
Mesin Ketik Jadul
Di akhir tahun delapan puluh-an, ada lomba menulis cerpen di kampusku, IKIP Malang (Sekarang UM). Digelar oleh HMP, Himpunan Mahasiswa Penulis, sebuah Geng Literasi kampus, saat itu. Meski kuliahku di jurusan Biologi, aku cukup kepo untuk mencoba bergabung dalam lomba ini. Hitung-hitung untuk menggali potensi seraya menguji kemampuan diri.
Belum pernah aku menulis cerpen, meski secuil. Namun, kesukaanku untuk membaca cerita fiksi yang tidak panjang ini, cukuplah menginspirasi untuk menuliskannya. Menyeruak tanya dalam khayal, _bagaimana ya rasanya, kalau aku bisa menulis cerpan,_ begitulah kira-kira monologku bersuara.
Khayalan itu cukup menjadi energi untuk menuangkannya dalam pena, Mengambil tema tentang kisah keluarga yang berduka. Seorang ibu mengalami depresi akibat putranya yang meningggal dunia secara tiba-tiba.
Kepergian putranya yang kala itu duduk di bangku SMA, begitu mendadak. Nyawanya tak selamat usai tersambar petir. Ya, insiden petir di siang yang cerah itu telah membawa pergi remaja itu untuk selamanya.
Adi nama anak itu. Aku berteman dengannya sejak kecil, karena rumah kami di kampung berdekatan. Sekolah di SD yang sama, kami terpisah saat SMP. Namun akhirnya kami kembali belajar di padepokan yang sama, SMA 2 di kota marmer, Tulungagung.
Kembali ke topik ingin ikut lomba, akhirnya aku nekat ikut ajang kompetisi itu. Hal itu kulakukan setelah mendapat pinjaman mesin ketik. Tehnologi pengetikan jadul dan serba manual, sesuai zamannya. Cetak-cetik, cetak-cetik. Setelah kutekuni selama dua malam naskah pun jadi.
Segera kukirimkan naskah cerpen dengan judul ‘Hikmah di Balik Sapaan Petir’ itu kepada panitia. Lembaran naskah kulipat rapi di amplop dan kumasukkan di kotak Panitia. Namanya juga era Jadul, aku belum mengenal email, bahkan internet saja mungkin belum lahir.
Seminggu berlalu, pengumuman dan pembagian hadiah digelar. Tak nyangka, cerpenku juara harapan 1. Lumayan tentunya untuk seorang pemula. Allah memberi hadiah, cerpen pertamaku menempati posisi itu. Gembira tiada tara!
Bersambung ke KMAA-5
KMAA-4. Direpro dari artikel penulis yang tayang di gurusiana.id









1 komentar