Menunggu di Dalam Kata “Nanti”

Terbaru10 Dilihat

Barangkali manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu menunda hidupnya sendiri dengan sebuah kata yang sangat sederhana: nanti.

Kata itu tidak terdengar berbahaya. Ia tidak memaksa, tidak menolak, bahkan tidak tampak sebagai penyangkalan. Nanti hanyalah sebuah jeda yang terdengar wajar—begitu wajar sehingga kita mengucapkannya hampir tanpa kesadaran.

Kita mengatakan nanti kepada banyak hal.

Kepada mimpi yang ingin kita mulai.
Kepada niat baik yang ingin kita lakukan.
Kepada kata maaf yang ingin kita sampaikan.
Kepada orang yang ingin kita temui.
Kepada kebaikan-kebaikan kecil yang sebenarnya bisa kita lakukan hari ini.

Nanti saja.

Seolah hidup adalah halaman panjang yang selalu menyediakan waktu tambahan untuk semua yang kita tunda hari ini.

Namun waktu, sebagaimana alam bekerja, tidak pernah benar-benar mengenal kata nanti. Ia hanya mengenal gerak yang terus berlangsung. Pagi yang berubah menjadi siang, siang yang perlahan tenggelam dalam senja, dan malam yang tanpa suara menutup satu hari dari kehidupan kita.

Tanpa kita sadari, hidup berjalan melewati semua kata nanti yang kita ucapkan.

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan manusia tentang sesuatu yang sering kita lupakan dalam kesibukan menunda itu:

“Ingatlah lima perkara sebelum lima perkara:
masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
sehatmu sebelum datang sakitmu,
kayamu sebelum datang miskinmu,
waktu luangmu sebelum datang sibukmu,
dan hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al-Hakim)

Hadis ini seolah menegur kebiasaan manusia yang terlalu akrab dengan kata nanti.

Ketika kita muda, kita merasa masih ada banyak waktu.
Ketika kita sehat, kita merasa tubuh akan selalu kuat.
Ketika kita lapang, kita merasa kesempatan akan selalu datang.

Padahal semua itu adalah titipan yang diam-diam sedang berjalan menuju batasnya.

Masa muda perlahan berubah menjadi usia yang menua.
Sehat bisa berubah menjadi sakit dalam sekejap.
Kelapangan waktu bisa tiba-tiba digantikan kesibukan yang tidak kita rencanakan.

Dan yang paling sering kita lupakan: hidup sendiri pun memiliki batas yang tidak pernah kita ketahui.

Di situlah kata nanti menjadi begitu rapuh.

Sebab sering kali kita mengucapkannya seolah-olah masa depan adalah milik kita sepenuhnya. Padahal yang benar-benar kita miliki hanyalah waktu yang sedang berada di tangan kita saat ini.

Hari ini.

Hidup tidak pernah meminta kita melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya meminta satu hal yang sangat sederhana: memulai.

Memulai kebaikan meskipun kecil.
Memulai perubahan meskipun perlahan.
Memulai langkah meskipun hati masih penuh keraguan.

Karena sering kali satu amal kecil yang dilakukan hari ini lebih berharga daripada seribu niat baik yang kita tunda untuk nanti.

Pada akhirnya, waktu akan mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sangat sunyi: bahwa hidup tidak pernah benar-benar berlangsung di masa depan.

Hidup selalu terjadi di detik yang sedang kita jalani.

Dan di antara detik-detik itulah manusia memilih—apakah ia akan terus duduk di ruang tunggu bernama nanti, atau bangkit dan mengambil satu langkah kecil hari ini.

Sebab seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan sangat jelas:
kesempatan dalam hidup selalu datang sebelum sesuatu yang lain mengambilnya dari kita.

Masa muda sebelum tua.
Kaya sebelum Miskin
Sehat sebelum sakit.
Lapangan sebelum sempit.
Hidup sebelum mati.

Karena itu, mungkin keberanian terbesar dalam hidup bukanlah melakukan sesuatu yang besar.

Melainkan keberanian yang sangat sederhana:
berhenti menunggu di dalam kata nanti,
dan memulai kebaikan sekarang, selama waktu masih memberi kita kesempatan

Tinggalkan Balasan