KMAA ke-1

CINTAKU MENULIS TUMBUH KEMBALI
Oleh : Supardi Harun Ar Rasyid
Malam ini aku masih terjebak oleh rasa rindu. Cinta yang tulus untuk mengenang masa-masa di mana aku sering ketemu. Ya..terkenang saat aku memulai menulis. Buku diaryku penuh dengan tulisan puisi dan tulisan surat cinta di masa SMA. Tiap malam minggu minimal satu buah puisi aku tulis. Tidak untuk siapa-siapa hanya untuk seseorang yang aku cintai. Seperti ibuku, ayahku, kakakku dan juga teman-temanku.
Namun hobi menulisku seakan hilang disapu oleh angin malam yang selalu datang. Entah kabur kemana aku juga tidak mengerti. Mungkin karena kesibukan bekerja,atau tulisanku sudah tidak berarti apa-apa. Dan menulis juga terasa tidak ada manfaatnya.Karena duapuluh tahun yang lalu gawai atau handphone belum ada menjamur seperti sekarang. Sulit mengungkapkan perasaan jikalau ditulis di buku atau mengirim artikel ke koran dengan paket pos.
Pada tahun 2018 yang lalu aku menemukan komunitas penulis,namaya Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya ( KGPBR ) Awalnya undangan dari seorang teman yang mengajak untuk hadir di acara bagaimana menulis puisi. Akupun hadir di acara tersebut yang dilaksanakan di SMK AL Muhajirin Bekasi. Di acara tersebut aku bertemu dengan ketua KGPBR Bapak Prawira Sudirjo.Dan aku dimasukan di grup whatshap ( WAG KGPBR ).Di grup inilah para guru dan orang-orang yang mempunyai hobbi menulis memposting karyanya atau tulisannya . Ada yang berupa puisi,cerpen, pantun,reportase ataupun kata-kata motivasi. Para anggota grup saling mengapresiasi. Yaitu dengan memberi emoji jempol, tulisan-tulisan seperti, keren, mantap,mantul dan sebagainya. Dengan cara inilah semangat untuk menulis setiap hari tumbuh.
Ada salah satu anggota KGPBRyang menggagas menulis antologi puisi. Yaitu Bapak Endang Ade Rustandi ,beliau menuliskan ajakan di WAG menulis puisi dengan tema “ gempa tzunami di Palu, Sulawesi . Saat itu aku belum tahu apa itu antologi.Seperti apa bentuknya . Bagaimana menulisnya. Karena memang aku belum pernah menulis buku antologi. Setelah aku tanya-tanya ke Bapak Endang tentang antologi puisi aku nekat untuk ikut. Inilah pengalamanku pertama kali menulis buku antologi. Di dalam buku tersebut peserta minimal nulis satu buah puisi. Dan maximal 5 buah puisi. Serta syarat yang lain adalah peserta wajib berkontribusi membeli buku antologi minimal dua buah buku. Saat itu aku menulis 2 buah puisi. Yang berjudul “ Bumiku Bergetar dan Doaku Untukmu”
Setelah diberi waktu sekitar satu bulan para penulis telah mengirim puisinya masing-masing dan terkumpul sekitar 52 judul puisi dari 26 penulis Kumpulan puisi tersebut dibukukan dalam sebuah buku antologi yang berjudul Eligi Puing Cinta Yang Tersisa. Inilah buku antologiku yang pertama. Setelah melihat cover buku tersebut tertulis namaku Supardi HR. Hatiku bangga. Senang dan ingin menulis buku antologi yang lainnya.
Menjelang hari ibu 22 Desember 2019 anggota KGPBR menyelenggarakan kembali penulisan buku antologi. Kali ini puisi yang betemakan kasih sayang kepada seorang ibu. Dari anggota grup yang berjumlah sekitar 87 orang, ada 18 penulis yang ikut menulis puisi. Termasuk aku di dalamnya. Buku antologi puisi tersebut berjudul Cahaya Cinta Bunda. Terdiri dari 73 judul puisi dari 18 penulis.Buku tersebut terdiri dari 171 halaman.Buku ini adalah buku antologiku yang kedua.
Pada awal tahun 2020 aku ikut pelatihan menulis di WA group yang di gawangi oleh Bapak Nyuwan S Budiana. Kelas tersebut di beri nama 30 Hari Belajar Menulis. Selama sebulan setiap sore jam 4 beliau memberikan materi teknis penulisan lewat WAG. Antara lain bagaimana mencari ide, mengembangkan ide, menyiapakan bahan ,menyusun alur tulisan , sampai menjadi sebuah tulisan .Bapak Nyuwan S Budiana juga selalu memberikan motivasi kepada peserta group. Biasanya beliau memposting setiap jam 09.00 pagi. Sehingga sakupun juga termotivasi untuk menulis. Maka supaya materi yang sudah diberikan tidak hilang aku save dan aku jadikan satu file.
Dari mengikuti pelatihan 30 hari belajar menulis bersama Bapak Nyuwan S Budiana tersebut , lahirlah buku antologi yang berjudul “ Mimpi Jadi Penulis”. Inilah buku antologiku yang ketiga. Di buku ini ada 13 penulis . Antara lain, Kusumawardani,Restu Aulia,Evi, Muliadin Iwan, Chusnul Afifah, Hendro Yulianto, Nunur Syarifah, Adiyati AB, Meisyarah Abdul kadir,Supardi HR, Gina Hendro dan Naura Atha Nafisah. Buku tersebut terdiri 74 halaman, dan diterbitkan oleh Azkiya Publishing:2020.
Buku antologi tersebut berisi tentang kisah apa yang melatarbelakangi para penulis ingin menjadi seorang penulis. Ada yang menuliskan kisahnya berawal dari sekretaris,Berawal dari lomba karya tulis. Ada juga yang menuliskan kisahnya bahwa menulis itu suara hati, menulis itu sebuah warisan , ingin memberikan royalty bukunya untuk kaum duafa. Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang di tulisdi buku tersebut.
Sejatinya buku tersebut bermuka dua. Yaitu satu buku tetapi memiliki dua judul yang berbeda. Yaitu cover pertama berjudul “ Menulis itu Mudah “ 7 Trik Jitu menulis Buku yang di tulis tunggal oleh NS.Budiana. Di dalam buku tersebut berisi tentang trik menulis buku. Semua ada 7 trik, yang di kupas habis dan lengkap oleh bapak NS.Budiana.dan judul buku di cover belakang 2# Mimpi Jadi Penulis.
Di saat kondisi pandemi covid-19, anggota group Antologi Indonesia berhasil menulis buku antologi yang berjudul Kisah di Balik COVID -19. Ini adalah buku antologiku yang ke-4. Buku ini memiliki cover yang indah berwarna hijau . Buku ini bercerita tentang kisah para penulis selama di rumah dalam situasi pandemi covid-19. Ada 26 penulis yang ikut andil dalam penulisan buku tersebut. Mereka menuliskan kisahnya masing-masing selama pandemi covid -19. Buku ini terdiri dari 198 halaman. Dan diterbitkan oleh Penerbit Rejeki Baru:2020.
Dari beberapa judul buku antologi ini aku merasa bersyukur bisa bertemu dengan komunitas orang-orang yang senang menulis dan berliterasi.Serta bisa bertemu dengan Bapak Nyuwan S Budiana seorang penulis buku,Ghostwriter,Co-writer. Dari beliaulah aku bisa mengembangkan hobi menulis dan literasi.Aku berharap setelah menulis buku antologi ini , aku bisa menulis buku tunggal.
Karena aku sadar bahwa penulis itu tidak pernah dilahirkan, tetapi dia diciptakan. Bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir,tetapi tumbuh oleh motivasi dan tekat yang kuat.
Bekasi, 21 Agustus 2021








