Coretan Tanpa Bekas
Keluarga Tanpa TV dan Smartphone
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Membesarkan anak itu tidak hanya sekedar mengirimnya ke sekolah, memberi makan dan tempat tinggal layak, membelikan mainan, dan membawa mereka jalan-jalan. Kalau hanya seputar hal tersebut dan teman-temannya, sudah pasti hampir semua orang tua melakukannya. Bahkan lebih dari itu, beberapa orang tua yang mas Nyentrik kenal malah selalu berusaha mengabulkan permintaan anak. Mereka berusaha keras agar anaknya mendapatkan yang mereka inginkan. Pada saat tertentu orang tua memberikan bonus tambahan. Yang penting mereka bahagia, itu sudah sangat cukup.

Namun tidak dengan keluarga Brilliant. Mereka benar-benar care dalam membesarkan anak. Semua yang dilakukan tidak sekedar membuat anak bahagia. Terkadang membuat anak tidak bahagia juga penting. Maksudnya adalah seorang anak tidak harus selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Anak juga membiasakan untuk dapat membaca situasi dan kondisi. Yang pasti tidak ada kesempatan anak untuk bermanja-manja tidak jelas.
“Keluarga Brilliant memang memiliki kebiasaan tersendiri…!” Ucap mas Nyentrik pada seorang teman.
Dalam kemajuan zaman yang serba digital, keluarga Brilliant masih saja menggunakan beberapa cara tradisional dalam membesarkan anak. Mereka memiliki keyakinan bahwa tidak semua yang tradisional itu kolot. Dalam pandangan keluarga Brilliant, hidup harus memilah mana yang terbaik dan mana yang baik. Hal itu dilakukan karena segala hal mungkin saja tidak berguna secara signifikan dalam hidup. Salah satu contohnya adalah perihal televisi (TV).
Sampai saat ini keluarga Brilliant tidak memiliki TV. Mereka sengaja menjauhkan anak-anak darinya. Menurut mereka TV bukanlah barang yang harus dimiliki. Justru akan memberikan efek negatif lebih banyak daripada efek positif jika tidak ada control yang baik dari orang tua. Pernah mereka bermaksud untuk membeli TV, namun mereka menunda setelah memperkirakan kemungkinan kecanduan yang akan dimiliki anak-anak mereka.
Selain TV, keluarga Brilliant juga menjauhkan anak-anak mereka dari smartphone sejak dini. Ternyata semua itu membuahkan hasil. Anak-anak keluarga Brilliant tidak tantrum dengan smartphone. Meski ada smartphone disampingnya, anak-anak akan santai. Mungkin sekali-kali mereka memainkannya, namun ketika diminta untuk berhenti, anak-anak langsung meletakkan smartphone tersebut. Seolah-olah mereka sadar bahwa bahwa hal tersebut memang tidak boleh dilakukan. Kalau dilihat segi usia, kedua anak keluarga Brilliant masih balita.
Sebagai ganti dari tidak adanya TV dan larangan memainkan smartphone, keluarga Brilliant mengalihkan dengan hal lain. Kegiatan tersebut seperti mewarnai, menggambar, bercerita, atau kegiatan lain yang lebih tradisional.
“Wah hebat juga keluarga Brilliant, bagaimana mereka melakukan hal tersebut?” rasa penasaran mas Nyentrik muncul, ia begitu ingin mengetahui metode yang digunakan keluarga Brilliant dalam membesarkan anak-anak mereka.
Usut punya usut, keluarga Brilliant melakukan hal yang kebanyakan dari orang tua tidak akan melakukannya. Hal memerlukan waktu yang lumayan lama jika mas Nyentrik menceritakannya. Sehingga mas Nyentrik menunda berbagi pada teman disampingnya. Ia hanya berkata, “Kamu pasti sangat penasaran..!”












