Coretan Tanpa Bekas
Ini Hari Minggu Mbak
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Anak-anak merupakan pribadi yang sangat unik. Tingkah mereka selalu saja tidak mudah ditebak. Apa yang mereka inginkan selalu berubah. Perubahan tersebut dapat berlangsung sangat cepat maupun lama. Semua tergantung mood yang dimiliki. Oleh karena itu anak-anak selalu bertindak acak. Mereka tidak tahan untuk melakukan satu aktivitas dalam jangka waktu lama.

Seperti yang terjadi pada Alam, anak berumur lima tahun yang selalu bergerak. Ia berjalan dan berlari dengan arah yang tidak pasti. Ia akan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain hanya dalam hitungan detik. Saat bergerak ke kanan orang mengira ia akan selalu ke kanan. Tapi tidak demikian, bisa saja dengan tiba-tiba ia balik arah. Sehingga kita tidak tahu pasti arah ia berpindah. Apakah ke kanan, kiri, depan, belakang atau samping itu suatu misteri.
Anak seaktif Alam seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari berbagai pihak Seperti saat di sekolah, guru harus bekerja ekstra untuk membuatnya belajar. Namun hal demikian tidak hanya menjadi beban guru, peran tetapi orang tua adalah kunci utama.
“Iya benar, setuju mbak!” Celetuk mas Nyentrik saat berbicara dengan Mbak Iis, salah seorang yang mumpuni dalam pendidikan.
Namun bagaimana lagi, orang tua alam selalu sibuk. Ayahnya seorang ASN di suatu lembaga pemerintahan tingkat kota, sedangkan Ibunya seorang tenaga administrasi di lembaga pemerintah tingkat kecamatan. Keduanya sangat sibuk dengan urusan kerja sehingga tidak mampu menghabiskan banyak waktu dengan anaknya. Karena pekerjaan tersebut Alam selalu bersama babysitter yang mereka percaya.
Kesannya sih keren, “Babysitter lho gaes..!” Ucap salah satu ibu-ibu di suatu acara ulang tahun.
Pastinya di acara tersebut Alam datang bersama baby sitter. Tentu saja ibu-ibu disana sedikit sewot. Hal tersebut karena Alam yang hiperaktif tersebut merebut mainan anaknya. Ternyata sikap sewot ibu tersebut juga dialami ibu-ibu yang lain. Mereka melihat anak-anaknya tidak nyaman ketika bersama dengan Alam. Sebut saja Gais, anak lelaki yang sedang asik bermain balon dengan Ais. Tiba-tiba Alam datang, merebut balon mereka dengan paksa yang menyebabkan balon meledak. Sontak ibu Gais dan Ais memindahkan mereka berdua ketempat lain agar jauh dari Alam. Tidak hanya mereka, dalam acara itu Alam juga mendatangi Caca dan beberapa teman lain yang sedang bermain ayunan. Alam dengan cepat mendominasi ayunan sampai Caca dan yang lain mengalah lalu pergi meninggalkan Alam.
Masih banyak hal yang Alam lakukan di berbagai kegiatan yang selalu membuat anak lain tidak nyaman. Sehingga setiap ada anak-anak bermain, mereka akan pergi beberapa waktu setelah Alam datang. Sehingga Alam selalu berakhir sendiri. Yang membuat banyak pertanyaan bagi kebanyakan orang adalah peran babysitter yang mendampinginya. Ia tidak pernah menganggap tindakan Alam adalah sesuatu yang perlu diluruskan. Ia juga tidak pernah memberikan nasihat pada Alam terkait perbuatan yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Terlepas dari benar atau salah, hal demikianlah masyarakat melihat dan mengalaminya.
Mungkin tidak semua yang dilakukan Alam salah, tetapi akan lebih baik jika ia sudah mengetahui beberapa batasan dalam bermain sajak dini. Jangan sampai kebiasaan itu terbawa sampai ia dewasa nanti. Namun pada kasus Alam ini adalah wajar jika ia memiliki perangai demikian. Hal tersebut selain rasa bebas yang ia miliki juga babysitter yang tidak memberikan peran positif dalam kehidupan sehari-harinya. Seharusnya kehadiran babysitter di samping memberikan dampak positif bagi Alam. Bukan hanya sekedar mengawasi setiap hari, menerima gaji setiap bulan.
“Tapi bagaimana dengan kedua orang tua Alam Mbak?” Tanya mas Nyentrik penasaran.
“Ya kemungkinan mereka lebih sering bertemu saat sore atau malam hari.” Jawab mbak Iis sambil memberikan salah satu kursi pada wanita yang dari tadi tidak nyaman dengan tempat duduknya.
Menurut Mbak Iis, Alam memerlukan perlakuan khusus dari berbagai pihak. Sikap seperti itu bisa diakibatkan karena pada awalnya orang tua memberikan kebebasan penuh pada anak. Orang tua tidak pernah menegur jika anak berbuat salah. Sehingga anak selalu merasa kalau yang ia lakukan adalah benar. Ditambah jika ia berasal dari keluarga berada, kemungkinan masyarakat sekitar tidak memiliki cukup keberanian untuk menegur si anak. Hal tersebut sangat tidak bagus bagi tumbuh kembang anak. Kalau hal tersebut berlanjut, dikhawatirkan anak akan memiliki temperamen yang kurang bisa diterima di masyarakat.
“Yaa, itu PR bagi orang tua dan semua masyarakat!” Kata Mbak Iis dengan gaya sok pintarnya.
Tiba-tiba seorang anak kecil menabrak mas Nyentrik, “Gubrak..!”
“Aduh…! Hai.. siapa namamu nak?” Tanya mas Nyentrik dengan nada lembut.
“Yeyeyeye…. Namaku Alam! Hehehe…!” Jawab anak tersebut sambil memeluk wanita di dekat Mbak Iis.
“Ini hari apa ya Mas?” Tanya mbak Iis pada mas Nyentrik dengan suara sangat pelan.
“Ini hari minggu…hari para orang tua pada libur!” Jawab mas Nyentrik dengan suara lebih pelan.
“Pulang dulu ya..” Imbuh mas Nyentrik sambil meninggalkan Mbak Iis.


