MENTERI AGAMA: Ekoteologi Sebagai Diskursus Akademik
Seri ke-5: Ekoteologi di Era Disrupsi Moralitas
Oleh
Tumpal Daniel S
Perspektif Gagasan Menteri Agama
Seperti yang ditegaskan oleh Prof. Dr. KH. Nazarudin Umar, ekoteologi bukan sekadar pelestarian lingkungan, melainkan pemulihan hubungan yang benar: hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta. Di tengah era disrupsi saat ini, tantangan terbesar bukanlah kerusakan fisik alam semata, melainkan runtuhnya fondasi moralitas yang menjadi dasar kita memperlakukan kehidupan.
Disrupsi moralitas terjadi ketika nilai kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap kesucian kehidupan tergeser oleh kepentingan sesaat, individualisme berlebihan, atau kebingungan membedakan mana yang halal dan haram, benar dan salah. Inilah akar utama mengapa krisis ekoteologi terus berlanjut.
Akar Disrupsi Moralitas Terkait Ekoteologi
Berdasarkan prinsip ekoteologi dan nilai moral, ada 3 penyebab utama pergeseran moral:
1. Hilangnya Kesadaran akan “Amanah dan Kesucian”
Alam sering dianggap sekadar “bahan baku” atau objek eksploitasi, bukan pemberian Tuhan yang suci dan amanah untuk dijaga. Muncul anggapan: “yang penting menguntungkan, maka boleh dilakukan”, tanpa mempedulikan batas etika dan aturan ilahi.
2. Pergeseran dari “Manusia sebagai Pelindung” Menjadi “Penguasa Mutlak”
Ajaran semua agama menempatkan manusia sebagai khalifah/pengelola yang bertanggung jawab. Namun disrupsi moral membuat manusia merasa berhak menguasai, merusak, atau mengubah tatanan alam sekehendak hati demi kekuasaan dan kekayaan semata.
3. Hilangnya Rasa Tanggung Jawab dan Keadilan
Muncul sikap: “yang penting saya aman, orang lain atau generasi nanti urusan lain”. Padahal kerusakan yang kita buat hari ini adalah ketidakadilan terhadap makhluk lain, masyarakat yang terdampak, dan anak cucu kita.
Prinsip Ekoteologi untuk Memperbaiki Moralitas
Menjawab tantangan ini, gagasan ekoteologi menegaskan 4 landasan moral yang harus dikembalikan:
✅ Prinsip Keterkaitan (Ukhuwah)
Semua ciptaan saling terhubung. Merusak alam sama dengan menyakiti sesama makhluk dan melanggar kasih sayang yang diperintahkan Tuhan.
✅ Prinsip Batas dan Keseimbangan
Agama mengajarkan segala sesuatu ada ukurannya. Kemajuan teknologi dan ekonomi tidak boleh melampaui batas kewajaran dan merusak keseimbangan ciptaan.
✅ Prinsip Keadilan Ekoteologis
Mengambil hak orang lain, membiarkan kelompok lemah menanggung dampak kerusakan, atau merampas hak generasi mendatang adalah perbuatan yang salah secara agama maupun moral.
✅ Prinsip Akuntabilitas
Setiap tindakan—baik perorangan, perusahaan, maupun kebijakan negara—akan dimintai pertanggungjawaban, baik di hadapan hukum manusia maupun di hadapan Tuhan.
Penerapan Nyata dalam Kehidupan Berbangsa
– Dalam pengelolaan sumber daya alam dan proyek strategis: keuntungan tidak boleh dijadikan satu-satunya tujuan, harus disertai komitmen menjaga kelestarian dan menghormati hak masyarakat hukum adat.
– Dalam pengambilan kebijakan publik: moralitas negara tercermin dari bagaimana kita melindungi yang lemah dan menjaga warisan alam.
– Dalam kehidupan sehari-hari: tidak membuang sampah sembarangan, hemat energi, dan menolak gaya hidup boros adalah bentuk ketaatan dan iman yang nyata.
– Dalam menghadapi berita bohong/hoax lingkungan: menyebarkan kebenaran adalah bagian dari menjaga kepercayaan dan persatuan.
Penutup
Ekoteologi di era disrupsi moralitas pada intinya adalah kembali kepada jati diri manusia: beriman, bertakwa, dan beradab. Jika moralitas kita pulih, maka cara kita memperlakukan alam dan mahluk lainpun akan membaik.
Ekoteologi di Era Disrupsi Moralitas






