Coretan Tanpa Bekas
Long Distance Relationship (LDR) Keluarga Brilliant
Oleh: Arfianto Wisnugroho

Di dunia ini banyak pasutri yang menjalani Long Distance Relationship (LDR) dengan pasangan karena suatu alasan. Salah satu alasan yang kerap kita dengar adalah pekerjaan. Saking tenarnya alasan ini menjadi hal favorit yang bisa dijadikan bahan perbincangan. Pekerjaan sebagai alasan LDR menjadikan seseorang seolah tidak memiliki pilihan lain. Biasanya seseorang memiliki dua kemungkinan pilihan dengan konsekuensi masing-masing. Pertama tetap hidup terpisah, bertemu pada saat tertentu sesuai waktu yang disepakati. Misalkan seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan bisa setahun sekali. Kedua, salah satu mengalah untuk mengikuti salah satu pasangan. Pada pilihan kedua ini seseorang akan memperhitungkan keuntungan dan kerugian yang akan mereka alami.
Kedua pilihan tersebut terkadang memberatkan bagi mereka yang tidak kuat hidup terpisah dengan pasangan. Apalagi jika jarak yang terlalu jauh, membuat hati tidak tenteram. Pada saat tertentu akan muncul kecemasan yang jika tidak kuat dapat membuat stress. Namun mau bagaimana lagi, kehidupan akan terus berjalan. Meski terpisah cukup lama, sedetikpun waktu tidak akan berhenti ketika pasangan sedang bertemu untuk melepas rindu. Sehingga waktu yang ada harus dipergunakan sebaik mungkin. Seperti yang dialami Mr dan Mrs Brilliant, nama yang mereka sepakati untuk membesarkan hati keduanya. Mereka merupakan pasutri yang menjalani LDR lebih dari lima tahun semenjak menikah. Jarak keduanya terbilang cukup jauh, yakni 110 km.
Mr dan Mrs brilliant terbilang memiliki hati baja untuk menepis berbagai badai rumah tangga. Tentu saja, karena pekerjaan harus dilakukan secara profesional tidak peduli bagaimana kita menjalani. Terlebih mereka berdua merupakan tenaga pendidik di suatu instansi pemerintah. Aturan demi aturan harus ditaati karena dedikasi yang tinggi adalah salah satu alasan mereka bertahan. Selain itu sebagai perantau mereka tidak dapat mengandalkan anggota keluarga saat menghadapi masalah.
Mr brilliant harus ke rumah istrinya, Mrs brilliant, setiap seminggu sekali. Berangkat pada hari sabtu sekitar pukul dua siang dan kembali ke tempat tugas pada hari senin setelah sholat subuh. Rutinitas tersebut selalu dilakukan meski panas, hujan, dan badai. Karena hanya selama waktu itu Mr brilliant dapat bertemu istri dan anaknya. Selama waktu itu juga Mr brilliant harus membereskan pekerjaan rumah yang tidak dapat dilakukan istrinya. Hingga suatu ketika Mrs brilliant mengeluhkan keadaan. Wajar saja jika hal tersebut terjadi pada Mrs brilliant yang notabene seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karir. Mrs brilliant merasa lelah menjalani hari-hari dengan mengajar di sekolah sambil mengasuh anak. Rasa lelah tersebut terjadi bukan karena anak atau pekerjaan, melainkan karena beberapa orang yang memberikan komentar dan penilaian tentang keluarganya.
Penilaian tersebut biasa datang dari orang-orang sekitar yang ia kenal. Paling sering orang membicarakan tentang kesulitan Mrs Brilliant yang harus tinggal berdua dengan anak saat di rumah. Terkait suami yang tidak selalu ada setiap saat dan kurang peduli dengan keluarga. Terkadang orang tersebut melakukan Body shaming pada Mrs brilliant. Atau membicarakan anaknya yang harus dibawa ke sekolah. Memang benar Mrs brilliant harus menjaga anak setiap hari. Pernah ia menyewa pengasuh, tapi pengasuh tersebut tidak bertahan lama. Maklum saja, rumah yang ditinggali Mrs brilliant jauh dari kota. Dibelakang rumah terdapat perkebunan sawit yang luas. Saat hujan, air akan menggenang di sekitar tempat tinggal.
Sering ada hewan-hewan berbahaya masuk kedalam rumah. Pernah ia mendapati kalajengking yang sangat besar di rumah. Pernah juga ada ular yang masuk ke rumah. Bahkan ada yang sampai masuk kekamar Mrs brilliant. Sampai-sampai ia terkejut sampai menjerit sangat keras karena ada ular yang berada di atas tubuh anaknya saat tidur. Selain itu ada berbagai kejadian terkait permasalahan tempat tinggal. Tentunya semua itu menjadi horror. Terlebih beberapa kejadian tidak menyenangkan terjadi secara berulang. Sebenarnya Mrs brilliant dapat menahan semua itu. Omongan orang-orang tertentu yang hampir setiap hari didengarlah yang membuat ia kesal. Rasa kesal yang dirasa hampir setiap hari membuatnya capek. Ingin rasa berteriak ke orang yang berkomentar pada kehidupannya, namun semua tidak pernah ia lakukan. Mrs brilliant meluapkan rasa kesal dengan membaca buku atau menulis catatan harian.
Mr brilliant dan Mrs brilliant jelas bukan orang yang mudah terganggu dengan omongan orang. perkara Mrs brilliant merasa terganggu, mungkin itu adalah efek LDR dengan suami. Selama ini mereka adalah pasangan yang selalu menikmati kehidupan. Hidup sesuai dengan kehendak mereka. Alhasil mereka dapat mengatur segala hal terkait kehidupan secara mandiri. Dalam urusan keuangan, mereka sama sekali tidak memiliki hutang sehingga mereka merupakan orang bebas yang bahagia. Terkait perkataan orang tentang kehidupan keluarga Mr dan Mrs brilliant, kemungkinan mereka hanya iri. Mereka tidak mampu seperti yang dilakukan Mr dan Mrs brilliant.
“Ternyata memang benar, masyarakat dewasa ini suka merecoki urusan orang lain..!” Ucap mas Nyentrik sambil membolak balik sebuah buku yang selesai ia baca.
Mas Nyentrik melihat sebuah tas terbuka, dengan perlahan mas Nyentrik meletakan buku yang ia temukan tadi di samping tas tersebut. Terdapat sebuah tulisan dalam aksara Jawa pada buku tersebut. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah, “Keluarga Brilliant.”











