Jogokariyan, Yang Tidak Megah namun Membawa Berkah

Terbaru1265 Dilihat
Masjid Jogokariyan –dokpri Anis Hidayatie

Mengikuti ibu saya dalam rangka wisata religi, saya mengetahui wujud asli masjid yang kondang sampai ke tempat tinggal saya di Malang, Jawa Timur.

Jogokariyan nama masjidnya, terletak di jantung kota Yogyakarta. Berada di perkampungan penduduk. Satu lokasi yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali. Pikir saya, seperti masjid lain yang terkenal, pastilah letaknya di pinggir jalan raya besar dengan halaman luas untuk parkir.

Ternyata jauh dari bayangan saya, ada tempat parkir memang untuk bus besar atau mobil yang terletak di seberang jalan. Tanah kosong luas disediakan sebagai lahan parkir. Semua pengunjung masjid parkir di situ karena masjid tak memiliki lokasi khusus tersendiri.

Rupanya Masjid Jogokariyan memang tidak dibangun khusus untuk kepentingan musafir, tetapi untuk memenuhi kebutuhan warga akan tempat salat berjamaah. Gedungnya tidak megah sebagaimana layaknya masjid terkenal. Ukurannya juga tidak besar. Mepet dengan jalan.

Menurut penuturan guide bus yang menemani saya, Mas Boy, masjid ini dibangun pada tahun 1966 dan mulai digunakan pada 1967. Nama masjid diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri, Kampung Jogokariyan. Tepatnya ada di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Masjid itu tidak mewah dan megah, namun membawa berkah bagi warganya. Selalu penuh ketika salat jama’ah apapun. Baik subuh, dhuhur, asar, maghrib, hingga isya’. Saya menyaksikan dan ikut berbaur di dalamnya ketika datang untuk melaksanakan shalat qashar Duhur dan asar.

Warga kampung memenuhi shaf, hingga luber ke halaman. Sesuatu yang jarang saya saksikan untuk shalat duhur. Rupanya ini ada sejarahnya, cerita nyata yang saya terpesona karenanya.

Pengurus masjid bukan sekedar mengurus masjid tapi juga melayani jamaah. Dana yang masuk ke masjid selalu langsung dimanfatkan untuk kepentingan umat, terutama jamaah yang selalu salat di masjid itu.

Saldo masjid selalu nol. Ada rincian pengeluaran juga pemasukan, tetapi saldo akhir tetap di angka nol. Hingga ada yang menjuluki masjid Jogokariyan sebagai “masjid saldo nol”. Uangnya untuk membantu seluruh kepentingan umat.

Warga sekitar masjid merasakan hal itu. Tidak ada lagi potret miskin di sekitar karena masjid siap membantu yang kekurangan.

dokpri Anis Hidayatie

Bahkan, bila ada musafir datang tak punya uang bisa minta bantuan, makan, uang atau menginap di tempat yang dimiliki masjid. Masjid ini tak pernah ditutup, apalagi digembok. Selama 24 jam buka untuk umum, siap menerima siapa pun yang datang untuk salat atau beristirahat.

Tidak ada kekhawatiran dengan keamanan karena masjid mempunyai unit usaha penginapan. Selalu ramai sehingga kondisi ini juga turut mengamankan kondisi masjid. Lagian, saldonya nol. Apanya yang mau diembat? Uang yang terkumpul selalu segera disalurkan. Tidak pernah ada jumlah banyak. Tidak menarik untuk dicuri.

Rombongan bus jamaah ibu saya telah selesai salat semua, bersiap melanjutkan perjalanan. Saya pun menuntun ibu menuju bus, menatap kembali masjid yang baru saya singgahi.

Ada rasa kagum pada keberadaan dan fungsi masjid. Bukan hanya tempat ibadah ritual semata, mengubungkan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberi edukasi bagaimana menjalin hubungan baik dengan manusia. Memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat.

Tidak sangat megah atau mewah, tetapi memberikan berkah pada jamaah. Itulah potret masjid Jogokariyan, yang terkenal juga ke berbagai belahan dunia.

Masjid ini sering dikunjungi tamu mancanegara untuk studi banding guna menelaah bagaimana sebuah masjid kampung bisa menjadi berkah bagi umat di sekitarnya. Masjid yang bisa memakmurkan jamaah.

Barokallah, sungguh ingin saya menerapkan di tempat saya, tetapi tangkapan pengelola masjid berbeda rupanya. Ada yang menolak dengan alasan, “Itu nanti salatnya lak bukan karena Allah, tapi karena bantuan.”

Padahal masjid di lingkungan saya terbilang megah, mewah, gedung dan fasilitas selalu diperbaharui. Tetapi rasa sunyi menyelimuti. Terjaga, bersih dan indah tapi minim jamaah. Hingga pikiran saya terusik. “Lalu masjid bagus dan megah kalau miskin jamaah buat apa?”

 

Anis Hidayatie untuk Inspirasiana

 

 

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar