![]() |
| Flyer Wajib Kamis Menulis |
Kamis ini ada 4 kegiatan yang saya ikuti. Karena itu saya sedikit terlambat mengirimkan tantangan Kamis Menulis.
Pertama, mengikuti kelas Adel outing ke Sisi Kali Ciberang, untuk mengetahui alam sekitar desa.
![]() |
| Belajar mengenal alam sekitar |
Kegiatan kedua, memilih pemenang tulisan Mayor Nani yang mewajibkan peserta untuk dijadikan juara 1,2, dan 3. Simak link berikut. https://aamnurhasanah12.blogspot.com/2021/09/inspirasi-menulis-dari-sahabat.html
Ketiga adalah mengisi kelas Belajar Bicara (Publik speaking telat). Saya bertugas menggantikan Pak Indra karena beliau berhalangan tugas.
Keempat adalah tantangan Kamis Menulis di Cakrawala Guru Blogger Nasional (Lagerunal). Kali ini, terasa amat menantang. Program ini salah satu program Lagerunal yang paling di nanti oleh para peserta.
Kita harus menaklukkan tantangan tiga kata yang sebelumnya diundi oleh Pak Sudomo, S.Pt. Selaku penanggungjawab program Kamis Menulis.
Minggu yang lalu, peserta diminta membuat list berupa daftar tiga kata, yang dikumpulkan menjadi undian putaran.
![]() |
| WAG Lagerunal |
Setelah ada 21 list daftar kata yang diusulkan para peserta, Besan Mo memutar spin. Berikut adalah proses undiannya. https://youtu.be/p5SSB0iLZgE
Keluarlah tiga kata Buku Buka Baku. Sempat mengerutkan dahi, apakah bisa menyelesaikan challenge kali ini. Bismillah, meskipun baru selesai mengisi kelas, saya berusaha menuntaskan setiap tantangan.
Ide tulisan ini muncul saat memiliki pengalaman menjadi editor buku baik fiksi maupun nonfiksi.
Naskah pertama yang saya edit adalah naskah novel Juminah dengan judul Seindah Takdir Cinta.
Saat buka WA, saya kaget sekali ketika Juminah meminta saya mengedit novel yang sudah ia buat selama di Arab Saudi. Saya kaget sekali, merasa diri masih fakir ilmu dan tidak PD. Namun, saya tak kuasa menolak. Akhirnya saya garaplah naskah Juminah sampai 300 halaman.
Pengalaman pertama begitu menggoda, selanjutnya Bu Kanjeng meminta saya mengedit buku antologi Haru Biru Hijrah Meraih Berkah. Saat itu kuratornya Bapak Suparno yang sempat terpapar Corona dan harus menjalani isolasi mandiri.
Setelah Novel Juminah dan buku antologi Haru Biru Hijrah, ada beberapa peserta kelas Om Jay yang naskahnya diedit oleh saya seperti Pak Khoirul Anwar, Bu Endah Hamidah, Bu Lisna Nasaru, buku best practice Kepala Sekolah SMP Subrayon Tiga, Pantun Merdeka, dan antologi Tim F1 Literasi, Solusi Saat Pandemi.
Hal yang saya lakukan saat mengedit naskah teman-teman adalah dengan cara membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) online versi 5. Di dalam naskah yang saya garap, banyak peserta yang tidak menggunakan kata baku. Dalam KBBI dituliskan kata yang sesuai kitab Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Hal ini sudah menjakdi lumrah bagi seorang editor untuk memperhatikan setiap kata yang lahir dari goresan para penulis.
Editor harus jeli melihat penggunaan kalimat dalam setiap paragraf. Apakah kata tersebut sudah baku atau belum? Apakah naskah sudah sesuai PUEBI? Apakah naskah kalimatnya sudah efektif atau belum? Apakah naskah peserta ada sedikit rancu atau kurang jelas, maka kita harus menghubungi Si Penulisnya.
Pengalaman adalah guru terbaik. Bukalah jendela dunia dengan menulis dan membaca. Jangan takut tulisan jelek karena bakat itu harus diasah. Teruslah menulis hingga bukumu berbuah manis.
#KarenaMenulisAkuAda(KMAA)
#Day24KMAAYPTDChallenge



















