Setelah mendapat tugas mendampingi enam orang calon guru penggerak (CGP) Angkatan 3 Kabupaten Subang, saya kemudian membuat grup chat. Lima orang guru SD dan satu orang guru SMA. Inilah uniknya Pendidikan Guru Penggerak. Belajarnya tanpa sekat jenjang.

Ketika coba mencari alamat berdasarkan nama sekolah, saya mengetahui bahwa CGP yang akan saya dampingi berasal dari wilayah Pabuaran (3 orang, yaitu Pak Iyan, Pak Ismail dan Bu Nenden) serta Patokbeusi (3 orang yaitu Pak Jajang, Pak Kakha, dan Pak Rahmat). Satu guru wanita, dan sisanya guru laki-laki.

Lokakarya 0

Karena masih pandemi, jumpa pertama tak bisa dilakukan secara luring. Kami hanya bisa bertatap maya melalui aplikasi meeting. Bertemu dengan para kepala sekolah.

Angkatan 3 Pendidikan Guru Penggerak (PGP) masih menggunakan sistem belajar 9 bulan. Total ada 10 kali lokakarya (Lokakarya 0-9) dan 9 kali pendampingan individu (PI-0 s.d. PI-8).

Meski begitu, persiapan dengan sesama pengajar praktik (PP) se-Kabupaten Subang dilaksanakan massif baik daring maupun luring (dengan tetap menjaga protokol kesehatan).

Para pengajar praktik menyiapkan link kelas, link breakout room (BOR), jamboard, presensi online, dsb. Bahkan kami melakukan simulasi lokakarya daring demi pelaksanaan yang optimal.

Walau demikian, hambatan masih saja terjadi. Koneksi yang tidak stabil menjadi tantangan yang tak terelakkan saat mengadakan kegiatan daring. Syukurlah seluruh CGP dapat berpartisipasi aktif dalam Lokakarya Perdana yang diselenggarakan pada 7 Agustus 2021 tersebut.

Pendampingan Individu Ke-0

Selain memfasilitasi lokakarya, PP juga memiliki tugas untuk melaksanakan pendampingan individu (PI) terhadap CGP. Pada pendampingan individu, PP berkunjung ke sekolah-sekolah CGP untuk berbagi praktik baik, melakukan coaching, mendiskusikan hal-hal terkait proses pembelajaran CGP, dsb.

PI umumnya dilaksanakan seminggu atau dua minggu sebelum lokakarya berikutnya. Syukurlah saya bisa mengendarai motor. Jarang sekali (bahkan mungkin tak ada) kendaraan umum yang bisa mencapai sekolah-sekolah tempat CGP yang akan saya damping.

Tapi itu bukan masalah. Di PI-0 inilah, untuk kali pertama saya bertemu dengan CGP dan kepala sekolahnya. Lagi, saya bersyukur karena proses perkenalan dan perizinan berjalan dengan baik. Alhamdulillah.

Dari kunjungan pertama ini pula, saya akhirnya tahu betapa hebat guru-guru yang akan saya dampingi. Ada yang jadi Google Master Trainer, ada yang jadi sekretaris PGRI kecamatan, ada yang wakasek, ada yang aktif di berbagai organisasi. Wahh … penuh decak kagum.

Bismillah … sejak itu saya selalu berdoa semoga bisa mendampingi dengan baik hingga Ibu Bapak CGP ini lulus menjadi Guru Penggerak.

Tinggalkan Balasan