Kebersamaan Terakhir Tung Widut Sederhana tapi mengena Akhir sebuah perjuangan di bangku kelas Akhir sebuah gelauan nilai dalam selembar kertas Sadar kebahagiaan sementara Sebagai ungkapan rasa Membuka mata untuk masa Selengkapnya
Penulis: Widut
Mengapa Malam
Mengapa Malam Tung Widut Gelap merangkak di ufuk barat Mengurai pekat yang nanti akan datang semakin dalam Tak kan ada rembulan dalam cerita semalam Hanya bintang bertaburan gemerlip tersenyum manja Selengkapnya
Malam Tanpa Cinta
Malam Tanpa Cinta Tung Widut Memuja rembulan yang tak hadir Bintang sembunyi di balik awan Lenggang di bumi lengang di langit Hanya terdengar jengkerik malam Memanggil burung untuk mengepakkan sayap Selengkapnya
Burung Malam
Burung Malam Tung Widut Mengepakkan sayap membelah gelap Sendirian bercuit unjuk diri Salahkah dia saat membanggakan suaranya Mengapa mereka bertanya namanya Saling cerita sejak kedatangannya Merasa risih adanya Tak suka Selengkapnya
Mahkota Sang Penulis
Mahkota Sang Penulis Tung Widut Perlahan kata demi kata ditoreh Pada layar kaca bercahaya Setiap detak jantung mulai merajut Cerita yang dikais dari mata hati Perlahan kata terukir di selembar Selengkapnya
Subuh
Malam Berakhir Sudah Tung Widut Menggema panggilan umat Dari rumah Allah yang tersebar Perlahan mata terbuka menyambutnya Satu persatu umat berdatangan Gemericik air dari kran surau Jalanan lengang kadang terbelah Selengkapnya
Menitik Malam
Menitik Malam Tung Widut Sepi meraja dalam gelam Tak setitik bersinar dilangit gelap Bulanpun tak terlihat Pekat telah menanti di peraduan Layar lap top masih menyala terang Seakan di usir Selengkapnya
Pertemuan Pertama
Pertemuan Pertama Tung Widut Karisma terpancar dari senyuman Di balik masker tertangkap dengan rasa Setiap eja kata santun terdengar Terbersit jiwa santai bak angin pantai mendamaikan Seribu harapan sejuta angan Selengkapnya
Berkerumun
Berkerumun Tung Widut Bersama dalam ruang Saling bercerita tanpa batas Tak ada sekat berarti Gembira bersama menjadi alasan Melupakan sebentar soal pandemi Atau tak pernah ada dan sudah sirna Tanpa Selengkapnya
Secangkir Teh Hangat
Secangkir Teh Manis Tung Widut Malam makin larut Sepi menggelayut bercerita sendirian Diantara gulita menelan cahaya mentari Hitam menghilangkan pandangan kita Kaki terlalu pegal Jalan seharian tanpa jeda Pintu rumah Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- …
- 91
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.












