Ki Jogoboyo
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Kalau diurutkan sesuai hirarki yang mana duluan lahir, pasti Orang tua dari kakek atau nenek yang paling duluan ada. Kurang lebih seperti ini, orang tua kakek atau nenek dari kakek atau nenek, kakek dan nenek, bapak dan ibu, anak dari bapak dan ibu, dan terakhir adalah anak dari anak bapak dan ibu. Kalau dalam silsilah orang Jawa bisa seperti ini; Mbah Buyut, Simbah, Bapak atau Ibu, Anak, Putu, dan terakhir Buyut.

“Benar tidak ya..! Sudahlah, paling tidak aku tahu dimana posisiku sekarang.” Pikir mas Nyentrik di suatu sore, memikirkan urutan yang ia sendiri tidak begitu mengerti.
Mas Nyentrik mengingat salah satu cerita dari Ibunda yang selalu ia ingat sampai saat ini. Yakni kisah kakek Ibunda, mas Nyentrik bisa menyebutnya sebagai Mbah Buyut. Kisah yang membuat mas Nyentrik begitu terkagum-kagum. Terlebih Ibunda memiliki kebiasaan bercerita. Apa saja terkait dengan masa depan, semua cerita akan melebar. Meski demikian, cerita Ibunda selalu memberikan makna mendalam. Seperti cerita mbah buyut, kyai Jogoboyo atau Ki Jogoboyo, demikian mas Nyentrik memberikan julukan. Sebenarnya nama “Jogoboyo” diberikan pada mbah buyut karena beliau merupakan salah satu perangkat desa. Nama mbah buyut sebenarnya adalah “Mangun Dimejo.”
Sebagai perangkat desa yang bergelar Jogoboyo, mbah Buyut memiliki tugas menjaga keamanan desa. Sehingga tidak heran jika beliau mengenal dengan sangat baik wilayah geografis desa. Tidak ada perubahan yang beliau tidak ketahui jika berhubungan dengan wilayah desa. Mbah Buyut juga mengenal semua warga desa dengan sangat baik. Sehingga banyak permasalahan warga desa yang terjadi dapat beliau selesaikan dengan bijak.
Mbah Buyut hidup di masa sebelum kemerdekaan. Dimana semua desa masih dalam keadaan asri. Air sungai masih mengalir dengan lancar, warnanya jernih tanpa limbah. Hamparan sawah luas menghijau seperti lapangan sepak bola berskala internasional jika kita melihat dari jarak tertentu. Ekosistem di sawah masih benar-benar alami. Saat berada di sawah, kita akan bertemu berbagai binatang unik. Sedangkan pada malam hari, kita dapat menikmati cahaya kunang-kunang yang beterbangan. Sungguh indah alam di masa itu, akan sulit melukiskan di masa sekarang.
Meskipun demikian, pada masa itu kebutuhan pokok terkadang menjadi sebuah permasalahan masyarakat. Tidak tahu secara jelas mengapa hal tersebut terjadi. Yang pasti adalah persediaan beras yang selalu dapat diatasi, termasuk keluarga mbah Buyut. Suatu ketika istri mbah Buyut (Nenek Buyut) ingin mengajak makan cucu-cucunya, termasuk ibunda mas Nyentrik. Saat membuka persediaan makanan, lauk yang ada tidak cukup untuk mereka makan. Meski sudah berusaha mencari lauk lain, nenek Buyut masih belum dapat mengatasi persoalan lauk untuk makan. Pada saat itu, mbah Buyut yang melihat tingkah nenek Buyut menjadi langsung bertanya pada nenek Buyut.
“Ada apa Bune?” Tanya mbah Buyut seraya mendekati nenek Buyut beserta semua cucunya.
“Ini Pakne, ternyata lauk kita tidak cukup untuk makan bersama.” Jawab nenek Buyut seraya membuka tudung saji dimeja.
Mengetahui hal tersebut mbah Buyut hanya tersenyum simpul. Tanpa sepatah kata Mbah Buyut langsung menuju gudang peralatan. Ibunda mas Nyentrik melihat kalau mbah Buyut mengambil satu alat dari gudang. Ukuran alat tersebut menyerupai bakul namun memiliki pegangan. Bahan yang digunakan seperti terbuat dari rotan. Mirip sebuah jaring kecil, namun ibunda mas Nyentrik sangat yakin itu bukan jaring atau semacamnya.
Mbah Buyut keluar dari gudang, pergi meninggalkan rumah sambil berkata, “Tak tinggal sebentar Bune..!”
Terlihat nenek Buyut masih mencari-cari sesuatu di dalam rumah. Ibunda mas Nyentrik mengikuti mbah Buyut dari belakang karena penasaran. Sekitar lima menit perjalanan ibunda mas Nyentrik baru tahu kalau mereka sedang menuju sungai di pinggir kampung. Terdengar suara aliran air yang menandakan mereka sudah sangat dekat. Tidak tahu apa yang akan dilakukan mbah Buyut, ibunda hanya berpangku tangan saat tiba di pinggir sungai. Air sungai yang bening membuat ibunda untuk tidak menyentuhnya. Sesekali melihat ke arah mbah Buyut yang mengamati air sungai, namun pandangannya menembus jauh ke arah yang tidak tentu.
Tiba-tiba mbah Buyut meletakkan barang di tangannya ke sungai, memastikan alat tersebut tenggelam. Setelah itu mbah Buyut duduk di pinggir sungai. Tidak mengetahui apa yang dilakukan mbah Buyut, ibunda hanya mengikuti ke pinggir sungai. Dalam sekian detik setelah ibunda duduk, tiba-tiba air sungai menjadi keruh. Air mulai menutupi peralatan yang diletakan mbah Buyut. Beberapa saat setelah itu, air mula tenang. Ibunda mas Nyentrik tidak melihat lagi riak air sungai. Sungguh diluar nalar, ibunda sangat heran mengapa hal tersebut tiba-tiba terjadi. Mungkin itu hal yang biasa, namun menjadi tidak biasa ketika keanehan lain terjadi. Disekitar peralatan yang diletakan di dalam sungai, mulai muncul gelembung-gelembung. Seketika itu banyak ikan melompat, keluar bersama jumlah gelembung yang bertambah jumlahnya.
Bersambung…






