Merintis Kembali Ketoprak di Tengah Gempuran Zaman
Tung Widut
Ketoprak, kesenian tradisional yang dulunya menjadi primadona hiburan masyarakat luas, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kini perlahan mulai tergerus zaman. Hadirnya media sosial seperti YouTube mengubah cara orang mencari hiburan, sehingga kesenian ini perlahan hilang dan hanya menyisakan sedikit kelompok yang masih bertahan serta aktif tampil hingga hari ini.
Bagi mereka yang pernah hidup di masa kejayaannya, nama Ketoprak Siswa Budoyo tentu tak asing lagi. Pada tahun 1990-an, grup ini menjadi yang terbesar dan diakui sebagai kiblat dunia ketoprak. Nama besarnya menginspirasi berdirinya banyak grup ketoprak lain di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Saat itu, Siswa Budoyo dikenal sebagai grup paling modern. Mereka sudah menggunakan teknologi pencahayaan yang canggih dan memadukan gerakan seni bela diri atau silat dalam adegan peperangan, sehingga penampilannya terlihat megah dan dinamis.
Setiap malam pertunjukan selalu dipadati penonton. Bahkan ada judul cerita yang sangat diminati hingga diputar ulang selama berminggu-minggu. Salah satu contohnya adalah lakon Sampek Ingtei, kisah cinta romantis antara Ingtai dan Sampek yang diangkat dari cerita Tiongkok. Lakon ini begitu digemari hingga masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia pun selalu memadati lokasi pertunjukan saat cerita ini dibawakan. Itulah masa-masa emas ketoprak yang kini tinggal kenangan, di mana sayangnya generasi muda masa kini sudah banyak yang tidak mengenal kesenian ini lagi.
Dari rasa kehilangan dan kekhawatiran akan punahnya warisan budaya ini, tumbuh kesadaran baru. Didorong rasa cinta yang mendalam, para pecinta seni akhirnya memberanikan diri merintis grup ketoprak baru.
Grup ini di beri nama Kridho Manunggal yang berdralamat di desa Kolomayan kecamatan Wonodadi Blitar. Berdiri sejak tahun 2024, grup muda ini memang baru beberapa kali tampil, namun semangatnya terus menyala di tengah minimnya perhatian masyarakat. Kehadiran mereka adalah wujud nyata cinta terhadap seni ketoprak, bukti bahwa kesenian yang pernah berjaya itu masih pantas untuk terus dirawat, ditampilkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.Prestasi membanggakan pun sudah mulai diraih. Grup ini telah mendapatkan dukungan resmi dari Dinas Sosial dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Blitar. Bahkan, Krido Mandunggal telah dipercaya untuk tampil mengisi acara yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial.
Keunikan grup ini terletak pada keberagaman anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan yang berbeda. Namun, perbedaan itu justru menyatukan mereka menjadi satu kesatuan yang solid dan mampu menyajikan pertunjukan yang utuh dan memukau.
Sebagai agenda selanjutnya, Kredo Mandungga dijadwalkan akan tampil pada 12 Mei mendatang di Lapangan Ponggok kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar
dengan membawakan lakon legendaris “Ande-Ande Lumut”. Ini adalah wujud nyata cinta terhadap seni ketoprak, bukti bahwa kesenian yang pernah berjaya itu masih pantas untuk terus dirawat, ditampilkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Semoga langkah mereka terus didukung dan ketoprak tetap lestari di tengah arus zaman.
Merintis Kembali Ketoprak di Tengah Gempuran Zaman








