Refleksi sederhana untuk diri
Beberapa tahun lalu saya diminta mengembangkan sebuah tempat wisata yang mangkrak. Tempatnya potensial tapi sudah bertahun tahun ga diurus dan banyak fasilitas yang belum ada.
Alhamdulillah setelah perjuangan jungkir balik, tempat itupun mulai berkembang dan dikenal banyak orang. Mulai rame lah jadi tempat reuni dan kegiatan. Sekolah sekolah juga mulai masuk renang disana
Nah saya juga terima vendor vendor yang mau bisnis disana. Salah satunya ada yang pengen buka kafe disana. Mereka ngejar ngejar supaya bisa masuk disana.
Emang niat awalnya juga mau berbagi peluang jadi saya kasih jalan masuk lah.Singkatnya bisnislah mereka disana.Tapi setelah beberapa bulan mereka tutup dengan beragam sebab.
Nah pas saya mau bikin kontrak dengan owner, anak kafe ini masuk lagi ke tempat kita. Parahnya mereka langsung masuk menghadap owner. Saya dilewat begitu saja. Padahal dulu saya yang mengenalkan mereka pada owner.
Parahnya lagi,ownernya juga menerima mereka. Bahkan kabarnya saya mau ditendang sefihak. Investor anak anak kafe itu bawa tim untuk mengembangkan tempat itu.
Double kagetlah pastinya . Saya yang mengembangkan tempat itu dari semak belukar. Setahun itu waktu habis nungguin owner yang pelit ga mau keluar modal.
Saya berusaha sendiri ngembangin sebisa bisa. Eh, sudah mulai rame malah diberikan ke orang lain. Ini lagi vendor ga tahu diri,udah dibantu malah nusuk dari belakang.
Yah, gimana lagi. Saya disana hanya mitra. Bukan pemilik.Sudah berusaha bicara dengan anak anak kafe dan owner tapi selalu gagal dengan beragam alasan.
Ya sudah mengalah saja. Saya yang pergi dari sana. Malu ribut gara gara duit. Tindakan mereka itu pilihan mereka. Selama ga melakukan hal yang sama, saya akan aman dan selamat.
Ya memang ada hak saya disana yang tidak diberikan owner. Jumlahnya lumayan puluhan juta. Tapi memang nagih ke mereka sama aja dengan minta gunung.
Dulu juga waktu masih disana,ada beberapa event yang uangnya langsung mereka ambil. Ga sesuai perjanjian.
Pendek kata mundur aja lah. Saya yakin selama ga salah,Allah akan bayar dengan hal dan kondisi lebih baik.
Alhamdulillah sekarang Allah bayar dengan proyek lain. Allah beri beberapa pekerjaan pengembangan bisnis lain yang tak kalah potensial.
Tapi sebenarnya,suka heran juga,kenapa ya orang orang yang suka jahilin mesti ujungnya celaka. Padahal saya ga pernah berdoa apalagi lakuin hal yang jelek jelek. Woles aja.
Beneran, owner tempat itu,suami istri, tiba tiba meninggal dunia dalam waktu berdekatan. Padahal mereka masih cukup muda. Wallahi saya ga pernah berbuat aneh aneh. Apalagi kirim kirim santet atau apalah.
Seperti saya bilang, mereka yang zalim, itu pilihan mereka. Saya ga mau doain mereka yang jelek. Serahin aja sama Allah, beres masalah. Kalau ternyata mereka meninggal cepat ya itu mah takdir aja.
Ambil hikmah saja, owner itu sudah tak bisa memperbaiki kesalahan lagi. Mereka tinggal menunggu akibat perbuatan selama di dunia.
Saya mah bersyukur masih diberi waktu hidup. Meski banyak melakukan kesalahan tetapi masih punya waktu untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Berlanjut waktu iseng iseng saya nagih ke ahli warisnya, tapi sama sekali ga direspon. Ketika minta tolong orang lain biar disambungin, jawabannya membuat kaget. Kata anaknya itu urusan orangtuanya. Dia ga ikut ikutan dan lepas tangan.
Gilaaa…itu orangtuamu mungkin sedang disiksa disana kalau ada hak orang yang ga beres di dunia.Kok bisa bisanya lepas tangan ya…
Pelajaran penting lagi. Kalau orangtua tidak peduli halal haram, suka serempet serempet hak orang, jangan harap anaknya jadi orang shalih yang zuhud.
Anak anak mencontoh apa yang dilakukan orangtua. Apalagi kalau sampai makan harta haram, mau sekolah di sekolah Islam dan pesantren juga tetap saja “bermasalah”.
Bodo amat ah. Itu pilihan anaknya, saya mah sudah melaksanakan kewajiban. Terserah Allah gimana baiknya aja sudah gini mah.
Lalu itu anak anak kafe nasibnya gimana?Saya pernah pergi ke sana karena ada sedikit urusan. Saya mah lempeng aja. Toh hubungan dengan fihak manajemen taman masih baik.
Mereka bahkan meminta dibantu lagi ngurus tempatnya. Tapi saya tolak. Malas ketemu anak anak kafe ingusan itu.Masih untung bisa nahan diri ga ngamuk ke mereka. Lebih baik ga ketemuan lah biar adem.
Saya lihat bisnis anak anak kafe itu makin berkembang. Bener kata orang sekarang bisnis mereka makin maju. Sekarang semua space mereka sewa sendiri.Bagus lah.(meskipun miris juga,sekarang mah banyak botol botol bekas minuman keras banyak geletakan di tanah).
Lha itu kok katanya zalim tapi bisnisnya makin berkembang. Kalau memang zalim,mereka harusnya hancur dong?!
Saya ingat perkataan super Coach Setiabudi bahwa bagi kita umat muslim, perhitungan akhir itu bukan di dunia. Meskipun sukses di dunia belum tentu selamat di Akherat karena penentuan akhir sukses pengusaha muslim itu nanti di Akherat ketika ditimbang amal.
Bener sekali. Jadi pelajaran penting bagi saya dan para pengusaha yang masih hidup. Jangan sibuk mengejar dunia. Fokuslah pada sukses 3 dunia. Sukses di dunia ini, sukses di dunia alam kubur, dan sukses di dunia akhirat.
Segeralah bebenah dan memperbaiki diri jangan sampai keburu mati, nyesel berkepanjangan kita nanti.










