Roti yang Menggelinding

Terbaru6 Dilihat

 Roti yang Menggelinding

 

 

Pagi itu cukup cerah, meski sedikit mendung, sehingga udara terasa sejuk — tak sepanas hari-hari sebelumnya. Hari itu, Bu Ida ingin mengajak satu-satunya anak perempuannya, Sa, sekadar berjalan-jalan ke kota. Inilah momen sederhana yang ingin ia wujudkan, menikmati sedikit rezeki yang baru saja ia terima.

 

Sebagai seorang guru dengan anak yang sedang kuliah, gaji memang selalu terasa berlalu begitu saja. Tak banyak yang tersisa untuk ditabung, apalagi akhir-akhir ini. Kakaknya yang sedang menyelesaikan penelitian membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Suatu hari, Sa pernah berkata dengan nada sedikit kecewa, “Ma, kakak terus yang diberi uang. Aku nggak pernah diberikan jajan.”

 

Saat itu juga Bu Ida berjanji, “Nanti kalau ibu sudah gajian, aku ajak kamu ke kota untuk jalan-jalan dan beli jajan.”

 

Dan hari itu, janji itu akan ditepati. Kebetulan hari Minggu, pagi-pagi sekali Bu Ida sudah bangun, memasak dan menyiapkan sarapan. Setelah semuanya selesai, mereka bersiap berangkat.

 

“Aku nanti mau beli kue, Ma,” kata Sa.

 

“Iya, ibu juga pengen roti goreng. Nanti kita bawa pulang, makan bersama Ayah dan Kakek ya,” jawab Bu Ida tersenyum.

 

“Iya, Ma! Roti goreng yang dekat perempatan rumah sakit itu enak, murah lagi,” tambah Sa bersemangat.

 

Mereka berdua pun berjalan menuju tempat itu. Dengan menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah, mereka pulang membawa dua kantong kresek besar berisi roti goreng yang masih hangat. Sederhana saja, tapi bagi Bu Ida dan Sa, kehangatan pagi itu terasa jauh lebih berharga dari apa pun.

 

 Roti yang Menggelinding

 

Belum jauh dari toko, aroma gurih roti goreng membuat Sa tak sabar ingin mencicipinya.

 

“Ma, aku ambil satu dulu ya, aku makan sambil jalan,” kata Sa.

 

“Makan jangan sambil jalan, berhenti dulu,” tegur Bu Ida.

 

“Enggak apa-apa, Ma. Sambil jalan aja, biar cepat sampai rumah,” jawab Sa.

 

Bu Ida pun menjalankan sepeda motor perlahan, memberi waktu Sa agar bisa makan dengan tenang. Namun tak lama kemudian, Sa merasa haus. Wajar saja, roti goreng yang hangat memang membuat tenggorokan kering.

 

“Ma, aku haus. Beli es jeruk ya?” pinta Sa.

 

Mereka pun berhenti di sebuah kedai, membeli dua gelas es jeruk yang segar. Setelah membayar, Sa kembali ke samping motor.

 

“Mumpung rotinya masih hangat, enak banget nih. Nanti sampai rumah sudah tidak hangat lagi,” katanya.

 

Sa membuka kantong kresek, mengambil dua roti. Tangannya terasa repot — satu tangan memegang es jeruk, tangan lain memegang dua roti. Bu Ida hendak membantu, tapi belum sempat. Saat Sa menggigit salah satu rotinya, satu roti terlepas dari tangannya dan menggelinding jatuh ke aspal.

 

“Makanya, kalau makan berhenti dulu,” kata Bu Ida lembut namun tegas.

 

Wajah Sa seketika merah padam. Seorang pemuda petugas kebersihan yang sedang menyapu di sana melihat kejadian itu, lalu tersenyum ramah. Semakin Sa merasa malu, menunduk pelan sambil menahan rasa bersalah.

 

 

 

Tinggalkan Balasan