
Reza, Fary, dan Rival berjalan ke arah rumah Rival dekat kolam pemancingan tanggul Nosarara milik dokter Sari Mereka berjalan letih setelah seharian bermain dalam aktivitas sebagai anak anak kampung yang memang jago bermain.
“Minum di rumahku kita dulu” Rival.mengajak temannya sambil jalan menuju pintu dapur yang terbuka lebar. “Eh. darimana kamu tiga ini? Dari pagi tidak ada pulang makan” Bunda Mut ibunya Rival menyambut mereka dengan pertanyaan. “Dari bungi kami tadi bantu nenek Sadiyah,” jawab Rival singkat sambil menuangkan air di gelas untuk kedua temannya.
“Makan apa kamu tadi”? Lanjut bunda Mut. “Makan pisang goreng di rumah tante Mina,” sahut Fary meyakinkan. “Pulang mandi saja dulu, malam kenari lagi babikin mie kuah kita,” kata bunda Mut pada Reza dan Fary. “Iye, pulang dulu kami”
Baru saja sampai di pintu dapur hendak keluar, tiba-tiba Bunda Mut bertanya “Reza kamu bagaimana, mau pulang ke timur atau menginap di rumah nenekmu?” Reza menjawab pasti, “Iya saya tidak pulang Bunda, tidur di sini sama nenek.”
Sesampainya di rumah masing masing, mereka mandi dan berganti pakaian karena waktu Magrib tidak lama lagi. Fary mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung yang disampirkan di leher. Bertemu dengan Reza dan Rival di masjid Nurul Yaqin. Mereka berdua juga sudah siap dengan setelan baju koko gaya santri tulen. Masya Allah…aamiin.
Sesampainya di masjid, berwudhu dan merapikan sarung sholat. Terdengar azan mulai berkumandang. Para jamaah bergegas memasuki masjid. Reza dan kedua sahabatnya sudah siap dalam satu saf tepat di belakang imam. Mereka mengambil posisi agak ke samping. Tempat di tengah diperuntukkan untuk para totua..
“Jangan badorong eeh” Terdengar suara pelan dalam shalat jamaah itu. Tidak lama berselang ada bunyi ‘gedebug’ di lantai saf belakang. “aduh, jangan badorong Reza!” Terdengar suara Rival merintih. Beberapa saat kemudian pak imam sudah terdengar mengucapkan salam. Suasana senyap tanpa suara. Zikir ba’da shalat dipimpin oleh imam seperti biasa. Selang waktu sedikit, jamaah meninggalkan masjid satu persatu. Namun, imam masjid ‘om Rajab’ tetap berada di masjid mengajarkan anak-anak mengaji atau azan bagi yang belum mahir.
Ketiga bocah sekawan nampak sedikit kikuk bergerak dan terlihat agak menjauh dari Om Rajab yang sudah dikeliling anak-anak kampung yang lain. Setelah mengajarkan cara melafalkan beberapa huruf hijaiyyah yang benar kepada beberapa anak, om Rajab memanggil tiga sahabat itu untuk mendekat. Mereka pun merapat dan saling dorong lagi. Dasar anak-anak. “Masya Allah,” ucap om Rajab melihat tingkah mereka.
“Sudah tahu apa kesalahan kalian?” Om Rajab menatap mereka bertiga dengan wajah sedikit dibuat serius. “Iyee…om” Mereka menjawab perlahan dan tersenyum malu karena perilaku mereka tadi saat shalat. “Sekarang om Rajab mau dengar janji kalian bertiga untuk tidak mengulangi lagi bermain di saat shalat.”
Ketiga sahabat ini berjanji untuk shalat dengan tenang tanpa bermain lagi. Namun di wajah Reza nampak rasa bersalah karena ulahnya tadi membuat Fary dan Rival ikut dituduh ribut. Padahal, sebenarnya dialah tadi yang gaduh. Meski tergolong yang paling aktif dan sedikit emosional dalam bergaul, akhirnya Reza meminta maaf kepada kedua temannya itu. Mereka bertiga seperti biasa “baku paka” tangan (istilah anak sekarang tos) tanda persahabatan.
Salam Literasi
Astuti, S.Pd,M.Pd.
SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.






