Malam Tarawih Pertama NA dan Cerita Lama

Coretan Tanpa Bekas

 

Malam Tarawih Pertama NA dan Cerita Lama

Oleh: Arfianto Wisnugroho

 

Pemuda yang mengenakan kaos oblong itu sangat rajin. Selama kerja bakti berlangsung ia tidak pernah berhenti bergerak. Mengukur, memotong, mengangkat, dan berbagai kegiatan kasar ia lakukan. Semua demi persiapan kegiatan yang akan berlangsung selama sebulan itu berjalan lancar. Sebenarnya bukan hanya karena kegiatan tersebut akan berlangsung lama. Tetapi memang ia adalah pemuda yang penuh tanggung jawab. Meski tidak menjadi orang yang menjadi tokoh inti dari setiap kegiatan, ia tidak pernah iri tentang setiap pekerjaan. Bahkan ia selalu membantu teman lain yang tidak satu bidang dalam kepanitiaan. Misalnya membantu bagian dokumentasi untuk mengambil foto dan video, meski ia saat itu berada di bagian perlengkapan. Semua ia lakukan tanpa merasa berat sedikitpun. Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun semua ada padanya.

Begitulah sifat dan sikap NA, salah satu pemuda di kampung mas Nyentrik. Di usianya yang kini sudah menginjak usia pernikahan NA masih aktif di organisasi kepemudaan tingkat kampung. Tetapi sampai saat ini ia masih sendiri, sementara teman-teman seusianya sudah menikah semua. Bahkan banyak sekali pemuda yang lebih muda darinya sudah memiliki anak. Mau bagaimana lagi, mungkin belum ada yang cocok. Jodoh itu misteri yang tidak mudah dipecahkan, menurut NA jika ada yang bertanya terkait jodoh. Daripada memikirkan hal tersebut, ia lebih suka memikirkan kegiatan apa saja yang akan memberikan keuntungan bagi masyarakat. Akan susah menghitung banyaknya kegiatan yang ia ikuti sejak bergabung dengan organisasi kepemudaan. Karena NA sudah banyak ikut berperan dalam setiap kegiatan kepemudaan selama 15 tahun. Artinya ia sekarang telah berumur sekitar 36 tahun. 

“Itu umur yang sangat layak untuk menikah!” Ucap mas Nyentrik dalam hati.

Namun NA tidak pernah menghiraukan akan usia dan pernikahan. Menurut NA saat mas Nyentrik tanya, “Biarlah kedua berjalan seperti apa adanya, tidak perlu kita mengomentarinya.” Mas Nyentrik tidak tahu persis maksud perkataan NA tersebut. Hanya saja setahu mas Nyentrik, NA pernah menjalin hubungan dengan salah seorang gadis di kampung sebelah. Berdasarkan informasi dari banyak pihak, orang tua gadis tidak memberikan restu pada hubungan mereka. Mungkin itu salah satu penyebab kalau ia masih sendiri sampai saat ini. Mas Nyentrik juga tidak begitu ingin tahu terkait hal tersebut. Na sendiri selalu merubah jalan pembicaraan jika mas Nyentrik menyinggung perihal pernikahan. Apalagi sore itu adalah persiapan terakhir untuk acara tahunan bagi semua umat. Mas Nyentrik tidak ingin menjadikan suasana tidak nyaman bagi NA, sehingga ia diam ketika ada beberapa orang menyinggung hubungan NA dengan si Dia.

Dia, gadis kampung sebelah yang katanya pernah pernah dekat dengan NA sudah menikah dengan saah satu pemuda. Tidak lain pemuda yang menikah dengan gadis tersebut saat ini tinggal di kampung mas Nyentrik. Mau tidak mau NA akan bertemu dengannya meski cepat atau lambat. Berita tersebut menyebar dengan cepat meski mereka baru pindah tadi sore. Dia dan suaminya membeli salah satu rumah di salah satu perumahan di kampung. NA yang sudah tahu hal tersebut justru santai, menurutnya itu semua adalah masa lalu. Meski demikian, NA berkata dalam hati agar tidak pernah bertemu. Ia tidak ingin mengenang sesuatu yang sudah berlangsung sekitar enam tahun lalu.

Sore itu persiapan yang untuk kegiatan hanya tinggal memasang lampu jalan. Lampu yang digunakan untuk menambah penerangan jalan agar lebih eksentrik. Lampu tersebut hanya sebagai penghias saja, karena penerang jalan sesungguhnya ada pada lampu utama. NA bersama pemuda lain memasang lampu yang memanjang di atas jalan. Sepanjang jalan dengan lebar empat meter itu memerlukan paling sedikit sekitar 75 lampu. Semua pemuda bermaksud membuat tiga baris lampu diatas jalan yang memanjang sekitar 25 meter. Waktu hampir masuk waktu adzan isya’. Semua pemuda berada pada posisi memasang lampu. Kebetulan pemasangan lampu tersebut tidak rumit. Dua pemuda bisa memasang lampu dengan ketentuan satu pemuda memasang, satu lagi membawakan peralatan. 

Kebetulan NA berpasangan dengan mas Nyentrik. Saat itu mereka sedang memasang lampu yang berada di ujung jalan. Tempat tersebut merupakan persimpangan jalan sehingga lampu utama tidak dapat menembus dengan jelas. Maka dari itu mereka tidak dapat melihat wajah orang yang sedang lewat dengan jelas. Meski saat itu banyak orang yang lewat, Mas Nyentrik dan NA tidak memperdulikan nama-nama orang tersebut. mereka hanya tahu kalau semua orang kampung sedang menuju masjid. Saat mas Nyentrik dan NA sedang memasang lampu, tiba-tiba smartphone mas Nyentrik berbunyi karena ada telpon masuk. Untuk itu mas Nyentrik menjauh karena keramaian orang lewat membuat suara tidak jelas. Pada saat itu NA kesulitan mengambil solatip yang jatuh. Karena salah satu tangan harus memegang lampu yang letaknya tepat diatas kepala, NA meminta bantuan seseorang yang sedang lewat saat itu.

“Maaf Mbak/Mas.. bisa minta tolong ambilkan solatip dibawah?” Tanya NA sambil fokus memperhatikan posisi lampu.

Tanpa banyak bicara seorang laki-laki mengambil solatip dan memberikannya pada NA. Kemudian NA memberikan kode pada operator kalau lampu terakhir sudah siap. Sesaat kemudian semua lampu menyala bersamaan dengan NA yang mengucapkan rasa terimakasih pada lelaki yang menolongnya. Lelaki tersebut hanya tersenyum, tanpa membalas sepatah kata pada NA. Lampu menyala, NA dapat melihat semua wajah orang yang lewat. Termasuk lelaki yang telah menolongnya. Bersama dengan lelaki tersebut, berjalan seorang wanita di sampingnya. NA dapat melihat wajah wanita tersebut dengan jelas karena saat mereka berdua berangkat menuju masjid.

NA hanya tersenyum tipis lalu berkata dalam hati, “Selamat menunaikan ibadah sholat tarawih!”

Mas Nyentrik yang sudah berada dibelakang NA dapat melihat dan mengetahui situasi yang sedang terjadi. Ia langsung menepok bahu NA sambil berkata, “Ayo tarawih, insyAallah ada rezeki yang lebih baik.”

Tinggalkan Balasan