
Rutinitas kegiatan yang kami lakukan sehari-hari, tidak menimbulkan rasa jenuh. Meski, terkesan monoton dan harus tepat waktu, bahkan tanpa disuruh, kami tidak perlu menunggu perintah dari ayah dan emak.
Barangkali, didikan ayah sedari kecil, membiasakan kami hidup serba teratur, membuat kami enjoy saja melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing.
Pada musim kemarau, tugasku mengisi air di drum yang ditaruh didekat kandang ayam. Setelah air menyentuh sepertiga garis perut drum, barulah aku beranjak “mandi kilat”, bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Air didalam drum digunakan untuk menyiram bibit cengkeh dan kopi yang ditanam didalam polybag.
Ayah memiliki kegemaran luar biasa terhadap tanam-tanaman. Berbagai jenis tanaman ada dipekarangan rumah dan di halaman belakang. Disebelah kiri rumah, ayah menanam bunga krisan, aster, gladiol.
Ketika musim berbunga, warna warni semarak membuatku ingin berlama-lama ditaman penuh warna tersebut. Dengan kreatif, ayah membentuk tanaman teh-tehan hijau menyerupai induk gajah dan anaknya.
Tak jarang turis manca negara yang melintasi kampung kami berhenti sejenak, untuk berfoto-foto dengan latar belakang tanaman yang dirawat ayah tersebut.
Kehadiran turis tersebut disambut dengan baik oleh ayah, tentunya dengan komunikasi memakai bahasa Inggris.
Hal inilah salah satu motivasi buatku untuk menambah perbendaharaan kata serta keberanian untuk membuka komunkasi dengan mereka.
Meski berlepotan tidak sesuai grammatical, aku tak perduli, yang penting dia mengerti apa yang aku katakan, pun sebaliknya.
Salah satu cara yang dilakukan ayah untuk melatih keberanianku adalah menyuruhku menyanyikan lagu berbahasa Inggris diatas bus PMH, ketika aku dan ayah bepergian ke Pematang Siantar.
Usai bernyanyi, aku hanya diberi permen karet. Alasan para bule itu, anak kecil tidak boleh dibiasakan diberi reward berupa uang. Namun aku tak percaya alasan itu, kuanggap mereka pelit. Barangkali mereka enggan berbagi dolar, sebab nilai tukar yang sangat jomplang.
Di bagian belakang rumah, ayah menanam vanili, kopi, kayu manis, dan cengkeh. Walau setengah hati, emak tetap membantu ayah menanam dan merawat berbagai tanaman tersebut.
Logika sederhana emak yang perempuan kampung adalah, tanaman keras tersebut akan susah mendapatkan pasar, susah menjualnya, demikian bahasa praktisnya.
Dan, pendapat emak benar, setelah kubandingkan dengan teori permintaan dan penawaran (The law of demands and supply).
Berbeda pendapat dengan ayah tidak serta merta membuat emak baper. Sebagai seorang perempuan Batak yang menjunjung tinggi norma-norma dalam kehidupan berumah tangga, emak menyampaikan pendapat usai makan malam.
Tak sekalipun aku mendengar emak berbantah-bantahan dengan ayah. Dan,si ayah, yang penuh dengan berbagai kreasi serta menguasai empat jenis bahasa pun juga menyukai seni suara, hanya diam mendengar emak mengeluarkan uneg-unegnya.
Setelah beberapa saat, ayah menyanyikan sebuah lagu berbahasa Jepang, “Taot taonara”, atau lagu lainnya.
Beberapa lagu yang diajarkan ayah, bahkan juga dihafal betul oleh ponakan-ponakanku, putra putri kakakku Rumondang.
Dan, mereka ini juga turut “Menikmati indahnya masa-masa Bersama Oppung”. Ponakanku yang sulung, Apan, harus menghadap Oppung Doli sebelum berangkat ke sekolah. Demikian juga setelah pulang sekolah.
Topi, dasi, dan kemeja sekolah harus rapi, masuk dalam istilahnya. Setelah semuanya persis seperti kemauan si Oppung, maka si cucu diperbolehkan beranjak. Terkesan keras dan sangat disiplin, tapi aku yakin, berkat didikan ayah dan emak, maka aku mampu menghadirkan untaian kalimat demi kalimat seperti saat ini.
Sekadar mengingatkan diri, awalnya tulisan ini kudedikasikan untuk memotivasi rekan-rekan guru yang berada di komunitas wa grup literasi. Aku dan Madame Heddy, diberi amanah untuk mengelola sebuah kegiatan bertajuk “Road Blog To Book Attribute”, kolaborasi antara Ikatan Guru Indonesia dengan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).
Namun ketika tulisanku tumpah-ruah melebihi kapasitas maksimum sebanyak 5 halaman, maka aku berpikir. Kenapa tidak kutulis saja kisah yang kulalui bersama ayah, emak, dan saudara-saudaraku?.
Selain itu, ayah angkatku, Thamrin Dahlan, founder YPTD yang seorang purnawirawan Polisi pernah berkata, “Ananda, tulislah kisah tentang ayah, agar menjadi warisan untuk anak cucu kelak”. Maka, tulisan berjilid-jilid ini ikut-ikutan refocusing (Bukan efek dari pandemi), akan kudedikasikan menjadi sebuah buku, semoga menjadi buku ketujuh karya seorang anak kampung.
Akan halnya tanaman vanilla dibelakang rumah, seingatku tidak membuahkan hasil. Sebab, meskipun berbagai testimoni dibaca ayah lewat majalah Trubus (Majalah khusus dibidang pertanian), tetap saja buah vanilla kami tidak menemukan takdirnya di pasar komoditi seputar Simalungun. Salah satu harapan ayah kandas.
Kemudian, tanaman kayu manis dilereng sebelah kiri pancuran, tidak juga bertambah ukuran diameternya. Sebab, kuperhatikan, tak juga bertambah besar tanaman tersebut meski sudah bertahun-tahun dirawat.
Akhirnya, dengan berat hati, kami memanen sendiri, dengan cara mengikis kulit luarnya secara perlahan, kemudian mengerat dan memisahkan dari batangnya. Selanjutnya dijemur dipanas matahari, berhai-hari hingga kering, kemudian dibawa ayah ke Pematang Siantar.
Tanaman kopi yang terhampar kurang lebih empat hektar, merupakan hasil kerja keras kami anak-anak ayah dan emak. Sejak tanaman setinggi lutut, kami diberi tanggung jawab, satu bedeng seorang.
Usai pulang sekolah, kami bergegas menuju bedeng masing-masing. Ketika mengambil waktu rehat, aku paling suka berada dibawah pohon kaliandra, yang sengaja ditanam untuk menahan erosi dan memberantas tanaman liar.
Bunga-bunga kaliandra berwarna pink sesekali menyentuh rambut lurusku, dan kubiarkan seolah sentuhan alam menyapa jiwa raga. Harum semerbak menjadi aroma terapi, membasuh peluh.
Semasa kami masih berkutat dengan tanaman kopi dilereng dengan kemiringan 30 derajat, emak mencabut batang “Bayon” (Mendong) dari pinggir kolam. Tanaman bayon digunakan sebagai bahan baku untuk menganyam tikar setelah terlebih dahulu dikeringkan, lalu ditumbuk pakai alu diatas aspal depan rumah. Alhasil, tikar yang kami pakai dirumah adalah hasil anyaman emak dan Oppung Boru, dengan kualitas yang sangat kuat.
Kolam yang ada didekat pancuran, berisi ikan emas dan ikan lele. Ada delapan petak kolam yang senantiasa terawat dengan pasokan air bersih dari mata air, yang juga merupakan sumber air bersih bagi keluarga kami.
Kenangan paling berkesan tentang kolam, adalah ketika sebuah helikopter mendarat di lapangan SD satu-satunya yang ada di kampung. Tanpa helipad, maka dengan segala keterbatasan, mendarat jugalah helikopter yang membawa petinggi dari Provinsi. Demi mendengar suara gemuruh dilangit dari capung besi yang terbang rendah, kami semua berlarian menuju SD.
Tak ayal abangku yang sedang berada di kolam ikut juga berlari menuju kerumunan tanpa mengenakan sehelai benangpun.
Suatu siang dipanas terik, ketika sang bola raksasa tepat berada diatas ubun-ubun, aku, Corry, dan adikku Nora bermain-main dipancuran. Tanpa kami sadari, Nora tertidur didekat kolam. Saking asyiknya bermain, kami lupa waktu, hingga emak memanggil, segera kami bergegas.
Anehnya, Nora tidak bisa berdiri, emakpun tiba di pancuran. Melihat kondisi Nora yang jatuh bangun ketika berjalan, emak segera tanggap, segeralah tubuh mungil adikku itu dibopong ke rumah.
Entah berapa lama Nora dirawat karena penyakit yang tidak diketahui ujung pangkalnya itu, akhirnya sembuh juga. Sejak saat itu, kami tidak berani lagi kepancuran pada pukul 12 siang.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.




