Sang Pelitaku

Terbaru252 Dilihat

Melihat pelitaku terbaring lemas dengan wajah mengiba adalah saat hati ini sedih teramat dalam. Terjatuh disaat memanjat adalah sebuah akibat dari apa yang dilakukan tanpa mendengarkan peringatan.

Air mata yang berurai sebagai bukti betapa sakitnya jatuh dari ketinggian yang tidak seberapa, tetapi akibatnya cukup membuat pelitaku tidak bisa bangkit sendiri.

Dibawa ketempat pijit tradisional adalah solusi pertama. Menangis adalah caranya menahan sakit. Sang ayah hanya bisa berdo’a dalam keheningan sembari memberi semangat kepada sang pelita.

Dua hari berlalu ternyata bekas jatuh menampakkan rupanya. Lebam yang membiru bercampur merah adalah bagian yang membuat tubuh pelita kecilku tidak bisa bergerak.

Karena kwatir maka esok paginya sang pelita dibawa lagi ketempat pijit. Tangisan menemani lagi selama proses pemijitan berlangsung.

Setiap sore sepulang bundanya bekerja, bagian yang sakit dipijit pelan-pelan dan dikompres dengan handuk kecil hangat. “Pelan-pelan ya,nda!” Itu adalah kata yang terucap oleh sang pelita.

Sang bunda melihatkan ketegarannya, namun jauh dilubuk hati air matanya mengalir. Ada rasa penyesalan yang terasa.

Tidak bisa mendampingi disaat jatuhnya sang pelita. Belum bisa maksimal menemaninya. Maafkan bunda ya,nak!

Alhamdulillah saat ini sang pelita sudah mulai berjalan sendiri walau belum sempurna. Semoga esok lebih baik ya, nak.

Love you sayang (Alya Nafisa Sang Pelitaku)

Tinggalkan Balasan