Coretan Tanpa Bekas
Bukan Guru Penggerak
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Bel sekolah berbunyi, menandakan hari sudah pukul 07.20 WIB. Satpam sekolah menutup gerbang, menandakan tidak ada lagi yang boleh keluar masuk lingkungan sekolah. Terlihat salah seorang anak laki-laki memaksa masuk sebelum gerbang benar-benar tertutup. Ia menghembuskan nafas kelegaan setelah berhasil melewati penjagaan satpam. Sekolah yang tertib, penerapan aturan membuat warga menjadi lebih disiplin. Untungnya mas Nyentrik sudah berada di lingkungan sekolah. Sehingga ia dapat menikmati suasana sekolah di pagi hari. Di sekolah yang dulu ia pernah menjadi tenaga kontrak untuk beberapa bulan. Terlihat guru-guru berjalan menuju kelas masing-masing. Guru piket sibuk dengan tugas rutin. Yakni mengecek kehadiran guru, mengecek kesiapan kelas, merapikan tempat piket, dan sebagainya.

Salah seorang guru piket mendatangi mas Nyentrik yang sedang berdiri di bawah pohon munggur. Guru tersebut mempersilahkan mas Nyentrik ke tempat piket untuk duduk setelah menanyakan maksud kedatangannya. Kedatangan mas Nyentrik tidak lain adalah untuk menemui salah satu wali kelas dari keponakannya. Kebetulan mas Nyentrik menggantikan kakak perempuannya yang sedang pergi keluar kota. Setelah menunggu beberapa saat, seorang guru memberitahukan bahwa wali kelas keponakannya baru bisa bertemu sekitar setengah jam lagi.
“Permisi Mas, Ibu Rita baru bisa bertemu sekitar setengah jam lagi karena sedang menyiapkan berkas, mohon maaf sebelumnya.” Tutur salah satu guru piket.
“Oh tidak apa-apa, terima kasih atas pemberitahuannya.” Balas mas Nyentrik.
Semenit kemudian datang penjaga sekolah mengantar secangkir kopi, mempersilahkan mas Nyentrik untuk menikmatinya. Tidak lupa mas Nyentrik mengucapkan terima kasih pada penjaga sekolah sambil mengangguk. Mas Nyentrik memegang gagang cangkir, menyeruput kopi yang masih panas itu. Tidak disangka, kopi hitam membuat mas Nyentrik mengingat berbagai kenangan tentang guru disana. Paling tidak ia sudah melihat tiga guru yang ia kenal saat menuju ke kelas. Setelah ingatan tersebut muncul seketika mas Nyentrik berpikir akan berbagai hal hebat tentang guru-guru tersebut. Tentu saja itu merupakan waktu yang tepat bagi mas Nyentrik sambil menunggu wali kelas keponakannya. Kebetulan saat ini sedang marak pembicaraan tentang guru penggerak. Apakah mereka yang dimaksud guru tersebut? Pikir Mas Nyentrik.
Mas Nyentrik memulai dari guru A, salah satu guru yang tidak pernah terlambat ke sekolah. Guru yang selalu berusaha mengerti kebutuhan peserta didik. Guru A sangat dekat dengan semua anak di kelas. Saat mengajar ia selalu berusaha melibatkan peserta didik di dalamnya. Berbagai cara ia lakukan agar peserta didik memahami materi pelajaran. Dalam keseharian guru A ini juga sangat peduli dengan teman sesame. Dulu mas Nyentrik sering melihat guru A membantu berbagai masalah guru di sekolah terutama terkait data.
“Wah, pasti guru A ini guru penggerak,” ucap mas Nyentrik dalam hati.
Sesaat kemudian mas Nyentrik mengingat guru B yang tadi juga dilihatnya. Guru B merupakan seorang yang supel dalam bergaul. Suka mengingatkan teman sekantor tentang berbagai hal terkait administrasi sekolah. Ia tidak pernah berhenti bertanya permasalahan yang dialami guru lain. Jika mendapatkan jawaban, ia langsung membantu memecahkannya. Kepeduliannya itu juga berlaku pada peserta didik. Jika ada peserta didik yang kurang paham dengan materi pelajaran, guru B akan melakukan banyak hal. Tentunya untuk membuat peserta didik paham. Pernah suatu kali mas Nyentrik mendapati guru B berada di perpustakaan sampai berjam-jam pada hari minggu. Ternyata guru B sedang mencari metode yang tepat bagi salah satu peserta didik yang terlalu aktif di kelas.
“Wah guru B juga luar biasa, pasti beliau juga guru penggerak,” ucap mas Nyentrik lagi dalam hati.
Kagum dengan guru-guru yang ia kenal, mas Nyentrik tidak lupa tentang guru C. Guru yang satu ini juga luar biasa. Menurut mas Nyentrik, Guru C tidak henti-hentinya mengajak guru-guru lain mengikuti pelatihan. Dengan kegigihannya, teman-teman guru di sekolah mau ikut berbagai pelatihan. Guru C selalu bersedia membantu guru jika mengalami kesulitan saat mengikuti pelatihan. Sehingga guru C sering kedatangan salah satu guru di luar jam sekolah untuk meminta bantuannya.
“Ya mau bagaimana lagi, guru C memiliki angan-angan agar peserta didik memiliki pembelajaran lebih baik setiap harinya.” Pikir mas Nyentrik mengenang guru C.
Mas Nyentrik hanyut dalam kenangan yang ia miliki bersama guru-guru yang ia kenal. Tanpa sadar telah duduk di sebelahnya seorang guru dengan setumpuk berkas di pangkuannya. Guru tersebut ternyata wali kelas keponakan mas Nyentrik, bu Rita. Diatas tumpukan berkas yang ia bawa terdapat daftar nama guru. Mas Nyentrik membaca tulisan paling atas daftar tersebut, “Daftar Guru Penggerak.” Saat mas Nyentrik lihat dengan seksama, tidak ada nama tiga guru yang beberapa menit yang lalu ada dalam pikirannya. Justru yang salah satu nama yang ada disana adalah guru sering melakukan hal yang tidak dimengerti mas Nyentrik. Seperti yang tiba-tiba sudah mengikuti suatu kegiatan lomba atau pelatihan. Yang tidak pernah mas Nyentrik melihat gerak-geriknya dalam mengingatkan guru lain atau mengajak untuk ikut suatu kegiatan. Meski mas Nyentrik tidak terlalu mengenal guru tersebut, ia dapat tahu dari postingan di sosial media. Bahwa guru tersebut selalu memposting apa yang sedang atau selesai ia lakukan.
“Wah tentu saja, guru A, Guru B, dan Guru C tidak pernah melakukan hal demikian, ikut kegiatan yang berbulan-bulan lamanya juga tidak. Apalagi berniat untuk menjadi kepala sekolah dengan mengikuti program tertentu. Wah bukan tipe mereka.” Batin mas Nyentrik sambil melihat salah seorang guru yang mendekat.
Setelah guru tersebut semakin dekat, mas Nyentrik dapat mengenalinya dengan sangat baik.
“Ternyata salah satu guru yang ada di daftar..!” Ucap mas Nyentrik sambil membaca suatu tulisan pada pin yang dipakai, “Guru Penggerak.”













