Hempasan Lautan Asa
Mataku masih tertuju pada dua dokumen yang bersampul plastik warna merah dan biru. Sambil berdiri dan tertegun di depan pintu, aku memandangi cover dokumen tersebut. Kening mengerut seakan memaksa otak berfikir.
“Hmm, bukankah hari ini tanggal dua puluh sembilan Oktober dua ribu delapan belas? Ah, sudahlah” batinku.
Kupegang erat kedua dokumen itu dan merapatkannya ke dada, sembari membenahi tali tas, aku melangkah menuju halaman. Mobil Pak Kordik terlihat bergerak, pengawas melambaikan tangan ke arahku. Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku.
Kupandangi mobil Pak Kordik sampai berbelok ke kiri menuju jalan raya.
” Bu Kepala, karena serah terima jabatan sudah selesai, kini saatnya saya berpamitan” suara Kepala Sekolah membuatku tertegun.
“Oh, ya Pak. Terima kasih” ujarku sambil menyatukan kedua tangan.
Kepala Sekolah beranjak menuju parkiran, lewat pintu belakang Dia meninggalkan sekolah.
Aku pun masuk ke kantor kepala sekolah. Aku mengambil posisi di ujung ruangan, dekat kursi tamu. Meja tanpa alas, di atasnya terdapat setengah potongan kaca, di bawah kaca terletak sebuah kertas bertuliskan bahasa Arab dengan tinta warna hitam.
Kuletakan dua dokumen tadi di atas meja sebelah kiri. Tas yang masih menggantung di bahu pun diletakkan di atas meja, dekat dokumen tadi. Kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Gorden lusuh masih menghiasi setiap jendela ruang. Laba-laba merangkak melintasi lekuk rimpel bagian atas gorden. Ketika mata masih meneliti sudut ruang, tepat di belakang lemari sebelah kanan.
Seorang guru laki-laki yang sudah tidak muda lagi, masuk ruangan dan mengucapkan salam. ” Permisi Bu Kepala, saya mau membunyikan bel tanda istirahat” kata Guru tersebut.
“Oh, ya silakan Pak!” jawabku.
Setelah bel berbunyi, siswa berhamburan ke luar kelas. Aku pun berdiri dan berjalan menuju pintu. Aku melihat beberapa siswa berjalan, bahkan ada yang berlari ke arah kantor kepala sekolah. ” Aduh, kenapa pada ke sini?” pikirku.
” Selamat pagi Bu” beberapa diantaranya menyapaku, sambil berlalu di samping kantor.
” Pagi juga anak-anak” sahutku sambil tersenyum dan mengamati tingkah laku mereka.
Seluruh siswa yang terlihat ke arah kantor, ternyata cuma lewat di samping kantor. Aku pun beranjak dan mengikuti siswa ke belakang kantor kepala sekolah. Beberapa guru pun terlihat sedang menikmati makanan. Kantin berjejer di halaman belakang ruang kepala sekolah. Terdapat empat buah bangunan kantin yang tidak terawat. Aku berhenti di sudut bangunan kantor kepala sekolah.
Siswa berebutan belanja, sipenjual seperti kewalahan melayani pembeli. Aku tidak ingin melihat lebih dekat, karena beberapa atap kantin ada yang terbuat dari plastik, dan seng. Tidak rapi sama sekali.
Kebalikkan tubuh dan kembali ke dalam ruangan.
“Bukankah sekolah ini binaan sebuah perusahaan swasta, kenapa tidak punya kantin yang bersih










