Episode Hari Lahir si Lelaki Gondrong

Cerpen, KMAB, YPTD711 Dilihat
Suara.com

Proses panjang untuk jadi sesuatu ya, Mba. Kawan kawan yang hebat. Lingkungan yang tepat. Eh… ada yang ultah ya. Tambah usia itu biasa. Tapi tak pernah merasa tua itu luar biasa. Agar terus semangat berkarya. Seakan-akan besok kita masih tetap ada. Doa terbaik buat yang ultah. Semoga diberi kehidupan barokah, sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin…

Titip salam tos buat yang ultah lewat Mba ya. Semangat menorehkan aksara ya, Mba.

Salam literasi.

Tulisan yang muncul di kolom komentar cerpenku saat mas Rizal tambah usia, kuscreenshot dan kukirimkan langsung kepada yang bersangkutan. Waktu itu bulan Oktober.

“Siaaap. Terima kasih, Mbak. Artinya dia sehat.”

“Iya. Alhamdulillah. Dia sekarang lebih senang baca2 di K. Tapi tetep nulis. Mungkin untuk konsumsi sendiri dulu. Atau bisa jadi dibukukan.”

“Syukurlah. Sing penting gak berhenti nulis. Wong, tulisannya bagus. Mau tanya masalahnya. Segan. Khawatir melintasi pagar.”

“Kalau tentang masalah, aku juga nggak berani tanya. Intinya suaminya cemburu kayaknya.

“Oh. Iya juga. Peluang itu selalu ada, ya? Apalagi kalo penulis fiksi. Salah-salah bisa gawats.”

“Ya itulah. Kan pembaca kadang menganggap tulisan fiksi itu beneran. Padahal ya belum tentu. Kalaupun kisah nyata, biasanya disembunyikan. Aku sendiri klo baca cerpen ya terbawa alur dan ngira itu beneran. Hahaha…”

“Tuh, kaaaaaaan.” Chatnya terkesan kecewa.

**

Mas Rizal sebenarnya protes, dari semua akun, hanya akunnya yang tidak diberi ucapan langsung dari penulis itu.

Mas Rizal merasa diperlakukan tidak adil.

“Ya, mas Rizal tanya sendiri ke dia. Kalau aku sudah diblokir.”

Aku sendiri sebenarnya penasaran juga dengan mitra editor yang pernah bekerja sama denganku, kok sampai tak berani mengucapkan langsung di akun mas Rizal.

Ada apa sebenarnya? Ah… sudahlah! Pertanyaan itu tak bakal terjawab. Itu yang kutahu.

Tinggalkan Balasan