Menulis Karya Nonfiksi
#Menepis Kesulitan Menulis
Menulis karya nonfiksi berbeda dengan karya fiksi. Menulis karya fiksi cukup dengan berimajinasi, sementara nonfiksi penuh dengan syarat yang sedikit nyelimet dan butuh data yang akurat dan kudu punya dasar referensi yang jelas dan kebenarannya bisa dibuktikan lewat empiris.
Apa yang dimaksud karya tulis nonfiksi?
Nonfiksi adalah klasifikasi untuk setiap karya informatif (sering kali berupa cerita) yang pengarangnya dengan itikad baik bertanggung jawab atas keberanan atau akurasi dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disajikan.Wikipedia.
Jading nonfiksi merupan karya tulis yang berdasarkan fakta, data, dan sesuatu yang terjadi pada dunia nyata. Dan kebenarannya bisa dibuktikan lewat empiris. Salah satu karya tulis nonfiksi adalah karya tulis ilmiah.
Timbullah sebuah pertanyaan, kenapa banyak orang enggan bersentuhan dengan karya ilmiah? Apakah karya tulis ilmiah itu sulit atau ada alasan lainya?
Ada yang beranggapan bahwa menulis karya ilmiah terlalu nyelimet sehingga banyak orang enggan berjibaku dengan karya ilmiah, biasanya mereka yang menulis karya ilmiah para mahasiswa. Itu pun mereka tulis karena tuntutan akademis sebagai persyaratan kelulusan. Jika tidak para mahasiswa juga enggan untuk menulis karya ilmiah. Jangankan karya ilmiah berupa non fiksi, karya fiksi saja mereka enggan menulis. Ya, ada si yang menulis, tapi hanya segelintir mahasiswa saja, itupun jurusan bahasa dan sastra.
Begitu sulitkah menulis nonfiksi berupa karya ilmiah? Ya, dibilang sulit ya, memang kenyataannya sulit. Sebenarnya sulit itu terjadi karena tidak tahu caranya. Jika tahu caranya pasti mudah. Sama halnya ketika para pelajar ditanya tentang pelajaran yang tersulit, pasti jawabannya Matematika. Ini yang sering terdengar oleh kita.
Terkadang yang membuat sulit itu mindset atau pola pikir kita. Jika kita melakukan sesuatu sebelumnya sudah bilang sulit, pasti yang keluar dalam pikiran adalah kesulitan. Timbullah rasa malas sehingga enggan untuk melakukan tindakan. Tapi kalau pikiran kita sudah terbangun mudah, maka yang sulit pasti menjadi mudah dan timbullah rasa semangat untuk melakukan tindakan. Jadi semua kembali kepada mindset/pola pikir.
Sesuatu yang sulit, jika dipaksakan untuk mengerjakan, pasti kita bisa melewatinya. Terbukti setiap tahun pengguruan tinggi mengadakan acara wisuda. Ini bukti otentik ternyata menulis karya non fiksi berupa karya ilmiah mudah.
Karya tulis non fiksi bukan saja tertuju pada karya ilmiah, bisa juga karya yang pernah kita alami dan rasakan. Karena menulis pengalaman bukan imajinasi, tapi ada berupa fakta-fakta yang otentik. Beda dengan karya imajenasi, hanya berupa hayalan atau halusinasi. Walau terkadang dalam karya nonfiksi tercampur dengan cerita fiksi. Mungkin hanya sebagai hiburan atau penggambaran suasana yang melatarbelakngi cerita tersebut.
Beberapa contoh karya nonfiksi berupa pengalaman penulis sendiri atau orang lain yang dijadikan obyek penulisan. Contoh, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang menceritakan tentang memori kehidupan beliau mengejar cita-cita. Habibi dan Ainun karya BJ. Habibi, yang menceritakan memori beliau tentang kasihnya terhadap seorang istri yang bernama Ainun, Negeri 5 Menara karya A. Fuadi, yang menceritakan tentang suasana menuntut ilmu di pondok modern Gontor Ponorogo Jawa Timur, dan GBS Menyerangku karya penulis sendiri, yang menceritakan memori tentang penyakit yang dialami penulis.
Demikian karya tulis nonfiksi, bukan saja yang bersifat ilmiah semata, tapi juga tulisan yang berkisar tentang memori atau pengalam hidup seseorang. Di mana semua karya tulis tersebut dapat dibuktikan kebenarannya melalui empiris.




