Menunggu Sampai Garis Batas

Menanti Sampai Garis Batas Tung Widut Sehari matahari menyinari bumi Tentu lelah terasa Angin menerpa dedaunan hijau sampai jauh Sambil membawa berita Di dunia hiruk pikuk nafas berlomba dengan waktu

Rasa yang Terjeda

Rasa yang Terjeda Tung Widut Semua akan berlalu satu persatu Menapaki hari nyata yang tak pernah bisa di tepis Juga berjumpa denganmu Takdir telah ada tanpa terelakkan Tak kusadari pertemuan

Tikungan Menuju Surga

    Dari mana kalian? Nggak usah ikut-ikutan. Kamu tahu, kalau ayam-ayam ini sampai terlambat kamu beri makan bisa berakibat fatal. Bisa mati semua,” kata haji Muhyi. Nada suaranya meninggi.

Tikungan Menuju Surga

(6) Mereka menghampiri. Ditelantarkan kan seorang yang tengkurap orang itu. Dia mengerang kesakitan. Pak Rono mencoba melepas helm yang dipakai. Setiap kali tubuhnya dipegang, orang itu menjerit mengerang kesakitan. Juga

Tikungan Menuju Surga (5)

Brak….”             Terdengar suara benturan yang keras di kejauhan. Selamet dan Pak Rono yang baru saja meletakkan karung pakan ternak pun mematung. Memasang telinga untuk mendengarkan kelanjutan dari suara benturan

Tikungan Menuju Surga(2)

“Met, ibu berangkat dulu,” suara ibunya terdengar diikuti suara pintu tertutup. Kembali angan Slamet tak menentu. Dia ingin memiliki sepeda motor seperti teman- temannya. Ingin sekolah tinggi. Bisa menjadi pegawai.

Cinta Bercahaya

Cinta Bercahaya Tung Widut   Bila dada mulai sesak Rasa yang tak tertahan Rindu telah memenuhi ruang Tak pernah jumpa bersemuka Hanya layar bercahaya yang mempersatukan hati Perlahan kepercayaan mengisi

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.