Sahabat Pena yang Pulang Lebih Awal

Terbaru1 Dilihat

Sahabat Pena yang Pulang Lebih Awal

 

Pagi itu hari Sabtu, hari libur yang seharusnya terasa menyenangkan. Biasanya di pagi hari seperti ini, Bu Widya punya banyak waktu luang untuk meregangkan otot, berolahraga, memasak, mencuci, dan menyetrika pakaian. Namun pagi itu terasa berbeda. Saat dia baru saja membuka gawai, matanya langsung tertuju pada percakapan yang sedang ramai di salah satu grup WhatsApp.

 

Di kolom komentar tertulis kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un yang dikirim Bu Syifa. Seketika merinding menyelimuti tubuhnya, hatinya berdegup kencang. Bu Widya segera menyimpulkan bahwa ada seseorang dari lingkaran grup itu yang telah meninggal dunia. Grup tersebut hanya berisi sekitar lima puluh orang yang sudah saling mengenal layaknya keluarga.

 

Rasa terkejut Bu Widya semakin dalam ketika mengetahui bahwa yang pergi adalah Pak Kukuh, sahabat lamanya. Pak Kukuh dikenal sebagai sosok yang penuh semangat. Mereka sudah berteman sejak sama‑sama merintis dunia kepenulisan, berhasil melahirkan beberapa buku bersama. Hubungan pertemanan mereka terjalin erat, bukan untuk berselisih, melainkan saling melengkapi satu sama lain dalam hal menulis. Terakhir kali mereka berkomunikasi, Pak Kukuh yang merupakan ketua IKAPI Kabupaten Tulungagung, masih sempat memberikan masukan berharga untuk penyempurnaan kalimat‑kalimat di dalam cerpen karya Bu Widya.

 

Bagian Cerpen yang Sudah Dialirkan

 

Keakraban mereka pun tidak hanya terbatas pada urusan tulis‑menulis maupun pencetakan buku. Pak Kukuh juga memiliki hobi lain, yaitu mengoleksi anggrek serta memelihara lebah lanceng. Pertemuan terakhir mereka berlangsung di salah satu kegiatan di Perpustakaan Daerah Tulungagung.

 

Saat itu Bu Widya sempat bertanya, “Pak, bagaimana kondisi kesehatan Bapak sekarang?”

 

Pak Kukuh pun menjawab dengan nada tenang, “Semacam sudah banyak penyakit yang menempel di tubuh saya, Bu. Kalau sedang sehat, saya akan hadir. Kalau sedang ada keluhan, saya istirahat di rumah saja. Bahkan ke sekolah pun kadang hanya absen, yang terpenting tugas‑tugas untuk siswa tetap terkirim. Kondisi kesehatan saya memang naik turun.”

 

Bu Widya pun menyadari perubahan pada sosok sahabatnya. Dulu Pak Kukuh terlihat segar, tinggi, dan tegap, kini tubuhnya makin kurus. Wajahnya tampak pucat, bagian putih matanya pun terlihat agak kekuningan, memicu kecurigaan di hati Bu Widya. Namun semangat Pak Kukuh seolah tak pernah luntur. Beliau masih ikut mengikuti lomba penelitian yang diselenggarakan Kemendikbud, sebuah perlombaan yang sama sekali bukan hal sepele. Itulah momen pertemuan terakhir Bu Widya dengan Pak Kukuh.

 

Kini semangat Pak Kukuh itu masih terasa dan terus diingat oleh Bu Widya, meskipun sahabatnya itu sudah tiada. Dalam hatinya, Bu Widya mendoakan agar Pak Kukuh mendapatkan khusnul khatimah, semoga mereka bisa bertemu kembali di surga kelak.

Sahabat

Tinggalkan Balasan