
Jangan salahkan gerimis yang terhenti dan tak menyisakan kenangan lagi
seperti lembayung jingga yang mulai memudar tenggelam tergantikan malam
padamu yang kupuja maafkan bila hati terlalu menjalin asa yang tak berkesudahan dan tiada kau simpan meski seuntai benang
pada waktu yang terus berputar, dimana ada arah yang patah dan menghilang
aku bersembunyi diantara pohon-pohon kehidupan, menyembunyikan luka lalu yang tak pernah padam, tak tahu haruskah dilupakan atau maaf sebagai jawaban
Ketika hati dan cinta harus diperebutkan, ketika kebahagiaan dipaksa untuk terbagi, ketika yang kami punya telah terampas. hanya luka yang tersisa dari kisah purba
mencari daun-daun kesembuhan agar tak lagi merasa sia-sia perjalan ini, namun siraman hujan kegetiran telah meluruhkan semua harapan, ranting yang merapuhpun patah dan jatuh
di penghujung September kututup asaku, hingga terlupa akan luka
Tsm, 10 September 2021
*Puisi ke 3
pernah tayang di Pena Kata












