontemplasi. Berada lagi kita di awal tahun yang baru. Tertulis kembali halaman baru buku kisah hidup ini. Puluhan tahun sudah dilewati dari detik dan menitnya sampai hari, minggu dan bulannya. Renungan akan yang telah lalu dan harapan cita di masa datang, kembali digelar dan diurai satu per satu. Berbagai sisi diri dituliskan sebagai manusia yang menghamba, sebagai manusia yang berkarir dipekerjaan, dan berbagai label dalam ikatan kasih keluarga, ibu ayah, anak, mantu, besan, orangtua lain sebagainya.
Berkilas balik bahwa manusia di dunia menghamba kepada Tuhannya. Keberadaan diri dengan iman yang naik dan turun. Lalai, tersadar, bertobat dan kembali tunduk dalam tawadu. Putaran ketaatan diri yang kadang berubah kadang konstan. Manusia yang beriman akan terus bersabar dan menjalankan semua takdir yang ditulis Tuhan Yang Maha Kuasa. Godaan akan dunia sesekali memberikan khilaf yang tersesalkan. Namun itulah perjalanan hidup tidak ada yang sempurna seperti cerita dan novel dan film yang berakhir dengan kisah yang bahagia. Duka dan air mata juga cerita yang harus tetap dituliskan betapapun menyedihkannya.
Bekerja mencari nafkah tulisan kisah utama dalam kehidupan seseorang. Berbagai pekerjaan bisa dilakukan untuk hidup. Ada yang mudah dan berlimpah rezeki walau hanya sedikit usaha yang dilakukan. Ada juga yang terseok seok setiap hari mencoba mencukupi makan di atas meja. Setiap manusia punya tantangannya masing-masing dalam berkarir. Ada yang beruntung hobinya bisa menghasilkan uang, ada juga yang diberi kesempatan berkali-kali mencoba, berhasil, gagal, dan bangkit lagi. Persaingan dan perebutan kesempatan dan pelanggan hal yang biasa terjadi. Ada yang jujur ada juga yang curang.
Berkeluarga pasti akan ada cerita konflik, perbedaan pendapat, saling menyakiti tapi juga ada cinta, dukungan dan kash sayang yang tercurah. Manusia yang dewasa seharusnya dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik dilakukan pada keluarga. Terkadang godaan dan hasutan menang dan merubah manusia. Lupa akan asal dan dirinya. Menjadi serakah dan angkuh untuk bersama. Kontemplasi diri terus menerus agar terlindung dari kealfaan akan menjadi baik dan bahagia. Merubah diri dan selalu berusaha menjadi lebih baik dalam tiap harinya.
Bertafakur di sepetiga malam dalam sujud sunyi penuh damai. Merenungi diri apa yang telah tercatat hari ini di buku besar catatan amal kita. Apakah ada manfaat nafas kita hari ini? Untuk siapa?Diri sendiri atau orang lain? Ada ditimbangan mana perbuatan kita hari ini?Baik atau buruk? Kita perlu mengevaluasi diri dan mengingat akan semua yang kita lakukan. Jika ada khilaf segeralah bertobat. Jika ada perbuatan baik lakukan lebih sering lagi. Muara komtemplasi adalah menjadi lebih baik kemudian di peroleh kedamaian. Jika masih ada gelisah maka mulailah mencari akar dari kegelisahan itu. Agar damai dalam hidup yang indah ini dapat tercipta.
Jakarta, 08 Februari 2021







