Sudah sebulan aku berada di titik nol kehidupanku, aku berusaha bangkit dari ketepurukan. Memulai dari awal menata hatiku yang hancur lebur, tak pernah membayangkan bahwa aku yang selalu merasa baik – baik saja dalam rumah tanggaku, bagaikan sekam yang pelan – pelan memberi bara yang panas.
Flashback
“Hana, kita perlu bicara” dua hari sudah berlalu, foto itu masih ada di androidku
“Apa masih ada yang perlu kita bicarakan Bang.” Ucapku tak bermaya, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi batinku menjerit, tapi aku masih menatap suamiku yang penuh dusta dengan rasa tak percaya.
“Abang salah, Abang tidak mau lagi berselindung. Sudah setahun ini abang menikah lagi.” ucapnya dengan penyesalan yang entahlah menurutku bukan penyesalan tapi sandiwara karena aku mengetahui kedoknya memberikan aku madu yang pahit.
Ingin sekali aku bertanya kepada suamiku, apa kekuranganku tapi semua itu aku pendam, percuma bertanya kepadanya pasti jawaban yang aku terima pasti akan menyakitkan hatiku saja.
“Abang yang salah tidak cukup satu, tidak ada yang kurang dari Hana.” Ucapan suamiku seperti bisa membaca isi hatiku, tapi itu tidak membuatku bahagia.
“aku tidak punya kekurangan saja Abang menikah, bagaimana jika aku punya kekurangan tentu bukan setahun yang lalu mungkin baru seminggu kita menikah aku sudah mendapatkan madu.” Batinku terlalu sakit.
“Hana bicaralah, jangan hanya diam, Abang mohon.” Ucapnya dengan raut wajah memohon
“Kita pisah saja Bang.” Hanya itu kalimat yang spontan keluar dari bibirku yang kering karena dua hari ini aku tidak ada nafsu untuk makan dan minum.
“Istifar Hana, ucapan adalah doa jangan diucapkan lagi.” seperti putus asa suamiku mengatakannya.
“Pantas saja, setiap kita bergurau Abang selalu menyanyikan lagu senangnya dalam hati jika beristri dua.” Kesalku
“Bukan itu maksud Abang Ha.”
Belum tuntas ucapan suamiku, aku berlalu meninggalkan dia sendiri keluar kamar langkahku terhenti, ketika pegangan erat di tangan menghentikanku.
“Jangan seperti ini Hani, Tuhan saja memaafkan umatnya han.”
“Tuhan tidak suka sama orang yang berbohong Bang.” Ucapku sambil berusaha melepas pegangannya
“Hana, apa yang mesti Abang lakukan.”
“Tak ada pilihan Buat Abang, ingat sekarang dia hamil tak mungkin abang menceraikannya. Jadi hana saja yang pergi.” Ucapku mantap walaupun ada yang hilang dari ruang hatiku.
Masih banyak yang kalimat yang diucapkan suamiku, tapi tak satupun lagi jelas dipendengaranku. Kosong hanya itu yang aku rasakan.
***
Memulai dari awal tidak sama ketika aku masih muda, sekarang umurku di ambang senja tapi aku harus memulai dari nol dengan predikat janda yang tentunya menjadi titik awal sesuatu yang penuh perjuangan. Tidak guna menghela napas berat, walau berat dengan status baru yang selalu menjadi momok buat yang bergelar wanita tapi lebih berat jika berada dalam dusta dan membagi cinta tentunya. Titik nolku bermula, hanya doa teriring serta memohon doaku diijabah semoga ini keputusan yang membuat aku tidak terus berada di titik nol dengan duka mengangga.***








